DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penguatan industri pelumas dalam negeri melalui peningkatan kapasitas manufaktur. Langkah ini dinilai dapat meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri pendukung, sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan investasi manufaktur menjadi penting karena membawa kapasitas produksi dan teknologi baru ke Indonesia. Hal itu disampaikannya saat meresmikan Shell Grease Manufacturing Plant (GMP) di Marunda, Bekasi, Selasa (15/9/2026).
"Investasi ini penting karena menghadirkan kapasitas produksi dan teknologi manufaktur baru, sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pendukung di dalam negeri," ujar Agus.
Menurutnya, penguatan manufaktur sejalan dengan kinerja industri pengolahan nonmigas (IPNM). Pada kuartal II 2026, sektor tersebut tumbuh 5,32% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29%.
Shell sebelumnya telah mengembangkan Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) di Marunda pada 2022. Fasilitas itu memiliki kapasitas produksi pelumas hingga 300 juta liter per tahun. Kini, GMP menambah kapasitas produksi grease sebesar 12.000 ton per tahun.
Agus menyebut kapasitas GMP Marunda menempatkan fasilitas tersebut dalam tiga besar fasilitas grease Shell secara global. Kehadiran pabrik ini juga berpotensi menekan impor grease.
Pada 2025, impor produk grease dengan kode HS 27101944 mencapai sekitar 22.377 ton. Dari jumlah itu, impor grease Shell Gadus tercatat sekitar 11.757 ton. Dengan GMP beroperasi, produk tersebut yang sebelumnya didatangkan dari luar negeri kini dapat diproduksi di Indonesia.
Shell juga telah melibatkan lebih dari 50 vendor domestik dengan nilai pengadaan sekitar Rp30 miliar per tahun. Kemenperin berharap penggunaan pemasok lokal terus diperluas agar manfaat investasi menyebar ke industri pendukung.
Selain itu, fasilitas Marunda menerapkan teknologi otomatisasi serta sejumlah upaya efisiensi energi, termasuk panel surya yang menghasilkan sekitar 1,1 juta kWh per tahun. Agus berharap GMP Marunda ke depan tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga menjadi basis produksi untuk pasar regional dan global. [in]
Share berita ini