Konflik Saudi dan Houthi, Ketika Damai Yaman Kembali Terkoyak

DIALEKSIS.COM | Opini - Eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kini bukan lagi sekadar “ketegangan” di perbatasan selatan Jazirah Arab. Ia telah memasuki babak baru yang bisa mengancam kawasan Timur Tengah.

Serangkaian serangan rudal dan drone terhadap Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, yang menewaskan belasan orang dan melukai ratusan lainnya, menandai kembalinya perang ke jantung wilayah Saudi. Sementara Riyadh sebelumnya melakukan serangan udara dan mendukung ofensif pemerintah Yaman untuk merebut kembali wilayah pesisir Laut Merah.

Namun, yang paling mengkhawatirkan bukan hanya intensitas serangan, tetapi kegagalan warisan diplomasi. Gencatan senjata yang relatif bertahan sejak 2022 telah runtuh. Yaman kini kembali menjadi panggung perang proksi yang membawa risiko bagi keamanan regional, ekonomi global, serta nyawa warga sipil.

Perang Yaman bukan konflik yang lahir tiba-tiba. Gerakan Houthi tumbuh pada 1990-an di Saada, Yaman utara. Awalnya ia merupakan perlawanan identitas Zaidi terhadap pengaruh Salafi-Wahabi yang didukung pemerintah Yaman dan Arab Saudi. Dari perlawanan lokal itu, kelompok ini bertransformasi menjadi kekuatan militer-politik paling kuat di Yaman utara.

Titik kritis terjadi pada 2014, ketika Houthi merebut Sana'a dan memaksa pemerintah yang diakui internasional meninggalkan ibukota. Arab Saudi kemudian memimpin koalisi pada 2015 untuk mengembalikan pemerintah itu, dengan dalil memulihkan legitimasi konstitusional dan menahan pengaruh Iran. 

Namun, intervensi itu berubah menjadi perang berlarut. Koalisi pimpinan Saudi menguasai udara dan laut, sementara Houthi bertahan di darat dan membangun kapasitas rudal serta drone yang jauh lebih mematikan.

Kesalahan strategis Riyadh terletak pada asumsi bahwa superioritas militer dapat menghasilkan kemenangan politik. Lebih dari satu dekade, Yaman mengalami krisis kemanusiaan yang dahsyat. Sementara, Houthi justru mengonsolidasi kekuasaan atas wilayah padat penduduk, termasuk ibukota Sana'a. 

Kini, kelompok yang pernah dianggap sebagai aktor non-negara itu mampu menyerang infrastruktur vital Arab Saudi dan menguasai wilayah strategis di pesisir Laut Merah. Bahkan satu persatu daerah yang dikuasai pemerintah Yaman dukungan Saudi direbut pejuang Houthi.

Pemicu utama eskalasi terbaru ini adalah runtuhnya gencatan senjata pada Juli lalu. Kemudian Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melancarkan serangan udara terhadap bandara Sana'a dan beberapa wilayah yang dikuasai Houthi sehingga terjadi pergeseran militer yang cepat di Yaman.

Pada September, Houthi melancarkan serangan ofensif di pesisir Laut Merah. Mereka merebut pelabuhan Mokha dan pulau-pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, saluran pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi arteri penting perdagangan global.

Bagi Arab Saudi, penguasaan Houthi atas Bab el-Mandeb bukan sekadar persoalan teritorial Yaman. Selat itu berdampak langsung pada jalur energi, pelayaran internasional, dan proyek ambisi ekonomi Saudi. Karena itu, Riyadh mendukung ofensif pemerintah Yaman sejak 4 Oktober, dengan sasaran merebut kembali Mokha, Mayyun, dan wilayah sekitar Bab el-Mandeb.

Houthi menjawab dengan logika asimetris Mereka tidak mampu mengalahkan koalisi udara Saudi secara konvensional, tetapi dapat membuat biaya perang terasa nyata di Riyadh. 

Rudal dan drone diarahkan ke bandara, fasilitas minyak, dan basis-basis militer. Serangan terhadap bandara Riyadh pada Sabtu lalu yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang adalah bukti bahwa ancaman Houthi telah menembus garis pertahanan yang selama ini dianggap tangguh.

