Ketika Semangat Sportivitas Semakin Memudar

Tiba-tiba kita dikejutkan dengan suatu tragedi dalam dunia olahraga sepak bola, disaat masyarakat Indonesia dan dunia sedang menikmati masa kebebasan pasca didera pandemi Covid-19 yang hampir dua tahun. Kondisi dimana semua orang terpaksa harus dibatasi ruang geraknya, menjauhi kerumunan dan senantiasa harus menggunakan masker. 

Pertandingan sepak bola ini tentu menjadi sesuatu yang dinantikan, dimana para penonton dapat melihat secara langsung para pemain idolanya. Tapi ironisnya suasana bahagia selama pertandingan berubah menjadi suasana duka. Kekalahan Arema Malang di kandangnya sendiri menjadi pemicu para penonton dan pemain tidak bisa menerima kekalahan ini dengan sikap legowo. 

Arema malang yang sudah 23 tahun tidak pernah dikalahkan secara mengejutkan harus tunduk mengakui kemenangan Persebaya. Ketidakmampuan menerima kekalahan yang disangka tidak mungkin terjadi, ternyata menyebabkan kerusuhan yang membuat 130 orang meninggal dunia.

 Peristiwa ini tentu saja menimbulkan kesedihan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia dan kita berharap tragedi ini tidak akan pernah terulang lagi. Menambah rasa duka kita dengan adanya informasi bahwa kerusuhan dalam pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang, menempati peringkat kedua di dunia dalam hal jumlah korban yang meninggal dunia. 


Kejadian ini bukan hanya disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap kekalahan semata, tetapi disinyalir ada alasan lain yang ikut mendukung seperti ketidakdisiplinan suporter di Indonesia. Terhitung sejak tahun 1990 kasus kekerasan dalam sepak bola Indonesia yang menyebabkan luka berat dan menelan korban jiwa sebanyak 48 kejadian. Angka kekerasan ini terhitung paling tinggi di kawasan Asia Tenggara bahkan Asia. Tentu ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana masyarakat kita harus lebih sportif lagi ketika hadir dalam suatu pertandingan.

Bercermin pada peristiwa berdarah di Stadion Kanjuruhan Malang pada 1 Oktober 2022, tentu nurani kita terusik untuk menelusuri kembali mengapa semangat sportivitas dalam bidang olahraga kita menjadi semakin memudar. Bukankah semangat sportivitas adalah landasan pijak utama saat kita bersepakat untuk bertanding, sebab kita tahu bahwa pertandingan akan menghasilkan dua nilai menang dan kalah, lalu bagaimana kita akan melaksanakan sebuah pertandingan bila kita hanya berkomitmen untuk menang tetapi tidak berkomitmen untuk menerima kekalahan dengan hati yang terbuka. Tidak mungkin sebuah kompetisi apapun itu hanya menjanjikan satu kemenangan dan tidak ada kekalahan, kalau hanya ada yang menang saja maka itu bukan kompetisi namanya.

 Sportivitas merupakan sikap mental yang menunjukkan martabat kesatria pada olahraga. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sportivitas adalah sikap adil (jujur) terhadap lawan dan sikap mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Sportivitas mesti dikaitkan dalam semua kompetisi, apapun jenis kompetisi tersebut, jika memunculkan ada yang menang dan kalah, maka disitulah seorang kesatria akan menunjukkan sikap jujur dan adil untuk mengakui kehebatan pemenang. 


Menang dan kalah merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari ketika kita dihadapkan dalam suatu pertandingan. Menerima kemenangan dan kekalahan harus disikapi dengan sikap yang arif, bahwa itu merupakan sebuah pertandingan yang tentunya tidak bisa dibawa untuk pengakuan sebagai sebuah harga diri, martabat, yang kemudian menggiring para pemain dan pendukung pada sikap arogan, dan melawan sebuah hasil. Ketika menang muncul sikap euforia, dan pada saat kalah, kita tidak sanggup terima dengan hati yang lapang.

