Masalah Utama Aceh Itu Bernama “Kekhususan”

DIALEKSIS.COM - Aceh punya banyak sekali orang-orang pintar, punya banyak sekali orang-orang hebat, tapi kenapa Aceh seperti ini? Terus terpuruk, terus tenggelam, terus terisolir, terus menjadi eksklusif, justru dengan formalisasi syariat, justru dengan segala kekhusuannya.

Aceh semakin tenggelam, terlena, mabok dan ektase dengan syariat Islamnya, sementara batu baranya terus diangkut, hutan terus digunduli, air semakin dicemari, rumah ibadah semakin sulit didirikan, ketika datang banjir bandang, lalu yang disalahkan konser musik. Pembalakan liar tidak pernah salah, karena di situ ada cuan, tidak ada Tuhan. Akhirnya, agama yang dipraktekkan di Aceh bukanlah demi Tuhan, tetapi demi cuan.

Memang, jalan paling masuk akal, jalan tol paling mudah untuk memiskinkan Aceh, jalan paling praktis membodohkan orang Aceh adalah melalui formalisasi syariat, keterbelakangan dan kebodohan ini sudah berlansung 20 tahun.

Sampai saat ini, tidak ada harapan untuk membuat Aceh lebih baik dan lebih maju. Berharap pada kampus, akademisi kampus pun mabok agama, output mengajar di kampus untuk membela agama, bukan untuk membela kebebasan berfikir, para intelektualnya pun fana membabi buta pada agama, tidak berani bicara jika tidak untuk scopus, semuanya menjadi "Safety Player".

Kampus yang sejatinya harus "subaltern", memberi ruang kepada semua pemikiran, memberi ruang kepada semua budaya, memberi ruang kepada semua kebebasan berekspresi secara bebas dan tanpa batas, berubah menjadi mitra untuk naskah akademik formalisasi syariat Islam. 


Betapa besar energi terbuang percuma dan sia-sia , energi yang seharus menjadi nuklir, namun berubah menjadi energi kincir untuk udang vaname. Kampus yang begitu besar, setiap tahun menerima ribuan intelektual, legacy-nya formalisasi syariat Islam, bukan pengetahuan.

Lain lagi dengan para kepala daerah. Kita sangat heran dan muak sekali, sampai detik ini masih ada kepala daerah di Aceh, yang dihadapan publik sering mengucapkan, "Saya mendukung sepenuhnya pelaksanaan syariat Islam di Aceh ".

kenapa mesti diucapkan, tanpa diucapkan pun itu memang sudah imperatif, sudah tanggung moral Anda sebagai seorang muslim, lalu mengapa kalimat-kalimat itu harus diucapkan dihadapan publik?

Cuma tanggung jawab moral Anda mendukung syariat Islam itu, bukan syariat Islam seperti di kepala Anda, syariat Islam untuk cambuk orang, syariat Islam untuk razia perempuan, syariat Islam yang selalu menyalahkan konser musik, syariat Islam untuk keuangan syariah yang eksklusif, tetapi syariat Islam yang rahmatan lil'alamin, syariat Islam yang mensejahterakan, syariat Islam yang menjaga lingkungan, syariat Islam yg membolehkan ada bioskop, membolehkan adanya konser musik.

Para politisi lain lagi kesehariannya. Para politisi yang modalnya ujian persamaan, yang modalnya premanisme, malas membaca, malas menganalisa, miskin gagasan, yang dimana-mana sering bicara akhirat, juga langsung tampil menjadi pembela agama, bukan pembela hak-hak rakyat. 

Politisi jenis ini paling suka dengan isu-isu agama , karena "low cost high profit", modal sekecil-kecilnya, bahkan tanpa modal sama sekali, mendapatkan keuntungan politik sebesar-besarnya. 

