DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Harapan untuk kembali menghidupkan usaha tambak pascabanjir yang melanda pada November 2025, mulai tumbuh di Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Aceh.
Sebanyak 1.186.500 ekor benur udang windu disalurkan kepada dua kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) sebagai dukungan pemerintah untuk memulihkan mata pencaharian masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Bantuan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut, disalurkan kepada Pokdakan Makmur Tambak sebanyak 700.000 ekor dan Pokdakan Bungong Rabo sebanyak 486.500 ekor. Penyaluran kepada kedua kelompok tercatat telah selesai.
Bagi masyarakat Ujong Pacu, bantuan itu bukan sekadar bibit untuk memulai kembali produksi. Melainkan peluang untuk menghidupkan sumber penghasilan yang sempat terganggu akibat banjir.
Geuchik Ujong Pacu, M. Nasir, mengatakan sebelum bencana, usaha tambak menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Sekitar 70 kepala keluarga (KK) di gampong tersebut menggantungkan penghidupan sebagai petambak.
“Sebelum bencana banjir, alhamdulillah kondisinya lumayan normal. Ada rezeki dari tambak,” ujar Nasir.
Namun, banjir mengubah kondisi tersebut. Hampir seluruh tambak kemasukan lumpur. Sebagian petakan bahkan mengalami pendangkalan sehingga membutuhkan pembersihan dan perbaikan sebelum kembali dimanfaatkan secara optimal.
Bantuan Benur Udang Windu Jadi Modal untuk Bangkit
Nasir mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh melalui bantuan bibit dan pakan. Menurutnya, bantuan tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk kembali menjalankan usaha secara bertahap, meskipun pemulihan tambak masih membutuhkan pekerjaan lanjutan.
“Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh yang telah membantu mensejahterakan dan membangkitkan perekonomian masyarakat Desa Ujong Pacu yang berusaha di tambak,” katanya.
Ia berharap bantuan yang diterima dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Namun, sejumlah tambak masih harus direnovasi dan dibersihkan dari endapan lumpur.
“Insyaallah, dengan izin Allah, bisa secara perlahan, walaupun belum maksimal. Ada tambak yang memang harus direnovasi kembali. Lumpur yang ada harus dibersihkan,” ujarnya.
Negara Hadir melalui Pemulihan Terpadu
Dukungan kepada petambak Ujong Pacu menjadi bagian dari upaya lebih luas pemerintah dalam memulihkan sektor kelautan dan perikanan pascabencana Sumatra.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi atau Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan pemulihan melibatkan 33 kementerian/lembaga. Sebanyak 29 diantaranya telah memperoleh alokasi anggaran 2026 dengan total hampir Rp30 triliun.
Penanganan sektor kelautan dan perikanan mencakup rehabilitasi tambak, kolam, keramba, dan pelabuhan, serta bantuan mesin kapal, alat tangkap, sarana pengolahan, rumah produksi garam, hingga ekskavator.
Ia juga meneruskan permintaan kepala daerah agar sungai dengan sedimentasi tinggi segera ditangani. Pendangkalan mengurangi daya tampung dan meningkatkan risiko luapan ketika hujan lebat.
“Jadi, ada semacam skala super prioritas untuk normalisasi sungai,” ujarnya.
Ribuan Hektare Tambak Kembali Beroperasi
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan pemulihan usaha budidaya pascabencana dilakukan bertahap selama 2026-2028. Banjir pada akhir 2025 berdampak terhadap 25.386 pembudidaya ikan serta merusak 35.751 hektare tambak dan kolam beserta prasarana pendukungnya di tiga provinsi.
Pada 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan 15.446 hektare tambak dan kolam kembali beroperasi. Untuk mendukung pemulihan sektor kelautan dan perikanan, KKP menyediakan anggaran Rp371,8 miliar, terdiri atas Rp113,8 miliar anggaran belanja tambahan dan Rp258 miliar hasil penyesuaian anggaran.
“Banyak tambak tertimbun lumpur dan material banjir sehingga sulit dipulihkan hanya dengan tenaga manusia. Karena itu, KKP telah mengirimkan bantuan sebanyak 12 unit ekskavator,” ujar Trenggono saat konferensi pers bersama Kasatgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, Rabu (21/10/2026).
Delapan unit ekskavator ditempatkan di Aceh, sedangkan Sumatera Utara dan Sumatera Barat masing-masing memperoleh dua unit. Alat berat tersebut digunakan untuk mempercepat pembersihan serta perbaikan saluran tambak dan kolam.
Hingga perkembangan yang disampaikan KKP, sekitar 5.800 hektare tambak dan kolam telah beroperasi kembali di 27 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, 5.707 hektare berada di delapan kabupaten/kota di Aceh. Sebanyak 5.706 petambak juga telah kembali bekerja.
Pemulihan Berlanjut hingga 2028
Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana atau Renduk PRRP Sumatera 2026–2028, pemulihan dilakukan melalui rehabilitasi prasarana produksi, perbaikan tambak, pemulihan akses jalan produksi, serta pembenahan sistem tata air dan saluran pendukung.
Pemerintah juga merencanakan bantuan sarana produksi berupa benih, pakan, mesin, kapal, alat tangkap, hingga peralatan pengolahan dan penyimpanan hasil perikanan. Dukungan akses permodalan, skema padat karya, perlindungan usaha, serta pendampingan penyuluh perikanan turut menjadi bagian dari strategi pemulihan.
Sementara itu, pada tahap rekonstruksi, pemerintah mengarahkan penataan kembali kawasan produksi perikanan budidaya agar lebih adaptif terhadap risiko bencana dan perubahan lingkungan. Penguatan infrastruktur serta integrasi sistem produksi, pengolahan, dan distribusi juga menjadi perhatian.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memulihkan fasilitas tambak yang rusak, tetapi juga mengembalikan kegiatan produksi dan sumber penghidupan masyarakat pembudidaya ikan di wilayah terdampak.
Bagi sekitar 70 keluarga petambak di Ujong Pacu, bantuan lebih dari satu juta benur menjadi langkah awal untuk kembali produktif. Pemulihan tambak, perbaikan saluran, dan dukungan berkelanjutan diharapkan dapat berjalan beriringan agar masyarakat tidak hanya kembali bekerja, tetapi juga mampu membangun usaha yang lebih kuat setelah bencana. [*]
Share berita ini