DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Senin (28/9/2026), berlangsung dalam suasana duka. Prabowo datang menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Guruh Soekarnoputra. Sufmi Dasco Ahmad berada dalam rombongan, bersama Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia
Dasco pernah mengakui perannya sebagai pembawa pesan dua arah antara Prabowo dan Megawati. Rekam jejak itu menjadi dasar untuk melihat Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Harian Gerindra tersebut sebagai salah satu “jembatan” kedua pemimpin.
Meski demikian, kunjungan terbaru tersebut memiliki konteks yang jelas. Ketua DPP PDIP Said Abdullah menyatakan pertemuan itu merupakan silaturahmi belasungkawa tanpa pembicaraan politik. Puan Maharani menyebut keduanya juga berbincang mengenai bangsa dan negara, seraya menggambarkan hubungan mereka tetap seperti keluarga,“jauh di mata, tetapi selalu dekat di hati”.
Keterangan itu belum memberikan dasar untuk menyimpulkan adanya kesepakatan politik baru. Namun, rangkaian pertemuan sebelumnya menunjukkan bahwa saluran komunikasi melalui Dasco memang telah bekerja.
Pada 5 Juni 2025, Dasco mengungkapkan dirinya mendapat penugasan Prabowo untuk menemui Megawati dan menyampaikan pesan yang bersifat konfidensial. Ia datang bersama Prasetyo Hadi dan kembali membawa tanggapan.
“Dan kami juga membawa pesan balik dari Ibu Megawati kepada Pak Prabowo,” kata Dasco di kompleks parlemen, sebagaimana diberitakan berbagai media.
Peran serupa kembali terlihat dalam keterangannya pada 4 Agustus 2025. Dasco menjelaskan bahwa Prabowo, dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Gerindra, menitipkan ucapan selamat kongres kepada Megawati serta pesan berkaitan dengan Undang-Undang Pemilu. Sementara itu, Prasetyo Hadi membawa pesan Presiden mengenai Museum Bung Karno, menurut laporan detikcom.
Dua peristiwa tersebut memperlihatkan fungsi yang lebih konkret daripada sekadar mendampingi pertemuan: Dasco memperoleh mandat menyampaikan pesan, diterima oleh pihak yang dituju, lalu membawa tanggapan kembali. Dalam analisis komunikasi politik, pola ini menunjukkan adanya ruang kepercayaan lintas partai.
Jejak lainnya muncul dalam polemik Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD atau UU MD3 menjelang pergantian periode DPR pada 2024. Pada 4 April 2024, Dasco menyatakan mayoritas fraksi telah sepakat tidak merevisi undang-undang tersebut sampai berakhirnya masa jabatan DPR saat itu. Ia juga menyebut rencana penyesuaian yang pernah dibicarakan bukan untuk mengganti posisi pimpinan.
Isu tersebut penting bagi PDIP. Hasil Pemilu 2024 menempatkan partai itu sebagai pemilik kursi terbanyak di DPR, yakni 110 dari 580 kursi, diikuti Golkar dengan 102 kursi dan Gerindra 86 kursi.
Pada 1 Oktober 2024, Puan Maharani kembali ditetapkan sebagai Ketua DPR periode 2024 - 2029. DPR menjelaskan bahwa penetapan pimpinan mengacu pada Pasal 427D UU Nomor 2 Tahun 2018, dengan mekanisme berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak.
Dalam konteks itu, pernyataan Dasco ikut menegaskan kepastian bahwa aturan yang berlaku tetap menjadi pegangan. Akan tetapi, keputusan mempertahankan UU MD3 merupakan sikap kolektif fraksi-fraksi. Menyebut Dasco seorang diri “menyelamatkan” kursi Ketua DPR bagi PDIP akan melampaui bukti yang tersedia.
Fungsi penghubung tersebut mengingatkan pada Taufiq Kiemas, suami Megawati yang memimpin MPR pada 2009 - 2013 dan wafat pada 8 Juni 2013. Kedekatannya dengan Megawati berjalan bersamaan dengan kemampuan membangun hubungan dengan tokoh dari kubu politik berbeda.
Dalam kesaksian yang dimuat Sekretariat Negara pada 21 Juli 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenang Taufiq sebagai figur yang mengutamakan kompromi, musyawarah, dan kepentingan bersama. SBY juga menyatakan sering bertemu serta bertukar pikiran mengenai persoalan politik dengan Taufiq sejak 2009.
Ada kesamaan fungsi yang dapat ditarik: keduanya menjaga percakapan tetap berlangsung melintasi perbedaan politik. Namun, basis kedekatannya berbeda. Taufiq memiliki hubungan keluarga dan posisi di lingkungan PDIP, sedangkan Dasco menjangkau Megawati dari Gerindra. Perbandingan itu lebih tepat dipahami sebagai kemiripan peran, bukan penetapan Dasco sebagai pengganti tunggal Taufiq.
Klaim bahwa posisi “sang jembatan” kosong sama sekali selama lebih dari satu dekade juga perlu dibatasi. Komunikasi politik melibatkan banyak orang. Dalam hubungan Prabowo - Megawati, dokumentasi yang tersedia turut memperlihatkan keterlibatan Puan Maharani dan Prasetyo Hadi.
Figur yang mampu bekerja melintasi batas politik juga ditemukan di negara lain. Di Amerika Serikat, Senator Edward “Ted” Kennedy dari Partai Demokrat bekerja bersama Senator Orrin Hatch dari Partai Republik dalam melahirkan Children’s Health Insurance Program pada 1997. Arsip resmi Senat mencatat kerja sama tersebut sebagai upaya lintas partai untuk memperluas perlindungan kesehatan anak.
Di Jepang, Toshihiro Nikai menjalankan komunikasi dengan Tiongkok melalui jaringan politik dan hubungan personal. Pada 15 Mei 2017, ketika menjabat Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Liberal, ia bertemu Presiden Xi Jinping sebagai wakil pemerintah Jepang dalam forum Belt and Road. Kementerian Luar Negeri Tiongkok mencatat pembicaraan mengenai perbaikan hubungan kedua negara.
Konteks ketiganya berbeda dimana Kennedy bekerja melalui legislasi, Nikai melalui hubungan antarnegara, sedangkan Dasco melalui komunikasi antarpemimpin politik Indonesia. Persamaannya terletak pada kesediaan mempertahankan hubungan kerja ketika terdapat perbedaan kepentingan.
Saluran itu masih terlihat setelah takziah di Teuku Umar. Pada 29 September 2026, Dasco menyebut rencana pertemuan lanjutan Prabowo dan Megawati, termasuk makan nasi goreng bersama, sedang diatur oleh Puan. Saat ditanya waktunya, Puan menjawab secepatnya. Belum ada jadwal pasti dalam keterangan tersebut.
Bagi publik, ukuran keberhasilan seorang penghubung pada akhirnya terletak pada hasil komunikasi yang dibangunnya: apakah membantu menyelesaikan kebuntuan, menjaga kerja lembaga, dan menghasilkan kebijakan yang bermanfaat. Keakraban antarelite tetap perlu berjalan bersama keterbukaan dan pengawasan.
Jejak Dasco menunjukkan bahwa pengaruh politik juga tumbuh dari kepercayaan untuk membawa pesan. Sebutan “sang jembatan” memiliki pijakan pada tugas yang terdokumentasi itu; bobotnya akan ditentukan oleh apa yang dapat dihasilkan setelah para pemimpin kembali duduk bersama.
Share berita ini