DIALEKSIS.COM | Lhoksukon - Pemulihan sekolah terdampak banjir di Provinsi Aceh terus berjalan. Hingga minggu kedua Oktober 2026, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) dalam laporannya per 14 Oktober 2026, progres rehabilitasi sekolah rusak berat dan rusak total dalam penanganan Kodam Iskandar Muda mencapai 93,44 persen.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan fasilitas pendidikan agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman setelah bencana.
Data Satgas PRR juga menunjukkan pencapaian sejumlah sekolah di Kabupaten Aceh Utara yang telah menyelesaikan pekerjaan rehabilitasi hingga 100 persen. Di antaranya SD Negeri 1 Baktiya Barat, SD Negeri 1 Tanah Luas, SD Negeri 11 Tanah Luas, SD Negeri 13 Tanah Luas, SD Negeri 10 Seunuddon, SD Negeri 2 Seunuddon, serta SD Negeri 3 dan SD Negeri 5 Syamtalira Aron.
Beberapa sekolah lainnya juga mendekati penyelesaian. TK Satu Atap SD Negeri 6 Sawang tercatat mencapai progres 98 persen, sedangkan TK Satu Atap SD Negeri 11 Tanah Jambo Aye dan SD Negeri 7 Syamtalira Aron masing-masing mencapai 99 persen.
Di tingkat nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan bahwa 4.922 satuan pendidikan terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah kembali melaksanakan pembelajaran. Hingga September 2026, sebanyak 3.132 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama revitalisasi dengan nilai bantuan mencapai Rp3,03 triliun. Dari jumlah tersebut, 562 sekolah telah menyelesaikan pembangunan fisik sepenuhnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan, tetapi juga pada keberlanjutan kegiatan belajar mengajar dan pemenuhan kebutuhan siswa.
Kembali Belajar Setelah Sekolah Terendam Banjir
Di SMP Negeri 1 Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, pemulihan fasilitas sekolah mulai mengembalikan kenyamanan belajar yang sempat hilang akibat banjir pada November 2025. Siswa kini kembali mengikuti pelajaran dengan meja, kursi, dan buku yang tersedia setelah sebelumnya harus duduk di lantai dan mengandalkan penjelasan guru tanpa buku paket.
Sekolah yang berada di Desa Cot Seurani, Kecamatan Muara Batu, itu mengalami kerusakan cukup parah. Pagar belakang sekolah jebol akibat banjir, dengan ketinggian air mendekati dua meter.
Arus banjir merusak sekaligus membawa sejumlah perlengkapan yang selama ini menunjang kegiatan belajar. Ruang kelas dipenuhi lumpur, sedangkan meja, kursi, buku, dan komputer tidak lagi dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Faisal Kamal, siswa kelas IX A berusia 14 tahun, masih mengingat kondisi sekolah ketika pertama kali kembali dibuka setelah bencana. Lantai harus dibersihkan, disapu, dan dipel sebelum siswa dapat mengikuti pelajaran.
Dalam keterbatasan tersebut, guru menyampaikan materi secara lisan. Faisal dan teman-temannya belum bisa menggunakan buku paket untuk membaca atau mencari penjelasan tambahan secara mandiri.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali bersekolah.
“Ya, pastinya. Tetap semangat belajar walaupun keadaan terbatas,” ujar Faisal.
Sekitar sebulan tidak bersekolah membuat Faisal kehilangan rutinitas belajar bersama teman-temannya. Karena itu, kembalinya perlengkapan kelas menjadi perubahan yang berarti. Ia merasa lebih nyaman mengikuti pelajaran dan bersyukur atas bantuan yang mendukung pemulihan sekolahnya.
Senada dengan Faisal, siswa Juratul Ulfa, merasakan perubahan setelah sekolah mulai pulih. Pada awal masuk kembali, ia sempat khawatir tergelincir karena jalan menuju sekolah masih berlumpur. Sisa material banjir dan perabot yang rusak turut membuat lingkungan sekolah belum sepenuhnya nyaman.