Lalu bagaimana dengan agamawan? Di Aceh, agamawan itu seperti yang dikatakan oleh Jalaluddin Rumi: "Para ahli-ahli fikih, para pembuat hukum itu sebenarnya membuat hukum untuk diri mereka sendiri, tidak ada hubungan sama sekali dengan Tuhan, supaya tidak ada orang yang berzina, supaya tidak ada orang yang mabuk, supaya tidak ada orang yang berjudi, supaya mereka tenang dan tidak ada yang mengusik, jadi tujuannya untuk mereka sendiri, tidak ada hubungan sama sekali dengan Tuhan”. Seperti inilah gambaran yang terjadi di Aceh.

Politisi, akademisi, birokrat yang kaya gagasan, kaya ide, brilliant, tidak akan pernah tampil menjadi pembela agama, tidak akan pernah muncul sebagai pembela formalisasi syariat, tetapi mereka tampil sebagai pembela kemajuan, pembela kesejahteraan, pembela kebebasan berekspresi. Lalu jika kita menemukan ada politisi, akademisi, birokrat yang sering bicara "hormatilah kekhususan Aceh..Aceh berbeda..dan sebagainya ", maka tidak perlu dianalisa lagi, bisa dipastikan bahwa mentalnya bermasalah dunia dan akhirat dan pasti tidak pernah mau berfikir untuk memajukan Aceh dan hanya berfikir untuk memajukan dirinya sendiri. 

Di dunia ini, narasi yang paling ambigu dan paling bermasalah adalah "kekhususan Aceh", karena ini paling bertentangan dengan spirit Islam rahmatan lil'alamin. 

Dalam kasus pendirian rumah ibadah misalnya, mereka-mereka ini selalu bicara, “hormatilah kekhususan Aceh”, memang kekhususan Aceh itu apa?

Jika kekhususan Aceh itu memang Syariat Islam, lalu mempersulit pendirian ruma ibadah apa itu Islam rahmatan lil’alamin? Menghambat dan mempersulit para seniman, budayawan, pekerja seni, untuk mengekspresikan kebebasan karya-karyanya? Apakah ini rahmatan lil’alamin ? Apa model kekhususan begini yang selalu dibangg-banggakan. 

Padahal di akhirat pun tidak akan ada pertanyaan apa kekhususan Aceh. 


Jika ada yang melabelkan “anti syariat Islam” untuk orang-orang yang kritis terhadap implementasi syariat Islam, justru kebalikannya, yang melabelkan itulah yang anti terhadap syariat Islam rahmatan lil’alamin dan justru orang-orang yang kritislah yang membela Islam, membela Islam yang indah dan rahmatan lil’alamin, dari pembajakan oleh orang-orang yang ingin menerapkan syariat Islam dengan model abad pertengahan dan model Taliban.   

Aceh kaya akan sumber daya Alam, dengan kekhususannya Aceh bisa menjadi sebuah provinsi yang kosmopolit, modern dan multikultur. Tetapi sudah lemah secara politik, sudah tidak mahir dalam lobby dan membangun bergaining, sibuk pula bicara tentang kekhususan Aceh dalam bidang agama, habis waktu dan habis energi bicara syariat Islam yang sama sekali tidak ada hubunganya dengan kesejahteraan rakyat. 

Giliran bicara kekhususan dalam bidang politik, dalam bidang ekonomi, berkoar-koar hanya di media dan acara-acara resmi, padahal setelah itu diam menikmati cuan.  

Dunia terus berubah dan cepat sekali perubahannya. Otoritas agama, sekalipun berkoalisi dengan kekuasaan, tidak akan sanggup membendung arus deras perubahan, arus deras revolusi yang akan terjadi. Semua akan berubah tanpa pernah bisa diprediksikan sama sekali, sama seperti tidak ada yang bisa memprediksikan revolusi perancis, raja yang begitu berkuasa, bisa dipancung oleh rakyatnya. 

Demikian juga Tsar Rusia, bisa tumbang dengan revolusi Bolshevik, hatta juga Turki Usmani, saat itu semua mengatakan tidak mungkin kekhalifahan ini runtuh, yang terjadi adalah mereka runtuh dan hancur berkeping-keeping, apakah ini bisa terjadi pada syariat Islam Aceh? Mungkin saja.[]


Penulis: T M Jafar Sulaiman

Pemerhati Syariat Islam dan Sosial Politik

Share berita ini

dialeksis.com