Menerima kekalahan dengan sikap kesatria merupakan bukti kebersihan jiwa dan manifestasi dari budi pekerti yang baik. Apapun kompetisi yang kita lakukan, baik dalam pemilihan pemimpin negara, pemimpin daerah, atau pemimpin suatu institusi yang memang dipilih siapa yang layak untuk menjadi pemenang. Kita harus menjauhkan sikap penuh dengki dan iri kepada pemenang, dengan kita mencari kesalahan dan keburukan sang pemenang. 

Sejatinya bersikap fair dan tidak nyinyir pada siapapun yang telah terpilih menjadi pemenang. Berjiwa besar dan menerima kekalahan dan mendukung pemenang adalah kemuliaan sikap yang harus ditumbuhkan dalam diri semua manusia. Kekalahan bukan akhir dari segalanya, masih ada kesempatan bagi yang kalah untuk dapat mempersiapkan diri ikut kompetensi lagi. Bagaimanapun belajar dari kekalahan lalu memperbaikinya dan kembali bertarung secara kesatria adalah sikap yang mesti kita tumbuhkan. 

Tidak ada tempat bagi orang yang kalah dan mengumpulkan orang-orang lain untuk melakukan tindakan a-moral bagi yang menang, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Ketidakpuasan tidak harus diwujudkan dengan menyerang orang yang menang, bahkan ada yang membias sampai kepada unsur sara serta menyakiti perasaan dan tubuh orang lain.        


Tim yang kalah atau calon yang kalah dalam suatu pertarungan apapun itu atau dimanapun, seharusnya menunjukkan sikap patriot dengan mengajak timnya untuk mendukung kemenangan orang lain. 

Sikap ini sudah seharusnya menjadi karakter bangsa kita yang dikenal sebagai masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai penghormatan kepada orang lain, dengan rasa toleransi yang tinggi. Sayangnya sikap tersebut mulai ternodai dengan beberapa tragedi yang terjadi di Indonesia. 

Pemilihan langsung terhadap presiden Indonesia menyebabkan masyarakat menjadi terbelah, hal ini dipicu oleh tidak terimanya tim kalah dan kemudian terus melakukan perlawanan melalui media sosial atau dalam aktivitas lainnya. Pemilihan kepala daerah juga terkadang menggiring minggir sportivitas, susah bagi yang kalah mengakui kemenangan yang menang. Akhirnya ajang kompetisi tidak berakhir setelah penentuan yang menang, sebab kompetisi berlanjung dengan saling serang antar pendukung.

Mengapa semangat sportivitas yang seharusnya menjadi model bagi masyarakat di negara kita, karena sportivitas akan memunculkan semangat positif dalam kita menjalani kehidupan ini. Hampir di semua lini kehidupan kita sebenarnya berkompetisi, bukan hanya dalam dunia olahraga saja. 


Kehidupan keseharian kita berhadapan dengan banyak orang dimana kita harus bersaing merebut kesempatan dengan cara yang sportif. Hidup kita diwarnai oleh sukses dan gagal, menang dan kalah, bisa dalam nuansa yang kecil maupun yang besar. Akankah ketika gagal memperoleh sesuatu lalu kita menyalahkan orang lain bahkan menyerang orang lain. 

Seharusnya sikap kita menerima kesuksesan orang lain sambil belajar memperbaiki diri dan mencari tahu kelebihan orang lain sampai kita menjadi sukses dan menang. Sikap sportif ini membuat kita menjadi mengerti bahwa hidup perlu ada suatu proses, mendapatkan sesuatu bukan jalan yang mudah mestilah ada perjuangan. Selama sebuah kompetisi dijalankan dengan penuh kejujuran tanpa ada kecurangan, maka hasil dari pertandingan tersebut mutlak kita terima.

