DIALEKSIS.COM | Aceh - Pengalaman lintas negara, latar belakang akademik, dan rekam jejak di sejumlah lembaga internasional menjadi bekal Muhammad Riza Nurdin setelah dipercaya menjabat Direktur Komersial PT Pembangunan Aceh (PEMA) Perseroda. Ia kini mendapat mandat untuk ikut mendorong pengembangan bisnis perusahaan daerah milik Pemerintah Aceh tersebut.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf, selaku pemegang saham pengendali PT PEMA, menetapkan Muhammad Riza Nurdin sebagai Direktur Komersial terhitung mulai Senin, 19 Oktober 2026. Ia mengisi posisi yang sebelumnya dijabat Faisal Ilyas, yang diangkat sebagai Direktur Utama PT PEMA pada 10 Agustus 2026.
Pada waktu yang sama, Muzakir Manaf juga menetapkan Lukman Age sebagai Direktur Umum dan Keuangan. Penataan jajaran direksi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan perusahaan sekaligus mendorong pengembangan bisnis PEMA ke depan.
Nama Muhammad Riza Nurdin sendiri bukan sosok asing dalam dinamika politik Aceh. Pada Pilkada 2024, ia tercatat sebagai Dewan Pakar Badan Pemenangan Aceh pasangan Muzakir Manaf - Fadhlullah atau Mualem - Dek Fadh. Ia juga dikenal memiliki kedekatan dengan Ustaz Abdul Somad (UAS).
Namun, di luar keterlibatannya dalam lingkaran politik, Riza memiliki perjalanan profesional dengan cakupan yang melampaui batas daerah. Pengalaman di bidang evaluasi program, penelitian, manajemen risiko, serta rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi bagian dari perjalanan karier yang kini dibawanya ke lingkungan badan usaha milik daerah.
Jejak Profesional dari Aceh ke Dunia Internasional
Berdasarkan rekam jejak yang dihimpun redaksi, Riza memiliki pengalaman profesional di sejumlah negara, antara lain Australia, Jepang, Jerman, Malaysia, Mesir, Arab Saudi, dan Singapura.
Ia pernah menjadi anggota Komite Manajemen Risiko di BUMN PT Semen Baturaja Tbk pada periode 2025 - 2026. Pengalaman tersebut memberinya persinggungan dengan aspek pengelolaan risiko perusahaan, bidang yang penting dalam pengambilan keputusan bisnis dan pengelolaan korporasi.
Di sektor internasional, Riza memiliki pengalaman sebagai konsultan evaluasi untuk sejumlah organisasi dan lembaga, termasuk International Organization for Migration (IOM), United Nations Development Programme (UNDP), UN Women, United Nations Environment Programme (UNEP), Save the Children, serta Japanese Red Cross.
Pengalaman lainnya berkaitan dengan kegiatan penelitian dan kajian bersama lembaga maupun institusi akademik, di antaranya International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Ritsumeikan University di Jepang, Konrad Adenauer Stiftung (KAS) di Singapura pada periode 2021 - 2023, serta Universiti Malaya di Kuala Lumpur pada periode 2019 - 2020.
Riza juga pernah bekerja sebagai staf senior bidang monitoring dan evaluasi untuk American Red Cross dan British Red Cross dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami. Pengalaman tersebut memberinya perspektif mengenai pelaksanaan program, pengawasan, evaluasi, serta koordinasi lintas lembaga dalam situasi pemulihan pascabencana.
Sebelum itu, ia pernah menjadi asisten pribadi Direktur Eksekutif Delta Express Freight Forwarding di Kairo, Mesir. Ia juga memiliki pengalaman sebagai penerjemah bahasa Arab–Indonesia dalam ajang Cairo International Fair.
Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan profesional Riza tidak hanya bertumpu pada satu bidang. Ia bersinggungan dengan dunia korporasi, penelitian, kerja kemanusiaan, hingga hubungan lintas negara.
Pendidikan dan Kemampuan Bahasa Jadi Modal Tambahan
Bekal akademik menjadi bagian lain dari profil Riza. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada bidang Studi Islam dan Bahasa Arab. Pendidikan magisternya ditempuh dalam bidang Kajian Asia Tenggara di University of Passau, Jerman.
Ia kemudian meraih gelar doktor di bidang Kajian Asia Tenggara dari University of New South Wales (UNSW), Australia.
Selain latar belakang pendidikan tersebut, Riza menguasai enam bahasa, yakni Arab, Inggris, Jerman, Aceh, Indonesia, dan Melayu. Kemampuan ini berpotensi mendukung komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan mitra dari beragam latar belakang negara maupun institusi.
Bagi PT PEMA, kombinasi pengalaman internasional, kemampuan komunikasi lintas bahasa, dan pemahaman mengenai evaluasi program dapat menjadi modal untuk memperluas perspektif dalam pengembangan bisnis. Terlebih, Aceh memiliki kepentingan strategis dalam membangun kemitraan dan menangkap peluang investasi di sektor energi serta bidang ekonomi lainnya.
Kehadiran investor internasional, termasuk Mubadala Energy yang memiliki kegiatan di lepas pantai Aceh, turut memperlihatkan pentingnya kapasitas komunikasi, pemahaman lintas budaya, dan kemampuan membangun kemitraan dalam ekosistem investasi daerah.
Meski demikian, pengalaman dan jejaring profesional tetap perlu diterjemahkan ke dalam langkah bisnis yang konkret. Bagi direktur yang membidangi komersial, tantangannya bukan sekadar membuka komunikasi dengan calon mitra, melainkan juga mengidentifikasi peluang, merancang model bisnis yang layak, serta memastikan kerja sama memberi manfaat bagi perusahaan dan daerah.
Di titik inilah pengalaman yang dibawa Riza akan diuji sejauh mana pengetahuan, jejaring, dan pengalamannya dapat membantu PEMA meningkatkan kinerja komersial dan memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian Aceh.
Jalankan dan Buktikan Amanah
Saat dihubungi redaksi, Muhammad Riza menyatakan kesiapannya menjalankan amanah yang diberikan oleh pemegang saham, yakni Gubernur Aceh.
Ia juga menyadari tanggung jawab tersebut bukan pekerjaan ringan. Karena itu, Riza meminta doa dan dukungan agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
“Ini tugas berat, mohon doa dan dukungannya agar dapat berbuat yang terbaik untuk rakyat Aceh,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi penanda awal bagi Riza dalam menjalankan peran barunya di PEMA. Dengan pengalaman profesional yang beragam dan latar belakang pendidikan internasional, ia kini menghadapi tantangan untuk membawa kapasitas tersebut ke dalam kerja korporasi yang terukur.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang direktur komersial tidak hanya dinilai dari riwayat pendidikan, banyaknya negara yang pernah dikunjungi, atau luasnya jejaring profesional. Ukuran terpentingnya adalah kemampuan mengubah peluang menjadi kemitraan yang produktif, memperkuat kinerja perusahaan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh.
Share berita ini