Plt Kadistanbun Aceh Dorong Pekebun Sawit Naik Kelas

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, mendorong pekebun kelapa sawit naik kelas menjadi pengusaha kebun. Peningkatan kemampuan mengelola usaha, penguatan kelembagaan, serta penerapan budi daya berkelanjutan menjadi langkah penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan pekebun.

Dorongan itu disampaikan Azanuddin saat membuka sekaligus memberikan materi pada Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit gelombang ketiga untuk angkatan 13 - 18 di Banda Aceh, Senin (21/9/2026).

Pelatihan tersebut diikuti 180 peserta asal Kabupaten Aceh Timur. Pembelajaran teori berlangsung di Hotel A. Yani dan Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, sedangkan praktik lapangan dijadwalkan berlangsung di PT ASN, Aceh Barat.



“Petani sawit atau pekebun sawit harus naik kelas,” ujar Azanuddin.

Menurutnya, pelatihan harus menjadi bekal bagi peserta untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan kemampuan mengelola kebun sebagai sebuah usaha. Dengan daya juang yang kuat, pekebun diharapkan mampu mengembangkan usaha sesuai luas lahan yang dimiliki.

Ia berharap hasil pengelolaan kebun dapat mencukupi biaya perawatan, memenuhi kebutuhan keluarga, serta memungkinkan pekebun menyisihkan pendapatan untuk ditabung.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Azanuddin menekankan pentingnya pekebun bergabung dalam kelompok tani atau koperasi. Kelembagaan yang kuat dinilai akan memudahkan penyelesaian persoalan bersama sekaligus membuka akses terhadap program pemerintah maupun pihak nonpemerintah.

“Untuk bisa meraih itu, maka pekebun harus berkelompok atau tergabung dalam koperasi,” katanya.

Azanuddin juga mengingatkan peserta agar memperhatikan status lahan kebun. Ia mengarahkan pekebun untuk memastikan lahan berada di areal penggunaan lain (APL) serta menghindari kawasan hutan dan kawasan gambut.

Selain itu, perbaikan teknik budi daya harus berjalan seiring dengan pengelolaan lingkungan. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola perkebunan secara berkelanjutan.

“Hal ini penting untuk menghindari dan meminimalkan bencana dari aktivitas perkebunan kita,” ujarnya.

Ia turut mendorong pekebun mengikuti pendataan untuk memperoleh Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) melalui pemerintah kabupaten. Selanjutnya, pekebun diharapkan dapat mempersiapkan diri mengikuti sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) maupun Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Menurut Azanuddin, peningkatan kapasitas pekebun sejalan dengan visi dan misi Gubernur serta Wakil Gubernur Aceh, terutama dalam mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis sektor unggulan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kelapa sawit, kata dia, merupakan salah satu komoditas unggulan daerah dan nasional. Karena itu, pengembangannya perlu disertai peningkatan kemampuan pekebun, selain pemenuhan kebutuhan bibit, pupuk, air, serta sarana dan prasarana pendukung. Perhatian terhadap kapasitas petani juga diperlukan pada sektor tanaman pangan, seperti padi dan jagung.

Pelatihan ini merupakan kerja sama Distanbun Aceh, Direktorat Jenderal Perkebunan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Dinas Perkebunan dan Peternakan Aceh Timur, serta Best Planter Indonesia (BPI). Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia perkebunan untuk mendorong produksi, produktivitas, dan pendapatan pekebun sawit.

Pelaksanaan pelatihan oleh BPI dipimpin Direktur Operasional Friandito. Pembukaan turut dihadiri Kepala Bidang PPSDMP Distanbun Aceh, Mukhlis, Ketua Panitia Butet Hartati, para instruktur, dan sejumlah staf terkait.

Pada kesempatan yang sama, Mukhlis memberikan materi mengenai penguatan kelembagaan kelompok tani, mulai dari proses pembentukan hingga pendampingan setelah kelompok terbentuk.

“Insya Allah, kita akan bantu bersama dengan para penyuluh dan petugas di kabupaten/kota,” kata Mukhlis. []

Share berita ini

dialeksis.com