Narasi

DIALEKSIS.COM - Hidup boleh sekali, namun para pengkhianat bisa merasakan mati hingga tiga kali. Di Inggris abad pertengahan hukuman terkejam akan diberikan kepada orang yang merongrong kerajaan dari dalam, namanya Godly Butchery, lebih dikenal dengan Hukuman Tiga Kali Mati.  

Terpidana akan diseret dengan kuda ke lapangan terbuka tempat dia akan menjalani hukuman. Di lapangan itu sudah menunggu kerumunan penonton yang datang bagaikan ingin menyaksikan akrobat. Lalu dihadapan orang tua, lelaki, perempuan hingga anak-anak tubuh terhukum akan disayat dan dikuliti. Setelah cukup lama menderita ia akan ditarik dari dua sisi hingga terpisah, sebagian digantung dulu baru dibelah jadi empat.

Bukan hanya di Inggris hiburan dari prosesi hukum gantung terhadap penjahat yang dilaksanakan di depan publik juga berlaku di seluruh Eropa, setidaknya sampai tahun 1870. Cuma yang terkejam, menurut National Geographic, memang Godly Butchery di Inggris.

Berubahnya persepsi orang Eropa terhadap ritual hukuman gantung menurut Stave Pinker profesor dalam ilmu psikologi melalui bukunya The Better Angel of Our Nature setelah meningkatnya literasi di benua biru tersebut. Sejak tahun 1840 rakyat biasa disana mulai memiliki akses untuk membaca buku dan buku yang banyak dibaca adalah novel.

Menurut Stave Pinker, novel membuat pembaca memposisikan dirinya seperti tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Dimana banyak novel menampilkan kegetiran hidup dari sang tokoh. Efeknya di dunia nyata hal ini menyebabkan meningkatkan rasa simpati terhadap derita kepada orang lain, termasuk terhadap orang yang divonis gantung di depan publik. Lantaran kesadaran ini sejak tahun 1870 hukuman gantung yang dilaksanakan di Eropa tidak lagi dilakukan di depan orang ramai.

Bacaan adalah narasi. Namun narasi yang mampu membawa perubahan bisa dalam bentuk lain, bahkan instan berupa seuntai syair. Seperti yang dibacakan oleh Abu Miskin ad-Darimi, penyair yang kemudian memutuskan menjadi sufi dan menghabiskan waktunya dengan selalu berada di Mesjid.

Suatu hari karena ingin membantu seorang pedagang yang hampir bankrut karena dagangannya berupa pakaian berwarna hitam tak laku, Miskin Ad Darimi datang ke pasar Kota Madinah dan membacakan syair:

"Duhai manusia, tolong sampaikan pada perempuan cantik berkerudung hitam. Apa yang telah engkau perbuat pada hamba yang memilih kezuhudan ini.

Dulu, ia selalu bersiap salat, bersimpuh menghadap Tuhan. Kini, bahkan ia berdua bersamanya di pintu rumah Tuhan. Kau renggut darinya agama dan keyakinan. Kau tinggalkan dia dalam kebingungan tanpa tuntunan.

Syair tersebut sontak merubah persepsi perempuan Arab tentang pakaian hitam yang dulunya tak pernah diminati. Mereka menjadi penasaran, membeli dan meminta hadiah baju dan hijab berwarna hitam. Sehingga warna gelap menjadi pakaian yang popular bagi Wanita Arab, bahkan hingga kini.

Kombinasi antara pesan yang disampaikan dan tokoh yang menyampaikannya membuat narasi sederhana ini punya kekuatan yang besar.

Di Malaysia Tun Mahathir Muhammad pada Februari 1991 membangun narasi besar secara terencana dengan tajuk “Wawasan 2020”. Tujuan dari Wawasan 2020 atau Visi 2020 adalah memajukan negara Malaysia pada tahun 2020. Maju bukan hanya dalam bidang ekonomi namun juga politik, sosial, kerohanian, kejiwaan dan kebudayaan.

Meski pada bulan Februari 2020 Tun Mahathir harus membuat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan PM karena bubarnya koalisi pendukungnya, namun banyak capaian pembangunan diperoleh Malaysia dengan visinya tersebut.

Sir Paul Collier seorang profesor dari Oxford University yang banyak meneliti di kawasan miskin yang terkucil secara ekonomi menyatakan pentingnya membangun narasi sebagai langkah awal pengentasan kemiskinan. Nilai yang paling penting dirubah dari masyarakat yang ingin maju secara ekonomi menurutnya adalah prinsip zero sum game menjadi positive sum game. Prinsip kalah menang menjadi nilai-nilai yang saling menguntungkan.

Penulis: Lukman Age Pendiri The Aceh Institute

Share berita ini

dialeksis.com