DIALEKSIS.COM | Lhoksukon - Upaya pemerintah memulihkan sektor pertanian pascabencana banjir di Aceh pada November 2025, berbuah manis. Di Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 85 hektare dari total 105 hektare persawahan telah kembali terairi setelah berbulan-bulan terbengkalai rusak. Hasil pemulihan juga telah dirasakan dengan memasuki masa panen.
Pemulihan dilakukan melalui pembenahan jaringan irigasi dan pembersihan saluran yang terdampak endapan lumpur. Ketersediaan air kembali membuka peluang bagi petani untuk mengolah lahan, melanjutkan musim tanam, dan memulihkan sumber penghidupan keluarga.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Nasional Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana perlu memprioritaskan infrastruktur yang langsung menopang kehidupan dan mata pencaharian masyarakat, termasuk persawahan dan jaringan irigasi.
“Penanganan ini mendesak karena berkaitan langsung dengan sawah dan tambak milik warga,” kata Tito.
Langkah di Ulee Madon menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pertanian di Aceh, terutama pada lahan persawahan yang terdampak bencana hidrometeorologi.
57.171 Hektare Sawah Terdampak Bencana di Aceh
Berdasarkan Laporan Harian Satgas PRR per 22 Oktober 2026, luas persawahan terdampak bencana di Aceh mencapai 57.171 hektare yang tersebar di 19 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27.483 hektare masuk kategori rusak ringan, 13.425 hektare rusak sedang, dan 16.283 hektare rusak berat.
Progres pemulihan tercatat seluas 31.464 hektare. Dari target tersebut, 28.706 hektare atau 91,23 persen telah memasuki proses konstruksi.
Arah pemulihan juga tercantum dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra, mencakup rehabilitasi sawah rusak ringan dan sedang, pemulihan jaringan irigasi, penyediaan benih dan sarana produksi, serta pendampingan teknis bagi petani dan kelompok tani.
Selain perbaikan infrastruktur, rencana penanganan turut mencakup pelibatan petani melalui kegiatan padat karya, dukungan asuransi pertanian, penguatan penyuluhan, serta penataan kawasan pertanian berdasarkan risiko bencana. Upaya tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat kembali berproduksi sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian terhadap bencana.
Enam Bulan Tak Menggarap Sawah
Dampak pemulihan mulai dirasakan petani Ulee Madon, termasuk Azmi Syafruddin (51). Ia mengaku tidak dapat menggarap sawah selama kurang lebih enam bulan setelah banjir melanda desanya.
Endapan lumpur yang menutupi persawahan dan gangguan pada saluran irigasi membuat kegiatan tanam terhenti. Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.
“Waktu pertama kali habis banjir kemarin, kami tidak bisa ke sawah karena banyak lumpur,” ujar Azmi.
Menurut dia, kesempatan untuk kembali mengolah lahan terbuka setelah saluran irigasi dibersihkan. Pengairan ke sawah yang dikelolanya, seluas sekitar setengah hektare, kini telah kembali normal.
“Kemudian setelah itu ada bantuan dari pemerintah pusat, membantu kami membersihkan saluran-saluran irigasi sehingga kami bisa kembali turun ke sawah,” katanya.
Azmi menyebut lahan yang dikelolanya biasanya menghasilkan sedikitnya tiga ton gabah dalam sekali panen. Kembalinya aktivitas panen menjadi perkembangan penting bagi petani setelah berbulan-bulan menghadapi kendala akibat banjir.
Pemulihan Berlanjut hingga Seluruh Lahan Produktif
Meski sebagian besar persawahan Ulee Madon telah kembali terairi, masih terdapat lahan yang belum dapat ditanami karena endapan lumpur dan persoalan saluran pengairan. Karena itu, penanganan lanjutan tetap dibutuhkan agar pemulihan dapat menjangkau seluruh lahan yang terdampak.
Perbaikan jaringan irigasi, pembersihan lahan, serta pemeliharaan saluran menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan pertanian. Ketersediaan air yang memadai diharapkan membantu petani menjalankan musim tanam berikutnya dan mengurangi risiko terhentinya kembali aktivitas pertanian.
Bagi Azmi dan petani lainnya, pulihnya pengairan tidak hanya menandai perbaikan infrastruktur, tetapi juga membuka kembali kesempatan memperoleh pendapatan dari hasil sawah.
Pemulihan persawahan di Ulee Madon memperlihatkan pentingnya sinergi penanganan pascabencana dengan kebutuhan langsung masyarakat. Dengan melanjutkan rehabilitasi lahan dan memperkuat jaringan pengairan, upaya pemulihan diharapkan dapat mendukung kebangkitan ekonomi petani sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di Aceh.[*]
Share berita ini