DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kasus HIV/AIDS di Banda Aceh menunjukkan peningkatan signifikan dalam hampir dua dekade terakhir. Berdasarkan data yang disampaikan Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, jumlah kumulatif kasus meningkat dari 10 kasus pada 2008 menjadi 942 kasus hingga 2026.
Farid mengatakan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama karena kelompok usia produktif menjadi salah satu kelompok yang banyak terdampak. Ia pun mendorong kader remaja Posyandu ikut berperan dalam memberikan edukasi tentang HIV/AIDS kepada teman sebaya dan masyarakat.
“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri,” ujar Farid saat membuka kegiatan penyuluhan kesehatan remaja bertema “Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS” di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh tersebut berlangsung selama dua hari, 29-30 September 2026, dan diikuti 50 remaja putri dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo.
Farid menjelaskan, pada 2008 tercatat 10 kasus, terdiri atas sembilan kasus HIV dan satu kasus AIDS. Jumlah itu meningkat menjadi 36 kasus pada 2018, lalu 147 kasus pada 2024.
Sementara hingga Agustus 2026, tercatat 68 kasus baru yang terdiri dari 49 kasus HIV dan 19 kasus AIDS. Secara kumulatif sejak 2008 hingga 2026, terdapat 942 kasus, yakni 771 kasus HIV dan 171 kasus AIDS.
“Jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya terdapat 10 kasus, hingga 2026 jumlah kumulatif sudah mencapai 942 kasus. Artinya, terjadi peningkatan hingga 94 kali lipat,” kata Farid.
Menurut Farid, edukasi menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penularan sekaligus mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Remaja, kata dia, perlu memahami perilaku yang berisiko maupun tidak berisiko serta mengetahui langkah pencegahan yang tepat.
Ia juga meminta kader remaja Posyandu tidak berhenti setelah mengikuti pelatihan. Mereka didorong menjadi edukator sebaya di lingkungan masing-masing.
“Setelah pelatihan ini, pulang ke gampong dan sampaikan kepada setidaknya 10 teman tentang bahaya serta cara pencegahan HIV/AIDS,” ujarnya.
Farid juga mengingatkan pentingnya menjauhi rokok, vape, NAPZA, dan perilaku berisiko lainnya. Di sisi lain, ia meminta masyarakat tidak mengucilkan ODHA karena stigma dapat membuat seseorang enggan mendapatkan pengobatan.
“Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan,” katanya.
Sementara itu, Ustaz Febri Sugianto dari Thibbun Nabawi menyampaikan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan rohani. Remaja perlu menjaga pola makan, berolahraga, mengelola stres, menjaga kebersihan, serta memperkuat ibadah.
Dalam kegiatan tersebut, drg Supriayadi R, M.Kes dari Dinas Kesehatan Banda Aceh membawakan materi tentang perilaku berisiko remaja, seks bebas, narkoba, dan HIV/AIDS. Adapun dr Cut Nonda Maracilu, Sp.OG, memberikan materi mengenai pola hidup sehat dan pencegahan HIV/AIDS. [*]
Share berita ini