Tiga Singkatan Horor Bagi Pejabat Nanggroe

DIALEKSIS.COM | Opini - Di ’nanggroe keuneubah endatu’, ada sebuah tradisi tak tertulis yang jauh lebih mendebarkan daripada menyaksikan laga penentuan pertandingan sepakbola saat injury time. Fenomena itu adalah menanti kabar mutasi pejabat. 

Bagi para pemangku jabatan di lingkungan Pemerintah Aceh mulai dari pejabat eselon III, kepala dinas, hingga kursi empuk sekretaris daerah ada tiga akronim paling menakutkan. Tak ada mimpi buruk yang lebih mengerikan daripada terbangun pada suatu pagi menemukan nama mereka sudah ditukar dengan tiga awalan sakral: Plh (Pelaksana Harian), Plt (Pelaksana Tugas), atau Pj (Penjabat). 

Tiga singkatan ini bagai monster nan jelita yang siap menerkam kenyamanan kursi empuk kapan saja. Di daerah lain, ketiga istilah tersebut mungkin sekadar tata kelola administrasi negara yang lumrah. Namun di Aceh, trio akronim itu bertransformasi menjadi roller coaster emosional yang sanggup membuat asam lambung dan gula darah seorang pejabat melonjak drastis.

Fenomena rotasi alias bongkar-pasang pejabat di Aceh belakangan memang tergolong ajaib bin aneh. Bayangkan, seorang pejabat baru saja dilantik. Karangan bunga ucapan selamat di halaman kantor bahkan belum sepenuhnya layu. Spanduk ucapan “Selamat & Sukses” masih membentang gagah di media lokal. Dan, sang pejabat masih dalam fase "bulan madu" sibuk merumuskan visi-misi keren serta menata meja kerja agar terlihat estetik.

Tapi, belum sempat strategi program kerja disahkan untuk dieksekusi, hembusan angin kencang dari lorong pimpinan sudah membawa rumor mematikan. Bisik-bisik itu makin kencang dibahas di warung-warung kopi, kantin kantor dan bahkan media sosial. “Minggu depan, ada pelantikan Plh atau Plt baru di Dinas A.” ”SK Sekda sudah di Istana.”

Seketika, buyar sudah segala rencana megah sang pejabat. Masa ’honeymoon’ yang dibayangkan bakal diisi dengan kunjungan kerja dan foto-foto dinas berwibawa, mendadak berubah menjadi babak musyawarah darurat. Pejabat yang tadinya tersenyum lebar di depan kamera, mendadak murung dan sibuk melihat kalender. Ia bertanya-tanya dosa birokrasi apa yang membuat usianya di dinas tersebut lebih pendek daripada umur simpan roti tawar. Belum lagi cerita balik modal.

Begitu rumor mutasi mulai mengudara, ketenangan kantor langsung sirna. Di sinilah panggung komedi birokrasi ala bansa tseuneubeh dimulai dengan begitu dramatis. Sang pejabat yang panik tak akan tinggal diam. Jurus lobi-lobi politik tingkat tinggi langsung diaktifkan. Targetnya jelas: mendekati penguasa, baik itu Gubernur, Bupati, maupun Wali Kota.

Namun, karena pintu depan biasanya dijaga ketat, penuh antrean dan sulit ditembus, jalur paling laris manis tentu saja melalui “ring satu”. Merekalah para pembisik, orang dekat, atau kelompok yang sering kita sebut sebagai people in.

Pertemuan 'remang-remang' di kafe langsung dijadwalkan. Dan tentu saja, diplomasi tingkat ini tak cukup hanya mengandalkan rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, atau skor kinerjanya yang mentereng. Lobi birokrasi kita punya bahasa universalnya sendiri: bungong jaroe.

Jika lobi sudah semakin krusial dan rasa kopi kian pahit, bungong jaroe naik kelas menjadi ”asoe taih”. Kapasitas dan profesionalitas? Ah, itu urusan belakangan yang tak terlalu penting. Dalam rumus penyusunan kabinet bongkar-pasang, besarnya asoe taih sering kali dianggap jauh lebih presisi dibanding analisis SWOT mana pun yang dibuat oleh konsultan independen.

Begitulah dinamika unik yang terjadi di balik megahnya gedung-gedung pemerintah kita. Ketika jabatan dipandang sebagai komoditas yang bisa dipergilirkan dalam hitungan bulan, fokus utama pejabat bukan lagi bagaimana membangun pelayanan publik prima atau menyelesaikan proyek infrastruktur yang mangkrak. Prioritas utamanya bergeser menjadi: bagaimana caranya bertahan hidup dari ancaman Plh, Plt, dan Pj berikutnya.

Setiap kali ada pengumuman pelantikan mendadak di aula pendopo, jantung para pejabat berdetak kencang bak genderang perang. Mereka yang namanya aman bisa bernapas lega untuk beberapa minggu ke depan. Sementara yang terkena ”rotasi penyegaran” harus kembali memutar otak dan mengumpulkan "resources" untuk putaran lobi berikutnya.

Maka dari itu, bagi rakyat yang pagi ini sedang duduk santai menyeruput kopi sanger panas atau kopi sareng pahit, nikmatilah sruputan Anda dengan tenang. Setidaknya, Anda tidak perlu cemas hanya untuk menemukan bahwa status kehidupan Anda telah diubah menjadi Pelaksana Tugas oleh pembisik meuligoe karena Anda bukan pejabat. PEACE…!!!

Nurdin Hasan | Jurnalis Freelance

Share berita ini

dialeksis.com