DIALEKSIS.COM | Jombang - Jalan hidup KH Abdul Hakim Mahfudz tidak sepenuhnya bergerak di antara surau, kitab kuning, dan mimbar pengajian. Kiai yang akrab disapa Gus Kikin itu pernah menempuh pendidikan pelayaran, bekerja di perusahaan pelayaran nasional, menekuni dunia usaha, lalu pulang untuk menjaga salah satu pusat sejarah Nahdlatul Ulama yakni Pesantren Tebuireng.
Kini, nama Gus Kikin berada di pusaran penting kepemimpinan NU. Dalam penjaringan bakal calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, ia menempati posisi teratas dengan 472 suara.
Perolehan tersebut belum otomatis menjadikannya Ketua Umum PBNU. Setelah pemeriksaan persyaratan, Gus Kikin menjadi salah satu dari lima calon yang memperoleh persetujuan untuk dimusyawarahkan sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Keputusan akhir berada di tangan para kiai sepuh tersebut.
Di tengah kontestasi yang berlangsung ketat, Gus Kikin justru memilih berbicara tentang kerukunan. Baginya, muktamar tidak semestinya meninggalkan perpecahan di kalangan Nahdliyin.
“NU itu kebersamaan yang paling penting,” ujarnya di arena muktamar. Ia mengingatkan siapa pun yang terpilih harus menjaga persatuan dan memastikan NU tetap menjadi ruang khidmah bagi umat.
Tumbuh di Simpul Tiga Pesantren
Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari jalur keluarga, dirinya berada di simpul tiga pesantren besar di Jombang: Paculgowang, Seblak, dan Tebuireng.
Ayahnya, KH Mahfudz Anwar, dikenal sebagai ulama yang menguasai fikih, tafsir, gramatika Arab, dan ilmu falak. Sementara ibunya, Nyai Abidah Ma’shum, merupakan putri KH Ma’shum Ali dan Nyai Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
Garis keturunan itulah yang menjadikan Gus Kikin sebagai cicit KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng sekaligus salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama.
Namun, jejak keluarga Gus Kikin bukan hanya berkaitan dengan pesantren. Nyai Abidah pernah menjadi anggota DPRD Jombang, anggota Konstituante Republik Indonesia periode 1956–1959, serta hakim agama di Pengadilan Agama Jombang. NU Online Jatim mencatatnya sebagai perempuan pertama yang menjadi hakim agama di Indonesia.
Lingkungan keluarga tersebut mempertemukan Gus Kikin sejak kecil dengan tradisi keilmuan Islam, pengabdian sosial, organisasi, dan keberanian memasuki ruang publik.
Pendidikan agama diperolehnya langsung dari sang ayah di Pesantren Sunan Ampel, Jombang. Pendidikan umum ditempuh di MI Parimono, SMP Negeri 1 Jombang, dan SMPP yang kini dikenal sebagai SMA Negeri 2 Jombang. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta.
Pilihan tersebut membawa Gus Kikin keluar dari jalur kehidupan yang lazim ditempuh seorang putra kiai. Ia berlayar, memasuki lingkungan korporasi, dan memahami dunia profesional dari bawah.
Dari Pelayaran Menuju Dunia Usaha
Setelah menyelesaikan pendidikan pelayaran, Gus Kikin bekerja di PT Djakarta Lloyd. Kariernya berkembang hingga dipercaya memimpin cabang perusahaan tersebut di Cilegon.
Pengalaman di dunia pelayaran membentuk kemampuan manajerial dan keberaniannya mengambil keputusan. Ia kemudian menekuni perdagangan komoditas, antara lain pinang dan minyak atsiri, sebelum mengembangkan usaha di sektor transportasi, pelayaran, energi, serta media.
Gus Kikin tercatat mendirikan PT Energi Mineral Langgeng yang bergerak di bidang minyak dan gas serta PT Bama Berita Sarana atau BBS Group yang bergerak dalam industri media televisi berjaringan. Ia juga pernah aktif sebagai Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri.
Latar belakang itu membuat Gus Kikin mempunyai warna tersendiri di lingkungan pesantren. Ia tidak hanya memahami tradisi keagamaan, tetapi juga mengenal tata kelola perusahaan, jaringan usaha, pengembangan sumber daya manusia, dan pentingnya kemandirian ekonomi.
