Konser Dilarang! Banjir Datang!

“Kameng Gle Pajoh Jagong, Kameng Gampong Njang Keunong Geulawa”

Itulah sebuah ungkapan hadih maja yang layak menggambarkan perdebatan masyarakat Aceh di media sosial tentang penyebab bencana banjir. Saat ini masyarakat Aceh terbelah menjadi dua kelompok dalam hal mencari akar penyebab banjir. 

Kelompok pertama berpendapat penyebab banjir karena ulah perilaku sebagian masyarakat Aceh yang dianggap mulai senang kepada kehidupan hura-hura. Apabila banjir di Jakarta sasaran kesalahannya terletak pada Gubernur Anies Baswedan. Sedangkan di Aceh yang dijadikan kambing hitam penyebab banjir adalah konser musik. Unik memang !  

Kelompok pertama bersikeras konser musik mempunyai kaitan kuat sebagai penyebab bencana banjir. Pandangan ini diaminkan oleh sebagian besar masyarakat Aceh. 

Nah, pihak kedua sebagai kelompok minoritas mencoba keluar dari pandangan kelompok arus utama. Kelompok kedua sebagai pihak yang kontra: berpendapat bahwa penyebab banjir tidak ada kaitan sama sekali dengan konser musik. Umpama seperti jarak Kutub Utara dengan Kutub Selatan.


Menafsirkan penyebab banjir

Memang tidak sulit mencari literasi secara umum tentang penyebab banjir. Sumbernya bertebaran di internet baik itu dari jurnal ilmiah dan buku hasil penelitian. Mayoritas ilmuwan menyatakan penyebab banjir karena kerusakan lingkungan hidup dan kesalahan tata ruang. Hanya di Aceh ada sekelompok masyarakat berpendapat berbeda: konser musik penyebab bencana banjir.

Keyakinan itu juga patut juga dihargai terlebih orang Aceh terkenal religius dan sangat beradab. Penulis juga tidak setuju apabila digelar konser musik model: joget-jogetan, mabuk-mabukkan, menampilkan perempuan sexy nan erotis di atas panggung. Perilaku menyimpang seperti itu tentu memungkinkan mengundang bala (bencana) serta dicabut keberkahan pada suatu negeri.

Mungkin jenis bala (bencana) yang datang murni tidak ada campur tangan manusia seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, angin topan. Karena di kamus antropologi masyarakat Aceh: Bala itu datang karena ulah perilaku hura-hura dan kemaksiatan. 

Berbeda dengan musibah yang datang tanpa ada perilaku hura-hura dan bermaksiat, memang sudah ketentuan Sang Pencipta untuk menguji kesabaran hamba-Nya.

Pertanyaan pentingnya, kenapa konser musik dianggap penyebab tunggal dalam konteks mengundang bencana banjir?. Terkadang masyarakat cenderung senang membuat narasi kurang rasional mengenai bencana banjir. 

Kalaupun tidak senang kepada konser musik silahkan dilarang tapi jangan hubungkan konser musik sebagai penyebab banjir. Nyatanya jenis bala (bencana) banjir tidak terlepas dari akibat ulah tangan manusia rakus.

Seharusnya bencana banjir itu menjadi momen kita merespon dengan cara berpikir kritis. Hal penting tentang bencana banjir yang perlu disorot akhirnya terlupakan. Inilah yang dikatakan dalam teori governmentality: kondisi kemampuan individu mempelajari dan melakukan kontrol terkait dengan isu politik dan eksploitasi ekonomi Negara (Lemke, 2000).

Tania Li, seorang antropolog berkebangsaan Kanada, menjelaskan lebih lanjut di bukunya “The Will To Improve: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia. (2012)” tentang tafsiran governmentality. 

Ia berpendapat ketika sebuah kebijakan tanpa sebuah kritikan dan ada unsur pembiaran, disitulah celah masuknya kapitalisme untuk menguasai dan mengeksploitasi. Para kapitalis perusak hutan itu pun tertawa melihat kenaifan cara berpikir kita. 

