DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) memperkuat pencegahan infeksi Human Papillomavirus (HPV) melalui program imunisasi gratis, skrining, dan edukasi masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko kanker serviks serta sejumlah kanker lain yang berkaitan dengan HPV.
Ancaman kanker akibat HPV masih menjadi persoalan kesehatan serius. Setiap tahun, sekitar 22.000 perempuan di Indonesia meninggal akibat kanker leher rahim atau kanker serviks. Secara global, data 2022 mencatat sekitar 95.000 laki-laki terkena kanker akibat HPV dan 44.000 di antaranya meninggal dunia.
Salah satu upaya pencegahan yang diperkuat pemerintah adalah pemberian imunisasi HPV gratis bagi anak perempuan dan laki-laki usia 10-11 tahun atau kelas 5 SD.
Program imunisasi HPV untuk anak perempuan telah berjalan secara nasional sejak 2023. Sementara itu, perluasan imunisasi bagi anak laki-laki mulai dilaksanakan pada 2026 di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali.
Data Kemenkes mencatat cakupan imunisasi HPV pada anak perempuan kelas 5 SD pada 2026 mencapai 83,5 persen. Adapun cakupan pada anak laki-laki di tiga provinsi wilayah perluasan mencapai 88 persen. Sebelumnya, cakupan imunisasi anak perempuan pada 2025 tercatat sebesar 90,8 persen.
Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, MARS, menjelaskan imunisasi sebaiknya diberikan sejak usia anak karena dapat memberikan perlindungan lebih tinggi.
Menurutnya, imunisasi HPV pada anak usia 9-14 tahun dengan satu dosis dapat memberikan perlindungan sekitar 88 persen. Sementara pemberian vaksin pada usia di atas 20 tahun dengan dua dosis diperkirakan memberikan perlindungan sekitar 60 persen.
Selain imunisasi, pemerintah memperkuat pencegahan melalui skrining kanker serviks bagi perempuan dewasa mulai usia 30 tahun. Pemeriksaan ini diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan vaksin HPV aman dan efektif karena telah melalui uji klinis sebelum digunakan dalam program nasional.
Reaksi setelah imunisasi dapat berupa nyeri, bengkak, kemerahan di area suntikan, demam, pusing, atau mual. Namun, reaksi tersebut umumnya ringan dan dapat sembuh.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada hoaks terkait vaksin HPV. Edukasi berbasis bukti diperlukan agar orang tua memahami pentingnya imunisasi sebagai perlindungan dini terhadap kanker akibat HPV. [in]
Share berita ini