DIALEKSIS.COM | Soki - Kerlipannya terus bersinar. Bahkan ketika menjabat Danrem 011 LW dia juga dipercayakan sebagai Danrimdam di Markas Komando Gajah Putih. Berselang beberapa bulan kemudian dia dipercayakan sebagai Kasdam Iskandar muda.
Nama Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Ali Imran kembali menjadi perhatian publik Aceh. Perwira tinggi TNI AD, kelahiran Banda Aceh ini mendapat kepercayaan untuk mengisi jabatan Kepala Staf Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Kasdam IM) dalam rotasi jabatan terbaru di lingkungan TNI.
Penunjukan Ali Imran tercantum dalam daftar mutasi perwira TNI AD yang beredar dan diberitakan sejumlah media nasional pada Rabu, 7 Oktober 2026. Ia diproyeksikan menggantikan Brigjen TNI Dwi Sasongko yang mendapat penugasan baru sebagai Perwira Tinggi Staf Ahli Tingkat II Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Pergantian tersebut menandai kelanjutan perjalanan karier Ali Imran, dari seorang perwira pasukan khusus hingga dipercaya mengisi jabatan strategis di Kodam Iskandar Muda.
Bagi Ali Imran, Aceh bukan wilayah penugasan yang asing. Di tanah kelahirannya, ia pernah memimpin Korem 011/Lilawangsa yang bermarkas di Lhokseumawe, sebelum dipercaya menjadi Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Danrindam) Iskandar Muda.
Putra Banda Aceh Berbaret Merah.
Ali Imran lahir di Banda Aceh pada 9 Juni 1978. Pria berusia 48 tahun ini merupakan putra pasangan M. Yusuf Syah dan Rohani.
Pria uniform loreng dengan baret merah ini, menempuh pendidikan dasarnya di SD Negeri 28 Banda Aceh, kemudian berlanjut ke SMP Negeri 4 Banda Aceh dan SMA Negeri 3 Banda Aceh. Setelah menamatkan pendidikan menengah pada 1997, ia memilih meniti karier sebagai prajurit TNI.
Pilihan tersebut membawanya memasuki Akademi Militer (Akmil). Ali Imran berhasil menyelesaikan pendidikan di lembaga pencetak perwira TNI AD itu pada tahun 2000.
Karier militernya dimulai di kecabangan Infanteri. Ia kemudian menjalani pendidikan Komando dan bertugas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus), satuan elite TNI AD yang dikenal memiliki standar pendidikan dan latihan khusus.
Di lingkungan Kopassus, Ali Imran menapaki sejumlah penugasan, mulai dari komandan peleton hingga komandan detasemen. Pengalaman tersebut membentuk fase awal perjalanan militernya sebelum memperoleh berbagai penugasan di luar satuan tempur.
Ali Imran kemudian tercatat bertugas di Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), serta Pusat Intelijen Angkatan Darat (Pusintelad).
Sejumlah jabatan yang pernah diembannya antara lain Wakil Komandan Satuan Tugas Bais Aceh, Wakil Komandan Grup D Paspampres, serta Komandan Kodim 0506/Tangerang di jajaran Kodam Jaya.
Ia juga pernah dipercaya mengisi jabatan Kepala PII Pusintelad sebelum kembali ke Aceh untuk memimpin Korem 011/Lilawangsa pada April 2024.
Kembali ke Aceh, Ali Imran ke Aceh menorah catatan penting dalam perjalanan karier militernya. Pada 19 April 2024, ia menerima tongkat komando Korem 011/Lilawangsa dari Kolonel Kav Kapti Hertantyawan dalam serah terima jabatan yang dipimpin Pangdam Iskandar Muda kala itu, Mayjen TNI Niko Fahrizal.
Sebagai Danrem, Ali Imran memimpin satuan kewilayahan yang memiliki tanggung jawab pembinaan teritorial dan mendukung berbagai kegiatan kemasyarakatan di wilayah tugasnya.
Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ketika ia memperoleh promosi menjadi perwira tinggi bintang satu.
Pada 26 Maret 2026, Ali Imran mengikuti upacara kenaikan pangkat perwira tinggi TNI di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Sejak saat itu, pangkat Brigadir Jenderal TNI resmi melekat pada namanya.
Kenaikan pangkat tersebut berkaitan dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin Rindam Iskandar Muda menggantikan Brigjen TNI Hasandi Lubis.
Serah terima jabatan Danrindam IM dilaksanakan pada 11 April 2026, dipimpin Pangdam IM Mayjen TNI Joko Hadi Susilo.
Menariknya, Ali Imran tetap tercatat memegang komando Korem 011/Lilawangsa meskipun telah menerima tugas sebagai Danrindam IM.
Di Rindam, tanggung jawabnya berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan dan pembentukan prajurit TNI AD, mulai dari jenjang tamtama, bintara, hingga pembinaan pendidikan perwira.