Pandangan tersebut ikut terbawa ketika dirinya berbicara mengenai masa depan NU. Gus Kikin berulang kali menekankan bahwa organisasi besar tidak boleh sepenuhnya bergantung kepada pihak lain. Tradisi urunan, menurutnya, bukan sekadar mengumpulkan dana, melainkan jalan membangun kemandirian sekaligus memperkuat ikatan antarpengurus dan warga NU.
Dalam pengembangan ekonomi umat, ia juga mendorong penerapan prinsip Mabadi Khairu Ummah: kejujuran, amanah, keadilan, tolong-menolong, dan konsistensi. Nilai-nilai itu dipandang penting agar koperasi serta lembaga ekonomi NU tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial.
Dipersiapkan Gus Sholah
Kepulangan Gus Kikin ke lingkungan pesantren berlangsung melalui proses yang panjang. Pada 2015, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah menunjuknya sebagai Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng.
Pembagian tugas keduanya cukup jelas. Gus Sholah lebih banyak menangani hubungan dan pengembangan eksternal, sedangkan Gus Kikin mempelajari serta mengurus kebutuhan internal pesantren. Penugasan tersebut sekaligus menjadi proses kaderisasi kepemimpinan.
Ketika Gus Sholah wafat pada 2 Februari 2020, Gus Kikin dipercaya melanjutkan tongkat kepengasuhan sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng kedelapan.
Di bawah kepemimpinannya, Tebuireng tidak meninggalkan modernisasi yang dibangun para pengasuh sebelumnya. Namun, Gus Kikin memberikan perhatian lebih besar terhadap penguatan kembali tradisi keilmuan klasik.
Ia menghidupkan kajian kitab kuning melalui Riyadhotut Tholabah yang bergerak dalam kajian keislaman dan bahtsul masail. Sistem pembelajaran juga ditata agar para santri memperoleh pendidikan diniyah pada sore hari.
Gus Kikin turut mendirikan Tebuireng Institute for Islamic Studies sebagai ruang pengkajian pemikiran, karya, dan warisan intelektual KH Hasyim Asy’ari. Pada masa kepemimpinannya, jaringan Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng diperluas dan sejumlah cabang baru Tebuireng berdiri di berbagai daerah.
Memimpin PWNU Jawa Timur
Rekam jejak Gus Kikin di NU tidak dibangun secara tiba-tiba menjelang muktamar. Ia pernah menjadi bagian dari kepengurusan PBNU, termasuk menangani bidang ekonomi. Pada Januari 2024, ia dipercaya sebagai Penjabat Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.
Dalam Konferensi Wilayah NU Jawa Timur di Tebuireng pada 3 Agustus 2024, Gus Kikin kemudian terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur masa khidmah 2024–2029.
Dalam memimpin, Gus Kikin kerap menggambarkan NU sebagai rumah bersama. Warga NU boleh memiliki pilihan dan jalan politik berbeda, tetapi organisasi tidak boleh terseret menjadi alat kepentingan politik sesaat.
“NU itu rumah untuk membangun sebuah bangsa,” katanya. Menurut dia, politik merupakan hak setiap warga negara, sedangkan NU harus tetap menjadi tempat seluruh Nahdliyin kembali, bertemu, dan merawat persaudaraan.
Pandangan itu menjadi relevan ketika kontestasi kepemimpinan PBNU berlangsung dalam suasana penuh persaingan. Gus Kikin datang membawa modal nasab, pengalaman pesantren, kemampuan organisasi, dan rekam jejak sebagai pengusaha. Namun, semua modal tersebut tetap harus diuji melalui kemampuannya merangkul berbagai arus di dalam NU.
Pada usia 68 tahun, perjalanan Gus Kikin seperti membentuk sebuah lingkaran. Ia tumbuh di lingkungan pesantren, berangkat mengenal laut dan dunia usaha, kemudian kembali untuk menjaga Tebuireng.
Kini, ia berada di depan pintu kepemimpinan PBNU. Apa pun keputusan AHWA, kemunculan Gus Kikin memperlihatkan satu pesan penting: kepemimpinan pesantren tidak cukup hanya menjaga warisan, tetapi juga dituntut memiliki kemampuan mengelola perubahan, membangun kemandirian, serta menjaga rumah besar NU tetap utuh.
Share berita ini