Dari Dayah ke Industri Energi, Jejak Firdaus Noezula Menakhodai PGE

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perjalanan Firdaus Noezula menuju kursi Direktur Utama PT PEMA Global Energi (PGE) tidak berlangsung dalam satu lintasan lurus. Ia tumbuh dari lingkungan dayah, ditempa dalam organisasi mahasiswa, memasuki ruang pemerintahan dan parlemen, lalu berlabuh di dunia korporasi.

Putra Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, itu ditetapkan sebagai Direktur Utama PT PEMA Global Energi melalui Keputusan Pemegang Saham yang diumumkan pada Rabu, 19 Agustus 2026. Firdaus menggantikan Andika Mahardika yang memimpin perusahaan tersebut sejak 2023.

Pada usia 34 tahun, Firdaus kini mengemban tanggung jawab besar. Ia tidak hanya memimpin sebuah perusahaan, tetapi juga ikut menentukan arah pengelolaan salah satu aset energi penting milik Aceh.

“Target saya ke depan adalah bagaimana PGE bisa tumbuh menjadi perusahaan yang semakin sehat, profesional, produktif, dan memberikan manfaat semakin baik,” kata Firdaus dalam keterangannya kepada media. AJNN

Sebelum menerima amanah baru tersebut, Firdaus menjabat Komisaris Independen PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PEMA. Setelah ditetapkan memimpin PGE, ia telah menyampaikan surat pengunduran diri dari jabatan komisaris kepada Gubernur Aceh melalui Komisaris Utama PT PEMA.

Enam Tahun Ditempa di Dayah

Firdaus lahir di Krueng Mane pada 2 Maret 1992. Ia merupakan putra pasangan almarhum Hasan Basri Sulaiman dan Hildawati Arifin. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 8 Muara Batu.

Selepas sekolah dasar, Firdaus meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Dayah Bustanul Ulum Langsa. Selama enam tahun, ia menjalani pendidikan tingkat madrasah tsanawiyah hingga madrasah aliyah di lingkungan dayah tersebut.

Pendidikan dayah menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter Firdaus. Disiplin, kemandirian, kesederhanaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang kelak dibawanya ketika memasuki dunia organisasi dan pekerjaan.

Hubungannya dengan almamater dayah tetap terpelihara. Firdaus kini dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Organisasi Alumni dan Eks Siswa Madrasah Ulumul Qur’an atau ORALEXISMUQ.

Perjalanan akademiknya berlanjut ke Universitas Malikussaleh. Ia memilih Program Studi Teknik Informatika dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2015. Semasa kuliah, Firdaus tidak hanya berkutat dengan ruang kelas. Ia aktif dalam gerakan mahasiswa dan dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Malikussaleh periode 2012-2014.

Minatnya kemudian berkembang dari teknologi menuju persoalan pembangunan daerah. Firdaus melanjutkan pendidikan magister pada Program Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan di IPB University. Gelar Magister Sains diraihnya pada 2023.

Perpaduan pendidikan teknologi dan perencanaan pembangunan tersebut memberikan warna tersendiri dalam perjalanan kariernya. Bekal itu membuat Firdaus memiliki perspektif yang mencakup inovasi digital, kebijakan publik, pembangunan wilayah, hingga tata kelola perusahaan. Latar pendidikan dan pengalaman profesionalnya juga tercatat dalam profil resmi PT PEMA.

Dari Aktivis Kampus ke Ruang Kebijakan

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Firdaus memasuki ruang pemerintahan. Ia pernah menjadi Tenaga Ahli Bupati Aceh Utara pada 2016-2018. Pengalaman tersebut mempertemukannya secara langsung dengan persoalan pembangunan, pelayanan publik, dan dinamika pemerintahan daerah.

Kariernya berlanjut ke tingkat nasional sebagai Tenaga Ahli DPR RI sepanjang 2020–2024. Di lingkungan parlemen, Firdaus bersentuhan dengan proses penyusunan kebijakan, pengawasan program pemerintah, serta komunikasi antara kepentingan daerah dan pusat.

Di bidang organisasi, Firdaus pernah menjadi Ketua Ikatan Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Aceh di Bogor, penasihat Forum Mahasiswa Aceh Dunia, serta Wakil Ketua DPD KNPI Aceh Bidang Kemitraan BUMN dan BUMD.

Ia juga dipercaya menjadi Sekretaris Umum Dewan Pengurus Daerah Himpunan Alumni IPB University Provinsi Aceh periode 2025–2029. Pada 2023, Firdaus mendirikan Yayasan Teras Inovasi Indonesia yang bergerak dalam pembinaan dan pengembangan kapasitas pelajar, mahasiswa, serta pemuda Aceh.

Jejak tersebut memperlihatkan perjalanan Firdaus yang bergerak dari organisasi, kebijakan publik, bisnis, hingga pengawasan perusahaan daerah. Pengalamannya sebagai Komisaris Independen PT PEMA membuatnya telah mengenal ekosistem perusahaan yang kini menjadi pemegang saham PGE.

Memimpin Aset Energi Strategis Aceh

Kursi Direktur Utama PGE membawa Firdaus ke arena dengan tantangan yang lebih kompleks. Perusahaan ini resmi menjadi operator Wilayah Kerja B di Aceh Utara sejak 17 Mei 2021, mengambil alih pengelolaan dari Pertamina Hulu Energi NSB dengan masa kontrak selama 20 tahun.

Berdasarkan profil resmi PGE, wilayah kerja perusahaan mencapai sekitar 1.336,62 kilometer persegi. PGE mengoperasikan lapangan gas Arun yang mencakup Cluster 1 hingga Cluster 4 serta Lapangan South Lhoksukon A dan D.

Wilayah Kerja B memiliki sejarah panjang dalam industri energi nasional. Lapangan gas Arun ditemukan pada 1971 dan pernah menjadi salah satu pusat produksi gas terbesar di Indonesia. Sejak ekspor perdana pada 1978, gas Arun menjadi bagian penting dalam perjalanan ekonomi Aceh dan industri energi nasional.

Namun, kejayaan masa lalu juga menyisakan tantangan. Lapangan-lapangan yang telah berusia matang membutuhkan inovasi, efisiensi, eksplorasi cadangan baru, serta pengelolaan risiko dan keselamatan operasi yang ketat.

Di sinilah kemampuan Firdaus akan diuji. PGE harus tetap tumbuh sebagai korporasi yang sehat tanpa mengabaikan keselamatan kerja, kelestarian lingkungan, transparansi, dan kepentingan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Penunjukan Firdaus juga membawa harapan akan munculnya kepemimpinan generasi baru dalam pengelolaan perusahaan daerah. Namun usia muda dan perjalanan karier bukanlah ukuran akhir. Keberhasilannya kelak akan dinilai dari kemampuan meningkatkan kinerja perusahaan serta memastikan kekayaan energi memberikan manfaat nyata bagi Aceh.

Dari ruang belajar Dayah Bustanul Ulum, bangku Universitas Malikussaleh, kampus IPB, ruang pemerintahan, parlemen hingga korporasi, perjalanan Firdaus Noezula kini memasuki babak baru.

Ia telah sampai di kursi tertinggi PGE. Selanjutnya, publik menunggu sejauh mana putra Krueng Mane tersebut mampu mengubah amanah menjadi kinerja dan sumber daya energi menjadi kesejahteraan bagi Aceh. [arn]

Share berita ini

dialeksis.com