Pemerintah Aceh Buka Kongres PSSI, Tekankan Persatuan dan Sportivitas

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Aceh menekankan pentingnya persatuan, sportivitas dan kepentingan pembinaan sepak bola dalam Kongres Biasa PSSI Aceh untuk pemilihan Ketua periode 2026-2030 yang berlangsung di Sigli, Kabupaten Pidie, Sabtu (3/10/2026).

Pembukaan kongres dilakukan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Aceh, T Banta Nuzullah, yang mewakili Wakil Gubernur Aceh, Fadhullah.

Pembukaan kongres turut dihadiri perwakilan Exco PSSI Pusat Juli Rahman, Wakil Pimpinan DPR Aceh Saifuddin Muhammad, Ketua Badan Legislasi DPR Aceh Irfansyah, Kapolres Pidie yang diwakili Wakapolres, Dandim Pidie, anggota DPRK Pidie serta perwakilan Bupati Pidie.

Kongres Biasa PSSI Aceh periode 2026-2030 menjadi forum penting dalam menentukan arah organisasi untuk empat tahun mendatang.

Komite Pemilihan sebelumnya telah menetapkan tiga calon tetap Ketua PSSI Aceh, yakni Muslim MS, Darmansyah Putra dan Nazir Adam. Ketiganya ditetapkan melalui keputusan Komite Pemilihan pada 16 September 2026.

Dalam sambutan Wakil Gubernur Aceh yang dibacakan Kadispora Aceh, Pemerintah Aceh menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kongres sebagai bagian dari proses organisasi dan upaya memperkuat pembinaan sepak bola di Aceh.

Pemerintah Aceh berharap seluruh tahapan kongres berlangsung dengan mengedepankan demokrasi, ketertiban, keterbukaan dan sportivitas.

“Perbedaan pilihan dan pandangan dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, setelah seluruh proses selesai, yang harus kita kedepankan adalah kepentingan yang lebih besar, yaitu kemajuan sepak bola Aceh,” demikian pesan Fadhullah dalam sambutannya.

Menurut Pemerintah Aceh, kongres tidak semata-mata menjadi forum untuk menentukan kepemimpinan organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat kembali kebersamaan seluruh elemen sepak bola di Tanah Rencong.

Fadhullah menegaskan, siapa pun yang nantinya memperoleh amanah memimpin PSSI Aceh harus mampu merangkul seluruh unsur sepak bola dan menempatkan kepentingan pembinaan sebagai bagian utama dari agenda organisasi.

“Pemerintah Aceh berharap kepengurusan PSSI Aceh periode 2026-2030 mampu menjalankan amanah dengan baik, merangkul seluruh elemen sepak bola dan menjadikan kepentingan sepak bola Aceh sebagai prioritas bersama,” ujarnya.

Pemerintah Aceh mengatakan bahwa pembinaan pemain secara berkelanjutan sangat penting. Menurut Fadhullah, pembangunan sepak bola Aceh tidak cukup hanya mengandalkan kompetisi dan pencapaian hasil dalam jangka pendek.

Pembinaan, kata dia, harus dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara berjenjang hingga mampu melahirkan pemain yang siap bersaing di tingkat nasional.

“Pembinaan sepak bola harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek,” kata Fadhullah.

Ia menyebut penguatan ekosistem sepak bola perlu dilakukan mulai dari sekolah sepak bola, klub, kompetisi kelompok usia, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, hingga pembinaan atlet menuju jenjang yang lebih tinggi.

“Penguatan ekosistem sepak bola perlu dimulai dari sekolah sepak bola, klub, kompetisi usia muda, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, hingga pembinaan atlet menuju level nasional,” lanjutnya.

Menurut Pemerintah Aceh, daerah ini memiliki banyak talenta sepak bola yang perlu ditemukan, dibina dan diberikan ruang untuk berkembang.

Karena itu, Fadhullah menilai kemajuan sepak bola Aceh tidak dapat dibebankan hanya kepada PSSI. Diperlukan kerja bersama antara federasi, pemerintah daerah, KONI, klub, lembaga pendidikan, dunia usaha dan masyarakat.

“Sinergi antara PSSI Aceh, KONI Aceh, pemerintah daerah, klub, sekolah, dunia pendidikan, dunia usaha dan masyarakat menjadi hal yang penting,” katanya.

Fadhullah juga mengingatkan agar dinamika dalam proses pemilihan tidak menghilangkan semangat persaudaraan di antara para pelaku sepak bola Aceh.

Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi. Namun, perbedaan tersebut diharapkan tidak berlanjut menjadi perpecahan setelah kongres selesai.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga persatuan dan menjadikan sepak bola Aceh lebih maju,” ujarnya.

Pemerintah Aceh berharap kepengurusan baru nantinya dapat menghadirkan tata kelola organisasi yang lebih baik, memperkuat kompetisi dan memperluas kesempatan bagi pemain muda Aceh untuk menunjukkan kemampuan.

“Kita berharap lahir kepengurusan yang mampu memperkuat pembinaan, meningkatkan kualitas kompetisi dan membuka ruang yang lebih luas bagi talenta-talenta sepak bola Aceh,” kata Fadhullah.

Ia juga menegaskan bahwa sepak bola memiliki peran yang lebih luas dibandingkan sekadar pertandingan di lapangan. Olahraga tersebut dinilai dapat menjadi sarana membangun karakter generasi muda melalui disiplin, kerja sama dan sportivitas.

“Sepak bola tidak sekadar menjadi olahraga, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun karakter, kedisiplinan, kerja sama dan sportivitas generasi muda,” tutupnya. [*]

Share berita ini

dialeksis.com