DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemulihan sawah terdampak bencana di Aceh mulai membuahkan hasil. Lebih dari 4.100 hektare sawah yang sebelumnya mengalami kerusakan ringan dan sedang telah kembali ditanami. Dari lahan terdampak tersebut, sekitar 1.528 hektare sudah dipanen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, mengatakan perkembangan itu menjadi kabar menggembirakan bagi petani yang berupaya memulihkan sumber penghidupan setelah bencana.
Hal itu disampaikan Azanuddin kepada awak media di sela-sela Silaturahmi Akbar Warga Aceh Tenggara (IKAGARA), peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan peusijuk Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Azanuddin, dari 23.818 hektare sawah rusak ringan yang masuk penanganan tahap pertama, sekitar 2.829,19 hektare telah ditanami dan 1.100 hektare sudah dipanen. Sementara itu, dari 4.393 hektare sawah rusak sedang, sekitar 1.340 hektare telah ditanami dan 428 hektare sudah menghasilkan panen.
Ia menyebut luas tanam dan panen di lapangan berpotensi lebih besar daripada angka yang tercatat. Sebab, sejumlah kabupaten belum menyampaikan seluruh laporan perkembangan kepada pemerintah provinsi.
Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh terus memperbarui data melalui koordinasi dengan dinas pertanian kabupaten/kota agar perkembangan pemulihan dapat dipantau secara lebih lengkap.
Pemulihan Berjalan Dua Tahap
Azanuddin menjelaskan, hingga 9 Oktober 2026, serapan anggaran pemulihan sawah di Aceh telah mencapai 56,7 persen. Program tersebut dilaksanakan dalam dua tahap, meliputi optimalisasi lahan atau oplah untuk sawah rusak ringan dan rehabilitasi untuk sawah rusak sedang.
Tahap pertama mencakup 28.211 hektare, terdiri atas 23.818 hektare lahan oplah dan 4.393 hektare lahan rehabilitasi.
Pada kegiatan oplah, pekerjaan konstruksi dilaporkan telah menjangkau sekitar 15.040 hektare, sedangkan pengolahan lahan mencapai sekitar 7.035 hektare. Adapun konstruksi rehabilitasi sawah rusak sedang telah selesai di seluruh areal tahap pertama, dengan pengolahan lahan mencapai sekitar 3.477 hektare.
Sementara itu, tahap kedua mencakup 12.641 hektare, terdiri atas 3.253 hektare oplah dan 9.388 hektare rehabilitasi. Pekerjaan konstruksinya direncanakan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober 2026.
Pemulihan juga disertai pembangunan infrastruktur pendukung pertanian. Azanuddin menyebut rata-rata serapan anggaran seluruh kegiatan pendukung telah mencapai 80,8 persen. Khusus jaringan irigasi tersier, serapan anggarannya dilaporkan mencapai 100 persen.
Menurut dia, Gubernur Aceh mengarahkan agar penanganan sawah rusak ringan dan sedang diselesaikan tahun ini sehingga petani dapat segera kembali berproduksi.
“Koordinasi harus terus diperkuat, sehingga setiap kendala yang muncul dapat segera dicarikan jalan keluarnya,” kata Azanuddin.
Ia menambahkan, pemulihan tersebut sejalan dengan misi Pemerintah Aceh untuk mewujudkan kemandirian rakyat melalui swasembada pangan, energi, air, serta pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Dorong Pendampingan Petani
Azanuddin meminta dinas pertanian kabupaten/kota terus memacu pekerjaan sekaligus mendampingi kelompok tani penerima program. Ia menilai kerja sama antarpihak menjadi penentu agar pemulihan dapat diselesaikan tepat waktu.
Sebagai salah satu hasil pemulihan, panen padi telah dilakukan pada lahan yang sebelumnya mengalami kerusakan sedang di Aceh Barat bersama Bupati Tarmizi dan pihak terkait. Kegiatan panen pada lahan terdampak bencana juga direncanakan berlangsung dalam waktu dekat di Aceh Tamiang.
Ia mengapresiasi keterlibatan petani, kelompok tani, TNI, jajaran Kementerian Pertanian, pemerintah kabupaten/kota, penyuluh, BBRMP Aceh, penanggung jawab swasembada pangan Aceh, BMKG, BPS, BWS, media, lembaga swadaya masyarakat, serta pihak lain yang mendukung proses pemulihan.
Sawah Rusak Berat Masih Didata
Untuk sawah rusak berat, Azanuddin mengatakan pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota masih memperbarui data. Berdasarkan pendataan Februari 2026, luasnya tercatat sekitar 16.283 hektare.
Angka tersebut diperkirakan berkurang setelah pembaruan data Oktober. Namun, luas akhirnya masih menunggu penyelesaian pendataan yang ditargetkan rampung pada pertengahan bulan ini.
Hasil pendataan itu akan disampaikan kepada pemerintah pusat melalui surat Gubernur Aceh sebagai dasar pengajuan penanganan. Azanuddin berharap dukungan pemulihan sawah rusak berat dapat diperoleh pada 2027, baik melalui Kementerian Pertanian maupun pihak lainnya.
Selain persawahan, bencana November 2025 juga berdampak pada sekitar 60.438 hektare lahan perkebunan. Komoditasnya meliputi kelapa sawit, kopi, kakao, pinang, karet, kelapa dalam, serai wangi, tembakau, dan tanaman lainnya.
Menurut Azanuddin, bantuan Kementerian Pertanian yang sedang berproses mencakup sekitar 40.418 hektare, terdiri atas kopi arabika seluas 30.039 hektare, kakao 9.054 hektare, kelapa 830 hektare, dan karet 495 hektare.
Pelaksanaannya berada pada tahapan berbeda. Sebagian bantuan telah disalurkan, sementara lainnya masih dalam proses penyiapan calon petani dan calon lokasi (CPCL) serta pembibitan.
Program tersebut dilaksanakan melalui satuan kerja pusat dan balai unit pelaksana teknis pusat, dengan target penyelesaian pada akhir 2026.
Azanuddin menegaskan pihaknya terus membangun komunikasi dan kerja sama agar pemulihan sawah serta perkebunan dapat membantu petani kembali menjalankan aktivitas produksi.[]
Share berita ini