Revitalisasi SMPN 2 Takengon Rampung, Musalanya Kini jadi Tempat Nyaman Beribadah

DIALEKSIS.COM | Takengon - Suasana berbeda terlihat di SMP Negeri 2 Takengon, Aceh Tengah. Di tengah aktivitas belajar mengajar, siswa kini memiliki musala yang lebih layak setelah fasilitas tersebut direvitalisasi melalui program pemulihan sarana pendidikan terdampak bencana.

Selasa (27/10/2026), sejumlah siswa terlihat melaksanakan salat Zuhur berjamaah di musala yang sebelumnya rusak berat akibat bencana. Bangunan yang telah selesai dikerjakan itu kini kembali berfungsi sebagai ruang ibadah bagi warga sekolah.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan pendidikan di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kasatgas PRR) Pascabencana Sumatra, sebelumnya menegaskan keberlanjutan pembelajaran menjadi salah satu capaian penting dalam pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana.

Hingga 22 September 2026, sebanyak 4.922 sekolah terdampak di tiga provinsi tersebut telah kembali melaksanakan pembelajaran. Meski ribuan sekolah terdampak, proses belajar mengajar telah kembali berjalan di seluruh sekolah terdampak, dengan sebagian kecil masih menggunakan tenda karena keterbatasan ruang.

Tito menyebut percepatan rehabilitasi tetap diperlukan karena kondisi setiap sekolah berbeda. Faktor geografis, kerusakan akses, ketersediaan material, hingga potensi bencana susulan turut memengaruhi kecepatan pembangunan.

Empat Fasilitas Dibangun

SMPN 2 Takengon menjadi salah satu penerima Program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026. Sekolah yang berada di kawasan pusat Kota Takengon itu menerima anggaran lebih dari Rp723 juta dari APBN Tahun Anggaran 2026.

Pekerjaan dilaksanakan sejak 2 Mei hingga 13 Agustus 2026. Empat item pekerjaan telah selesai, yakni satu unit musala, satu tempat latihan sanggar, satu perpustakaan, dan satu unit toilet.

Meski pekerjaan fisik utama rampung, proses serah terima belum dilaksanakan. Sejumlah tahapan administrasi dan pengadaan perlengkapan, khususnya untuk perpustakaan dan laboratorium IPA, masih harus diselesaikan.

SMPN 2 Takengon termasuk sekolah di wilayah terdampak bencana sehingga memenuhi kriteria penerima program. Sebelum pekerjaan dimulai, pihak sekolah juga melakukan koordinasi, termasuk ekspose dengan pihak kejaksaan sebagai bagian dari pelaksanaan program revitalisasi.

Musala yang Kembali Hidup

Bagi siswa, perubahan tersebut bukan sekadar soal bangunan baru. Musala yang sebelumnya rusak berat kini kembali menjadi ruang bagi siswa menjalankan kegiatan keagamaan. Salat Zuhur berjamaah menjadi salah satu aktivitas yang langsung memanfaatkan hasil revitalisasi.

Muhammad Ridho, yang akrab disapa Polo, mengaku mengetahui adanya pembangunan revitalisasi di sekolahnya. Ketika ditanya apakah dirinya senang dengan pembangunan tersebut, Polo menjawab singkat. 

“Saya senang sekali dan sangat suka, Pak.”

Ia juga menyampaikan pesan kepada Presiden atas bantuan yang diterima sekolahnya. Bagi siswa, perubahan fisik sekolah tidak berhenti pada bangunan yang terlihat lebih baru, tetapi dirasakan melalui ruang yang kini lebih layak digunakan untuk belajar, beribadah, dan berkegiatan.

Ruang Kreativitas dan Pembelajaran

Selain musala, ruang latihan sanggar menjadi fasilitas lain yang diharapkan memperkuat kegiatan siswa. Ruangan tersebut akan digunakan untuk mengembangkan kreativitas dan kesenian lokal, seperti didong, tari guel, serta aktivitas seni lainnya. Perpustakaan dan toilet juga menjadi bagian dari revitalisasi untuk melengkapi kebutuhan dasar warga sekolah.

Pembenahan fasilitas semakin penting karena SMPN 2 Takengon berada berdekatan dengan SMP Negeri 4 Takengon. Di kawasan pendidikan yang cukup padat itu, kelayakan fasilitas menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman.

Aceh Catat Progres 93,58 Persen

Revitalisasi SMPN 2 Takengon merupakan bagian kecil dari agenda pemulihan pendidikan pascabencana yang cakupannya lebih luas.

Berdasarkan laporan harian Satgas PRR per 19 Oktober 2026, penanganan 260 sekolah rusak berat dan rusak total yang dilakukan bersama TNI-AD melalui mekanisme LAPJUSIK (Laporan Justifikasi Fisik) telah mencapai progres fisik keseluruhan 90,13 persen.

Aceh menjadi wilayah dengan cakupan terbesar, yakni 188 sekolah dengan progres 93,58 persen. Sumatera Utara mencakup 51 sekolah dengan progres 89,96 persen, sedangkan Sumatera Barat 20 sekolah dengan progres 92,09 persen.

Secara keseluruhan, program revitalisasi 2026 mencakup 3.132 satuan pendidikan. Sebanyak 593 sekolah telah menyelesaikan pekerjaan fisik 100 persen, 673 sekolah berada pada progres 76-99 persen, 1.208 sekolah pada progres 51-75 persen, 265 sekolah pada progres 26-50 persen, dan 393 sekolah berada pada progres 0-22 persen.

Dari 3.119 sekolah yang telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS), sebanyak 2.852 sekolah dilaksanakan melalui swakelola sekolah. Sementara 267 sekolah lainnya dilaksanakan melalui kemitraan bersama TNI-AD, terutama sekolah dengan prioritas kerusakan berat dan relokasi.

Renduk PRRP Sumatra: Memulihkan Lebih dari Sekadar Bangunan

Pemulihan pendidikan pascabencana dirancang tidak hanya untuk mengembalikan bangunan yang rusak ke kondisi sebelumnya.

Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra 2026-2028, mengusung prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable. Prinsip tersebut menempatkan pemulihan sebagai momentum untuk membangun kembali wilayah dengan kualitas, keamanan, dan ketangguhan yang lebih baik.

Dalam bidang pendidikan, strategi mencakup revitalisasi satuan pendidikan dengan berbagai tingkat kerusakan, dukungan sarana pembelajaran, hingga penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Karena itu, musala baru di SMPN 2 Takengon tidak hanya dapat dilihat sebagai bangunan yang selesai dikerjakan. Di dalamnya, siswa kembali berkumpul untuk salat Zuhur. Di ruang sanggar, mereka akan memiliki tempat untuk berlatih dan mengenal kesenian lokal. Sementara lingkungan sekolah perlahan kembali tertata agar proses belajar berlangsung dengan fasilitas yang lebih layak.

Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan tidak hanya tercermin dari berapa banyak bangunan yang selesai dibangun, tetapi juga dari seberapa cepat fasilitas tersebut kembali hidup dan digunakan oleh mereka yang menjadi alasan utama pembangunan itu dilakukan: para siswa. [*]

Share berita ini

dialeksis.com