DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) resmi menunjuk Bustami SE MSi sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh menggantikan pejabat sebelumnya dr H Taqwallah Mkes.
Penunjukan Bustami tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 104/TPA tahun 2022 tentang Pengangkatan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di Lingkungan Pemerintah Provinsi Aceh. Surat Keppres tersebut ditandatangani Jokowi per tanggal 29 Agustus 2022.
Melalui Litbang Dialeksis.com, kilas balik Taqwallah sebagai seorang pejabat telah melanglang buana di banyak jabatan penting. Di jabatan Sekda Aceh, Taqwallah dilantik sebagai Sekda pada tanggal 1 Agustus 2019 menggantikan Dermawan yang memasuki masa purna bhakti.
Taqwallah merupakan seorang anak guru yang lahir dan dibesarkan di Lubuk, Aceh Besar. Ayahnya bernama H Razali Cut Lani yang adalah seorang tokoh pendidikan Aceh.
Meski berlatar profesi sebagai ahli medis, Taqwallah memulai karier birokrat sejak tahun 1995. Di tahun itu, dia ditunjuk sebagai Kepala Pukesmas di Seunuddon Aceh Utara. Selang lima tahun kemudian, Taqwallah dipindahkan jadi Kepala Puskesmas Samalanga.
Karena dianggap mampu dan berprestasi dalam mengemban tugasnya, pada tanggal 1 November 2000, Taqwallah kemudian diangkat menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan di Simeulue.
Setelahnya, pada tanggal 2003, Taqwallah ditarik untuk menjabat pada posisi Kepala Kantor Pelayanan RSU Simeulue.
Titik Balik Karier Taqwallah di Level Provinsi
Peristiwa gempa dan tsunami yang menerjang Provinsi Aeh pada tanggal 26 Desember 2004 menjadi titik balik karier Taqwallah di level provinsi.
Kinerja Taqwallah menarik perhatian Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) NAD-Nias, Kuntoro Mangkusubroto. Kuntoro kemudian menunjuk Taqwallah sebagai Kepala Perwakilan Wilayah IV BRR NAD-Nias pada 5 Juli 2006.
Sukses di jabatan tersebut, putra dari pasangan H Razali Cut Lani dan Hj Rohani Harun (almarhumah) ini ditunjuk untuk memimpin tim yang lebih besar, yakni sebagai Wakil Deputi bidang Operasi BRR NAD-Nias.
Setelah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) bubar, Taqwallah tetap menjadi salah satu leader di Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh-Nias (BKRA). Di sana, dia ditempatkan sebagai Kepala bidang Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan.
Selang setahun berlalu, pada tanggal 4 Januari 2010, Taqwallah kemudian menjadi Staf Ahli Gubernur Aceh bidang Pembangunan dan Hubungan Luar Negeri di bawah kepemimpinan Irwandi Yusuf.
Lalu pada tahun 2012 dia diangkat sebagai Asisten Ahli Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP). Setahun berada di Jakarta, pada 2013 Taqwallah kembali dipulangkan ke Aceh, untuk mengisi jabatan sebagai Kepala Dinas Kesehatan Aceh.
Setelah itu, pada tahun 2014 kembali menjadi Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Hubungan Luar Negeri dan juga tercatat sebagai Staf Pengajar Luar Biasa pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
Kemudian pada tahun 2015, di bawah kepemimpinan dr Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, dia diangkat menjadi Penasihat Khusus Gubernur Aceh.
Karir Taqwallah saat itu, juga mengisi sejumlah jabatan penting di Aceh, mulai dari Tenaga Ahli Bidang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Kementerian ESDM pada 2015, dan hingga menjadi Kepala Unit Percepatan dan Pengendalian Pembangunan Infrastruktur Kementerian ESDM dua tahun sesudahnya.
Kemudian pada tahun 2017 hingga 2018, di bawah kemimpinan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah, dia menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh.
Hingga terakhir menjabat sebagai Sekretaris Daerah Aceh, dan digantikan dengan Bustami.
Prestasi Taqwallah
Berlatar belakang sebagai seorang medis, Taqwallah pernah dianugerahi penghargaan berupa Dokter Teladan pada tahun 1996.
Taqwallah juga dihormati sebagai PNS berprestasi dengan kerja luar biasa. Dirinya dianugerahi penghargaan tersebut pada tahun 2010.
Taqwallah juga masuk ke dalam daftar inovator TOP 9 inovasi pelayanan publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (Kemenpan RB) tahun 2014.
Bersatu dalam Karya Melalui Goresan Tinta
Sejauh penelusuran reporter Dialeksis.com, Taqwallah pernah menerbitkan buku.
Buku pertamanya ialah Panduan Muatan Lokal Gebrak Malaria Kabupaten Simeulue untuk SD/MIN, SMP/MTsN, dan SMA/MAN.
Buku kedua diberi nama Tommy si Agen Taktuk dengan nama Taqwallah sebagai inisiator.(Akh)
Share berita ini