Kapitalis malah semakin bebas dan aman mengeksploitasi alam dengan cara merusak ekosistem hutan tanpa harus merasa bersalah.

Perlu dicatat bahwa dalam pikiran kapitalis tidak mengenal spiritualitas, mereka hanya menyembah keuntungan materi semata. Bagi mata kapitalis kerusakan habitat: hutan menjadi gundul dan kosong itu merupakan suatu keindahan. Seperti kata aktivis lingkungan Naomi Klein dalam bukunya The Shock Doctrine: The Rise of The Disaster Capitalism (2007) : “blank is beautiful”. Di atas puing-puing hutan yang rusak itulah kemudian berpotensi dijadikan aktivitas eksploitasi baru.


Kemungkinan lebih buruk

Seandainya kita mau menyempatkan diri agar berpikir sejenak dan mulai mempertanyakan tentang kondisi hutan Aceh. Seperti yang diketahui hutan Aceh dikenal memiliki dua ekosistem yang luas yaitu Ekosistem Leuser dan Ekosistem Ulu Masen. 

Kedua ekosistem itu kian rusak oleh aktivitas perambahan hutan untuk perluasan lahan industri dan pertambangan. Bagaimana nanti masa depan hutan Aceh yang dijuluki sebagai paru-paru dunia berhenti bernafas ?.

Menurut hasil penelitian kedua ekosistem itu berfungsi sebagai penopang sumber utama kehidupan bagi seluruh masyarakat Aceh dimulai dari pesisir Utara-Timur sampai Barat -Selatan. 

Misalkan di coba bayangkan semewah dan seelitisnya gaya hidup masyarakat Kota Banda Aceh namun urusan air bersih sangat bergantung kepada kelestarian Ekosistem Ulu Masen. Karena Sumber utama air bersih bagi warga Banda Aceh adalah Krueng Aceh dan Mata Ie.

Apa jadinya bila di masa mendatang sumber air bersih warga kota Banda Aceh tidak tercukupi ?. Karena kerusakan hutan Ulu Masen menyebabkan volume air Krueng Aceh berkurang di musim kemarau dan banjir besar ketika musim penghujan. 

Boleh dikata, belum ada teknologi di Aceh mampu menyuling air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Kecuali datang alat penyulingan air bantuan Jerman, itu pun ada ketika pasca Tsunami.


Peran agama menjaga lingkungan hidup

Agar keberlangsungan ekosistem hutan di Aceh selamat dan lestari, mari menyiarkan spirit “dakwah ekologis” ke tengah masyarakat. Letakkan konsep penegakkan Syariat Islam di Aceh secara konstruktif dan bahasan wacana yang lebih luas. 

Sesuai dengan apa yang dikatakan Ziauddin Sardar seorang ilmuwan (futurolog) muslim Inggris. Dia menganjurkan agar Islam rahmatan lil ‘alamin tercermin ke wacana ekologis dan juga diberikan tempat dalam ruang aktivisme Islam.

Sekarang ini banyak intelektual muslim dunia sudah berbicara tentang ecoshopy: Sebuah konsep menjaga lingkungan hidup dengan menggabungkan pendekatan spiritual. 

Langkah praktisnya menganjurkan umat tidak terlalu berlebihan dalam hal konsumtif. Nah ini sangat sejalan dengan salah satu nilai Islam yaitu zuhud -menolak gaya hidup konsumtif-. Otomatis akan mengurangi akumulasi kerja-kerja berlebihan yang dihasilkan dari lembaga ekstraktif (usaha eksploitasi Sumber Daya Alam). Dengan demikian kita umat manusia bisa memperlambat kiamat kerusakan lingkungan (ekosida).


Penulis: Akhsanul Khalis M.P.A., Alumni Magister Administrasi Publik (Konsentrasi Kebijakan Publik), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Share berita ini

dialeksis.com