Fenomena semakin menipisnya sikap sportivitas di kalangan masyarakat kita, membuat kita perlu mengulas kembali bagaimana semangat sportivitas bisa ditumbuhkan pada diri seseorang yang dimulai sejak masih kecil. Sportivitas adalah sikap dan perilaku yang tentunya harus ditumbuhkan dalam diri seseorang sejak dini. 

Bagaimana seseorang sejak kecil dididik untuk menerima kekalahan dan tidak dipaksakan untuk harus menang. Kompetisi sekecil apapun mesti diajarkan bahwa itu adalah suatu kondisi yang didalamnya pasti ada menang dan kalah, mari menerima hasil itu dengan hati yang riang. Karena hasil itu bukan akhir dari kehidupan manusia yang menentukan dia hebat atau tidak. Para orang tua diharapkan jangan memaksa anak agar harus menang dalam kompetisi, tetapi mari mengajarkan mereka bahwa kompetisi adalah wahana mengasah kemampuan, menang dan kalah adalah hasil sementara, yang dapat berubah pada waktu yang lain. 


Keberhasilan hari ini dalam suatu bidang, bisa saja diikuti oleh kegagalan dalam bidang lain. Sebagai manusia yang tidak sempurna tentu kita tidak mungkin mendapatkan segala hal yang kita mau. Bagi yang gagal hari ini mari untuk tidak bersedih, dan jadikan kegagalan itu sebagai cambuk untuk memicu semangat memperbaiki diri, agar dalam kesempatan yang lain kita dapat meraih keberhasilan dan kesuksesan.

Kita akui cukup sulit untuk menerapkan sikap sportif ketika kita dihadapkan dengan sebuah kegagalan dan kekalahan, tetapi kita harus berbesar hati menerimanya. Pikirkan kembali apakah dengan kita melawan dan tidak menerima kekalahan, dapat merubah waktu dan kemudian kita menjadi pemenang. 

Tentu tidak proses itu sudah berlalu, kita tidak bisa mengulang kejadian yang telah berlalu, apapun resikonya akan diterima dengan hati yang gembira. Kalau kita kalah dan menyakiti orang lain atau menyerang yang menang, apakah dengan semua sikap buruk itu dapat menggantikan kita menjadi pemenang, tentu tidak. Bahkan akibat perbuatan kita yang gegabah untuk menyerang orang lain, akan berdampak pada perbuatan menyakiti hati orang lain, bahkan melukai tubuh orang lain, atau yang lebih tragis dapat menghilangkan nyawa orang lain.

Jika kita sebagai seorang muslim dan beragama, sepatutnya mengembalikan semua hal kepada Allah Swt sebagai penentu dari semua takdir yang terjadi ke atas diri kita. Kekalahan dan kesuksesan dalam kehidupan adalah hasil yang harus diterima setelah kita berusaha sekeras-kerasnya untuk memperoleh kemenangan dan kesuksesan. 


Jika kita belum dapatkan apa yang kita mau, stop menyalahkan orang lain, berlaku buruk pada orang lain, dengan hati damai dan pikiran tenang kembalikan diri kita untuk pasrah kepada Allah Swt, bahwa inilah yang terbaik untuk kita, dan pastinya dengan semangat pantang menyerah, akan ada kesuksesan lain menanti kita. 

Tundukkan ego dan ambisi, lihat semua dengan hati dan pikiran yang jernih, jangan korbankan diri kita dan orang lain untuk merebut sesuatu yang memang bukan hak kita. Bersikap sabar dan ikhlas dalam semua kondisi, karena kemenangan sesungguhnya adalah saat kita bisa memberikan kebahagiaan dan kesenangan kepada siapapun baik waktu kita menang ataupun saat kita kalah.

Ditulis Oleh: Dr.Ernita Dewi,S.Ag.,M.Hum (Akademisi UIN Ar-Raniry/Ketua Wanita Syarikat Islam Kota Banda Aceh)

Share berita ini

dialeksis.com