Selama tidak bersekolah, ia merindukan teman, guru, dan kesempatan belajar bersama di kelas. Setelah fasilitas diperbaiki, ia mulai merasakan suasana belajar yang lebih nyaman dengan kursi yang layak digunakan. Perpustakaan menjadi salah satu ruangan yang paling disukainya.
“Semakin semangat belajar dan lebih giat,” kata Juratul.Ia juga berharap sekolahnya makin baik dan bagus serta menjadi nomor satu kembali.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Muara Batu, Salahuddin, menyampaikan program revitalisasi sekolah ini tidak hanya mengembalikan infrastruktur fisik, tapi turut memulihkan semangat untuk kembali belajar
“Alhamdulillah, program revitalisasi ini membuat sekolah kami lebih indah dan nyaman. Suasana belajar yang lebih baik turut meningkatkan semangat dan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran,” ujar Salahuddin.
Dirinya mewakili pihak sekolah pun mengucapkan terimakasih kepada Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Utara atas dukungan melalui program revitalisasi sekolah.
Pengalaman di SMP Negeri 1 Muara Batu memperlihatkan bahwa pemulihan sekolah memiliki arti lebih luas bagi siswa. Kembalinya fasilitas belajar turut membuka kesempatan bagi mereka untuk membangun kembali rutinitas, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mengejar ketertinggalan pelajaran setelah bencana.
Pemerintah Pusat dan Daerah Dorong Percepatan Pemulihan
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Jamaluddin, menjelaskan bahwa revitalisasi dilakukan secara bertahap dengan mencakup sekolah negeri maupun swasta yang terdampak banjir. Dukungan pemerintah pusat diperlukan agar kebutuhan perbaikan tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan keuangan daerah.
Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil juga menyampaikan bahwa komunikasi dengan Satgas PRR Sumatera membantu mendorong pemulihan di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Ia berharap dukungan pemerintah pusat dapat terus berlanjut hingga seluruh fasilitas pendidikan yang rusak mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.
Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Kemendikdasmen yang menempatkan keberlanjutan pembelajaran dan perbaikan sarana pendidikan sebagai bagian penting dari pemulihan pascabencana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pemenuhan hak belajar siswa menjadi prioritas pemerintah. Menurutnya, pemulihan perlu memastikan peserta didik dapat belajar di ruang yang lebih layak, sembari mempercepat revitalisasi dan penanganan sekolah yang membutuhkan relokasi.
“Tidak boleh ada anak Indonesia yang kehilangan hak belajarnya karena terdampak bencana,” ujar Abdul Mu’ti dalam penjelasan mengenai pemulihan pendidikan pascabencana Sumatra.
Ia juga menekankan pentingnya pemulihan fasilitas pendidikan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal.
“Sekolah harus kembali menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman. Karena itu, revitalisasi tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga memastikan keberlanjutan layanan pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan keberlanjutan proses belajar mengajar menjadi salah satu capaian penting dalam pemulihan pendidikan pascabencana.
“Meski jumlah sekolah terdampak mencapai ribuan, proses pembelajaran telah kembali berjalan di seluruh sekolah terdampak,” tuturnya saat
Rapat Koordinasi Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumut, Sumbar di Bidang Pendidikan yang berlangsung di Posko Satgas PRR, Jakarta, pada 23 Spetember 2026.
Tito mengatakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi tetap perlu dilakukan mengingat masih terdapat sejumlah sekolah yang menghadapi kendala pembangunan. Perbedaan kondisi geografis, kerusakan akses, ketersediaan material, hingga bencana susulan turut mempengaruhi kecepatan pemulihan di setiap daerah.
Untuk mempercepat penyelesaian sekolah tersebut, Tito meminta adanya pendampingan intensif. Satgas PRR juga akan mengkoordinasikan berbagai kendala yang masih dihadapi pemerintah daerah (Pemda) bersama kementerian/lembaga terkait.
Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, pemulihan sekolah di Aceh diharapkan terus berlanjut hingga seluruh fasilitas yang rusak dapat kembali digunakan. Dengan demikian, siswa tidak hanya dapat kembali ke ruang kelas, tetapi juga memperoleh lingkungan belajar yang layak untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita. [tsp]
Share berita ini