Dalam berbagai kegietan, Ali Imran menekankan pentingnya membentuk prajurit yang profesional, responsif, integratif, modern, dan adaptif. Termasuk memberi perhatian pada kesiapan generasi muda Aceh yang ingin mengabdikan diri melalui TNI.
Jejak Kepedulian Sosial di Aceh
Di luar perjalanan karier militernya, Ali Imran juga memiliki sejumlah catatan kegiatan sosial dan kemanusiaan selama bertugas di Aceh.
Ketika memimpin Korem 011/Lilawangsa, ia terlibat dalam program pembangunan rumah layak huni bagi warga kurang mampu, penyediaan fasilitas air bersih, serta kegiatan kemanusiaan di kawasan pedalaman.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah pembangunan sumur bor untuk Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe. Fasilitas tersebut diresmikan pada 18 Februari 2025 sebagai upaya menyediakan air tawar yang lebih layak bagi kebutuhan masyarakat dan jamaah masjid.
Program serupa juga diarahkan untuk membantu penyediaan air bersih di sejumlah pondok pesantren dan tempat ibadah.
Tidak kalah menariknya, dia mengerahkan kekuatanya untuk memugar makam pahlawan Wanita Aceh Cut Meutia di belantara hutan Aceh Utara, di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, hulu Krueng Peutoe, Desa Alue Rime (Alur Me), Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh.
Dia sangat menghargasi jasa pahlawan, apalagi Wanita Aceh yang tangguh, walau untuk mencapai pusara Wanita yang gigih melawan penjajah ini, medan yang dilalui sangat berat, harus berjalan kaki, menuruni tebing, melintasi sungai, namun Ali Imran beserta satuannya berhasil memugar makam pahlawan ini.
Saat bencana banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025, Ali Imran juga terlibat dalam koordinasi penyaluran bantuan dan penanganan dampak bencana.
Di lain sisi, dalam berbagai kesempatan, ia turut menyampaikan apresiasi kepada prajurit yang tetap membantu masyarakat meskipun keluarga mereka sendiri terdampak bencana.
Tetap Kuliah di Tengah Kesibukan Militer
Sisi lain dari perjalanan Ali Imran adalah komitmennya melanjutkan pendidikan formal di tengah kesibukan sebagai perwira TNI.
Setelah memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, pada 2014, Ali Imran melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Malikussaleh (Unimal), Aceh Utara.
Ia berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen dan mengikuti wisuda ke-39 Universitas Malikussaleh yang berlangsung pada 29-30 September 2026.
Dalam kesempatan itu, Ali Imran dipercaya mewakili para wisudawan untuk menyampaikan sambutan.
Ia mengakui bahwa membagi waktu antara tanggung jawab kedinasan, kepemimpinan di lapangan, dan kewajiban akademik bukan perkara mudah.
Namun, pengalaman tersebut justru memperkuat pandangannya bahwa proses belajar harus terus berlangsung, sekalipun seseorang telah menduduki jabatan penting.
"Menuntut ilmu sejati tidak pernah mengenal batas usia, jabatan, maupun kesibukan," ungkap Ali Imran dalam sambutannya di hadapan para wisudawan Unimal.
Baginya, pendidikan bukan semata-mata upaya memperoleh gelar akademik, tetapi juga sarana memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas diri dalam menghadapi perubahan zaman.
Dalam kehidupan keluarga, Ali Imran didampingi istrinya, Dini Hidayati. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.
Mengemban Amanah Baru di Kodam Iskandar Muda
Kini, perjalanan karier Ali Imran memasuki tahapan baru melalui penunjukannya sebagai Kasdam Iskandar Muda.
Jabatan Kasdam memiliki peran penting dalam membantu Pangdam menjalankan koordinasi staf, pembinaan organisasi, serta mendukung kesiapan operasional satuan.
Pengalaman Ali Imran di lingkungan pasukan khusus, intelijen, pengamanan presiden, dan komando kewilayahan menjadi bagian dari bekal profesionalnya untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.
Penugasan di Aceh juga menempatkannya di tengah berbagai tantangan daerah, termasuk kebutuhan penguatan pertahanan wilayah, pembinaan prajurit, penanganan bencana, serta hubungan TNI dengan masyarakat.
Bagi perwira kelahiran Banda Aceh ini, kepercayaan mengisi posisi Kasdam IM sekaligus menjadi momentum kembali mengabdi di lingkungan militer tanah kelahirannya dengan tanggung jawab yang lebih luas.
Dari bangku sekolah di Banda Aceh, pendidikan keras Kopassus, penugasan intelijen, hingga memimpin satuan kewilayahan, perjalanan Ali Imran memperlihatkan panjangnya proses pembinaan karier seorang prajurit.
Bahkan dalam menjabat sebagai pimpinan komando dia mampu menyelesaikan pendidikan meraih magister managemen. Kini, babak berikutnya menanti sang jenderal bintang satu di Kodam Iskandar Muda. Semoga kerlipannya senantiasa bersinar. [bg]
Share berita ini