Partai Darul Aceh Gelar Musyawarah Raya III, Ini Kandidat Kuat Ketua

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Partai Darul Aceh (PDA) menggelar Musyawarah Raya (Musyra) III di Hotel Rasamala, Banda Aceh, Jumat - Minggu (4-6/9/2026). Forum lima tahunan tersebut menjadi momentum penting bagi partai politik lokal itu untuk menentukan arah organisasi sekaligus memilih kepemimpinan baru untuk periode mendatang.

Rangkaian utama Musyra III PDA memasuki tahapan penting pada Sabtu (5/9/2026). Mulai dari proses pendaftaran hingga tahapan pemilihan Ketua Umum PDA dijadwalkan berlangsung dalam rangkaian forum tersebut.

Musyra III PDA mengusung tema “Transformasi PDA Menuju Partai yang Solid, Kokoh dan Terpercaya”.

Selain mengevaluasi perjalanan organisasi selama lima tahun terakhir, forum tersebut juga akan merumuskan program politik PDA untuk lima tahun ke depan.

Munawar “Raja Rec” mencuat

Di tengah proses menuju pemilihan ketua umum, nama Munawar, Ketua DPW PDA Kabupaten Bireuen, disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin PDA.



Munawar yang lebih dikenal dengan nama Raja Rec dinilai memiliki peluang karena pengalaman dan posisinya di tingkat wilayah. Namanya mulai menguat di tengah dinamika internal PDA menjelang pemilihan ketua umum.

Meski demikian, mekanisme pemilihan dalam Musyra III nantinya tetap akan menentukan siapa yang memperoleh dukungan mayoritas dari peserta musyawarah.

Selain Munawar, nama Ridwan Abu Bakar atau Nek Tu juga masih beredar di kalangan sejumlah DPW PDA se-Aceh.

Padahal, Nek Tu sebelumnya menyatakan tidak lagi berkeinginan maju sebagai Ketua Umum PDA karena kondisi kesehatan.

Ketua Umum PDA tersebut bahkan telah menyampaikan pentingnya regenerasi kepemimpinan kepada sosok yang lebih muda dan energik.

“Untuk menyukseskan kepemimpinan partai PDA ke depan, kini saatnya kepemimpinan berganti kepada yang lebih muda dan energik agar ada penambahan kursi ke depan bagi PDA,” ujar Nek Tu.

Namun, dinamika internal partai menunjukkan hal berbeda. Sejumlah pendukung Nek Tu disebut masih menginginkan dirinya kembali memimpin PDA.

Kondisi itu membuat bursa Ketua Umum PDA menjelang Musyra III menjadi semakin menarik. Sikap pribadi Nek Tu yang menyatakan tidak ingin kembali maju berhadapan dengan aspirasi sebagian pendukungnya yang masih mendorong dirinya untuk melanjutkan kepemimpinan.

Nek Tu sebelumnya mengatakan regenerasi merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan partai.

Menurut dia, PDA membutuhkan energi baru untuk menghadapi tantangan politik dan meningkatkan perolehan kursi pada pemilu mendatang.

“Musyawarah Raya ini untuk merumuskan kerja-kerja dan program politik PDA ke depan serta memilih ketua partai yang baru,” kata Ketua Panitia Musyra III PDA, Muhammad Saddam.

Musyra juga menjadi ruang bagi kader PDA untuk mengevaluasi capaian organisasi selama periode kepemimpinan sebelumnya.

Dengan tantangan politik yang semakin kompetitif, kepemimpinan baru PDA akan menghadapi pekerjaan untuk memperkuat struktur partai, melakukan konsolidasi kader, sekaligus meningkatkan elektabilitas dan perolehan kursi legislatif.


Pemerintah Aceh Jalin Sinergi

Mewakili Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh, Dr Munawar MA, mengatakan partai politik memiliki posisi strategis dalam pembangunan Aceh.

Menurut dia, partai politik bukan hanya berfungsi dalam kontestasi elektoral, tetapi juga menjadi wadah menyerap aspirasi masyarakat dan memberikan pendidikan politik.

Karena itu, Pemerintah Aceh mengajak PDA dan seluruh kekuatan politik di Aceh membangun sinergi yang konstruktif.

“Pembangunan Aceh membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat, termasuk partai politik,” ujar Munawar saat membacakan sambutan Gubernur Aceh.

Ia mengatakan perbedaan pilihan dan pandangan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola agar tidak menjadi sumber perpecahan.

“Aceh membutuhkan suasana yang damai, stabil, dan penuh kebersamaan agar berbagai agenda pembangunan dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Dalam forum tersebut, Nek Tu juga menyerukan agar seluruh kekuatan politik di Aceh, baik partai lokal maupun partai nasional, bersama-sama memperjuangkan poin-poin yang tertuang dalam MoU Helsinki.

Ia berharap berbagai kesepakatan perdamaian Aceh yang telah menjadi komitmen bersama dapat direalisasikan oleh Pemerintah Pusat.

“Apa yang sudah menjadi kesepakatan damai dulunya agar diberikan oleh Pemerintah Pusat,” ujar Nek Tu.

Musyra III PDA dihadiri sejumlah tokoh Aceh, antara lain Ketua Dewan Mutasyar PDA Baba Panton, Ketua Umum PDA Ridwan Abu Bakar, Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk Anwar Usman Kuta Krueng, Ketua PAS Aceh Tu Bulqaini Tanjungan, Bupati Aceh Besar Syech Muharram, Bupati Aceh Jaya Safwandi, serta ulama Aceh Tgk Habibi Waly.

Sejumlah pimpinan dan perwakilan partai politik juga hadir, di antaranya Ketua Harian Partai Golkar Khalid, Sekjen Partai Gerindra Abdurrahman Ahmad, Sekjen PKB Tgk Mujlisal, dan Sekjen PKS Kasibun Daulay.

Dengan tahapan pendaftaran dan pemilihan yang berlangsung pada Sabtu (5/9/2026), perhatian kini tertuju pada dinamika dukungan di internal PDA.

Apakah Munawar “Raja Rec” akan menjadi wajah baru PDA, atau dukungan terhadap Nek Tu kembali mengubah peta pemilihan? Jawabannya akan ditentukan dalam Musyra III PDA hari ini.[]

Share berita ini

dialeksis.com