DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengajak seluruh insan pendidikan menjadikan peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-67 sebagai momentum untuk melakukan introspeksi terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dalam memajukan pendidikan Aceh.
Menurut Murthalamuddin, peringatan Hardikda tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk melihat kembali berbagai hal yang telah dilakukan dalam dunia pendidikan, termasuk mengevaluasi kekurangan yang masih terjadi.
“Pada Hardikda ke-67 hari ini, saya hanya ingin menyampaikan kepada kita semua, termasuk saya sebagai bagian daripada insan pendidikan, kita harus bertanya kepada diri kita masing-masing,” kata Murthalamuddin dalam video yang disitat media dialeksis.com, Rabu (2/8/2026).
Ia mengatakan, setiap insan pendidikan perlu mempertanyakan apakah tugas yang selama ini dijalankan sudah sesuai dengan amanah yang diberikan.
“Apakah kita sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan telah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dan melaksanakan apa yang menjadi amanah daripada tugas-tugas kita,” ujarnya.
Murthalamuddin menyebut evaluasi tersebut harus dilakukan oleh seluruh unsur yang terlibat dalam pendidikan, baik birokrat pendidikan, guru, pengawas, kepala sekolah maupun tenaga pendidik lainnya.
“Apakah kita sudah menjadi birokrat pendidikan yang baik? Apakah kita sudah menjadi guru yang baik, pengawas yang baik, kepala sekolah yang baik, bahkan tenaga pendidik yang baik? Apakah kita sudah memenuhi semua yang menjadi tanggung jawab kita?” katanya.
Ia menilai pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk dijawab secara jujur oleh masing-masing pihak. Menurutnya, introspeksi diperlukan agar setiap insan pendidikan mengetahui apa saja yang masih kurang dan perlu diperbaiki.
“Oleh karena itu, momentum ini harus menjadi peringatan buat kita untuk melakukan introspeksi diri. Kita harus melihat kembali ke belakang, apakah masih ada lebih dan kurang terhadap pekerjaan yang selama ini kita lakukan,” ujarnya.
Murthalamuddin juga mengingatkan bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam bidang pendidikan. Salah satunya ditandai dengan adanya peringatan Hari Pendidikan Daerah yang menjadi bagian dari sejarah pendidikan di Aceh.
“Untuk Aceh khususnya, kita punya keistimewaan, punya kekhususan tentang pendidikan. Kita punya Hari Pendidikan Daerah. Kita harus tahu sejarah Hari Pendidikan Daerah itu,” katanya.
Menurutnya, keberadaan Hardikda berkaitan dengan pengakuan terhadap kekhususan pendidikan Aceh. Namun, kekhususan tersebut harus dibarengi dengan upaya nyata untuk meningkatkan mutu pendidikan.
“Sejarah Hari Pendidikan Daerah adalah sejarah di mana pemerintah pusat mengakui kekhususan pendidikan Aceh. Tetapi sampai hari ini mutu pendidikan kita tidaklah baik-baik saja,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak menutup mata terhadap kondisi pendidikan Aceh saat ini. Menurutnya, masih terdapat berbagai persoalan yang harus dicari akar masalahnya secara bersama-sama.
“Jadikan momentum ini untuk introspeksi diri, memperbaiki diri. Kita harus membuat diri kita merasa berdosa kalau pendidikan kita masih dalam kegagalan,” kata Murthalamuddin.
Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan tidak saling menyalahkan atau memperbesar perbedaan. Sebaliknya, semua pihak diminta mencari kesamaan dan membangun komitmen bersama.
“Pendidikan kita hari ini masih belum baik sekali. Karena itu, mari sama-sama merenung kembali, sama-sama mencoba mencari di mana akar masalah sehingga pendidikan kita terus berada di bawah secara kualitas,” ujarnya.
Murthalamuddin mengatakan perbaikan pendidikan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama dan tekad dari seluruh insan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh.
“Yang harus kita lakukan bukan mencari perbedaan, tetapi mencari kesamaan-kesamaan. Kita bangun tekad bersama dan tekad pribadi untuk memajukan pendidikan,” katanya.
Ia juga mengingatkan seluruh insan pendidikan agar menjaga amanah dan tidak mengkhianati profesi yang telah dipilih.
“Jangan sampai profesi ini kita khianati. Kita pasti akan diminta pertanggungjawaban terhadap profesi ini,” pungkas Murthalamuddin. [nh]
Share berita ini