Perang proksi risiko global

Konflik ini tak dapat dibaca terpisah dari ketegangan AS-Iran. Houthi merupakan sekutu utama Iran. Sementara Arab Saudi berada di kubu yang berlawanan secara geopolitik meski hubungan Riyadh dan Teheran pernah mengalami normalisasi diplomatik. 

Ketika ketegangan AS dan Iran memanas setelah Washington dan teroris zionis Israel membombardir Iran selama 38 hari sejak 28 Februari 2026. Serangan dalam skala kecil sporadis sering terjadi hingga kini dan Iran pun terus membalas. Di sini, Yaman menjadi medan bagi Iran untuk menekan Saudi dan sekutu Barat tanpa harus terlibat langsung dalam perang terbuka.

Di sisi lain, Saudi memilih kembali terjun secara militer karena merasa kepentingan strategisnya terancam. Tetapi, pilihan itu sarat paradoks. Semakin besar intervensi Riyadh, kian kuat narasi Houthi bahwa mereka sedang melawan penjajahan asing dan mempertahankan Yaman. 

Serangan terhadap Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, yang menimbulkan korban sipil dan dikutuk oleh aliansi Saudi, secara politik telah memberikan Houthi alat mobilisasi di dalam dan luar negeri.

Kini, risiko terbesar terletak di Selat Bab el-Mandeb. Penguasaan atau gangguan terhadap selat ini dapat mengganggu arus perdagangan dan energi global. Houthi telah mengancam menutup ruang udara Saudi dan menyerang fasilitas minyak. Ini adalah sinyal bahwa konflik tak lagi terkurung di Yaman, tetapi berpotensi melumpuhkan ekonomi regional.

Kalau konflik terus berlanjut, maka korban terbesar tetap rakyat Yaman. Sejak perang kembali pecah, sekitar 200.000 orang dilaporkan telah mengungsi. Sementara itu pertempuran di sekitar Taiz, Hodeidah, Marib, dan pesisir Laut Merah memperburuk akses kemanusiaan. Ironisnya, pihak-pihak yang mengklaim memperjuangkan kedaulatan atau keamanan justru membuat kehidupan sipil semakin tidak terlindungi.

Arab Saudi kini menghadapi dilema brutal. Mundur berarti membiarkan Houthi makin menguat cengkraman di Bab el-Mandeb dan memperkuat posisi tawar Teheran. Bertahan dalam perang itu pun berarti menanggung serangan di wilayahnya sendiri, kerugian ekonomi, dan risiko keterlibatan lebih dalam dalam konflik yang selama ini sulit dimenangkan. 

Riyadh bahkan dilaporkan kini mencari dukungan pertahanan dari Turki dan Pakistan, aliansi baru yang dibentuk tiga negara. Ini pertanda bahwa kapasitas militer Saudi tak lagi dianggap cukup untuk menahan ancaman asimetris.

Di sisi lain, Houthi tampak semakin yakin bahwa waktu berpihak kepada mereka. Setiap serangan Saudi yang menimbulkan korban sipil di Yaman kian memperkuat legitimasi perlawanan mereka, dan setiap keberhasilan menahan ofensif koalisi semakin menambah daya tawar di meja perundingan. Tetapi strategi tersebut juga membawa konsekuensi berat: isolasi politik, sanksi, dan kemungkinan balasan militer yang lebih luas.

Pada akhirnya, eskalasi Saudi dan Houthi adalah peringatan bahwa stabilitas Yaman tidak dapat dibeli dengan rudal, drone, atau ofensif militer. Perang akan berakhir bukan karena satu pihak menaklukkan pihak lain, tapi kala semua aktor -- Riyadh, Houthi, pemerintah Yaman, Iran, dan masyarakat internasional -- mengakui bahwa kekalahan militer tak akan pernah menghasilkan perdamaian politik.[**]

Penulis: Nurdin Hasan (Jurnalis Freelance)

Share berita ini

dialeksis.com