DIALEKSIS.COM | Langsa - Pesan berantai yang menawarkan kuota internet gratis 81 GB dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia beredar di sejumlah grup WhatsApp. Pesan tersebut mengajak penerima mengeklik sebuah tautan untuk mengklaim kuota.
Pesan yang beredar berbunyi, “Kuota Gratis 81GB Spesial HUT RI ke-81. Aku baru saja klaim. Cek apakah kamu juga dapat.” Pesan kemudian menyertakan tautan dengan alamat domain "32dc1.top".
Dosen Ilmu Komputer Fakultas Teknik Universitas Sains Cut Nyak Dhien (USCND), Muttaqin, S.T., M.Cs, mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengeklik tautan tersebut.
Menurut Muttaqin, pesan itu memiliki sejumlah ciri yang umum ditemukan dalam phishing, yaitu upaya menipu pengguna agar memberikan data atau melakukan tindakan yang menguntungkan pelaku.
“Pesan seperti ini menyerang manusia terlebih dahulu, bukan sistem komputer. Pelaku memanfaatkan rasa ingin mendapatkan keuntungan, rasa penasaran, dan kepercayaan terhadap pesan yang dikirim oleh teman atau keluarga,” kata Muttaqin.
Memanfaatkan Momentum HUT RI
Muttaqin menjelaskan, penggunaan momentum HUT ke-81 RI membuat pesan tersebut terlihat lebih meyakinkan. Pelaku juga menggunakan angka 81 GB karena terdengar berkaitan langsung dengan usia kemerdekaan Indonesia pada 2026.
Cara seperti ini dikenal sebagai social engineering atau rekayasa sosial. Pelaku membuat pesan dengan konteks yang sedang ramai agar penerima tidak banyak berpikir sebelum mengeklik tautan.
Kalimat seperti “Aku baru saja klaim” juga memiliki fungsi penting. Pesan tersebut memberikan kesan bahwa orang lain telah berhasil memperoleh kuota.
“Kalau pesan datang dari teman atau keluarga, orang biasanya lebih mudah percaya. Padahal, pesan tersebut bisa saja merupakan bagian dari skema penipuan yang sengaja dibuat agar terus diteruskan,” ujarnya.
Kementerian Komunikasi dan Digital sebelumnya juga menemukan modus serupa. Pada Februari 2026, Komdigi menyatakan bahwa tautan yang menawarkan internet gratis dan mengatasnamakan layanan tertentu merupakan modus phishing karena mengarahkan pengguna ke situs yang meminta data pribadi.
Jangan Tertipu oleh Nama di Depan Domain
Muttaqin meminta masyarakat memperhatikan alamat situs sebelum mengeklik tautan.
Pada pesan yang beredar, tulisan "kuota-gratis-81gb30" memang terlihat meyakinkan. Namun, bagian yang paling penting untuk diperiksa adalah domain utama, yaitu "32dc1.top".
“Jangan hanya membaca kata-kata di bagian depan alamat situs. Nama seperti ‘kuota-gratis’, ‘hadiah’, atau ‘resmi’ bisa dibuat siapa saja. Yang harus diperiksa adalah domain utamanya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan HTTPS atau ikon gembok pada browser tidak otomatis berarti sebuah situs terpercaya.
HTTPS membantu mengenkripsi komunikasi antara perangkat dan situs. Namun, teknologi tersebut tidak membuktikan bahwa pemilik situs merupakan perusahaan resmi atau bahwa isi situs aman.
“Gembok berarti koneksinya terenkripsi. Bukan berarti situsnya pasti jujur,” kata Muttaqin.
Bisa Berujung Pencurian Data
Menurut Muttaqin, bahaya terbesar bukan sekadar pengguna tidak mendapatkan kuota gratis.
Tautan phishing dapat mengarahkan korban ke halaman yang menyerupai situs resmi. Korban kemudian dapat diminta memasukkan nomor telepon, alamat email, kata sandi, atau kode OTP.
Dalam skenario lain, korban dapat diarahkan untuk mengunduh aplikasi Android dari luar toko aplikasi resmi.
Modus aplikasi berbahaya bukan hal baru. Komdigi sebelumnya telah mengingatkan masyarakat mengenai penyebaran file APK melalui WhatsApp. Dalam sejumlah kasus, aplikasi tersebut meminta akses SMS dan dapat dimanfaatkan untuk mencuri informasi yang berkaitan dengan akun perbankan dan kode OTP.
Karena itu, pengguna perlu berhati-hati ketika sebuah tautan menawarkan hadiah, kuota, bantuan, atau keuntungan yang terlalu menarik dan meminta pengguna melakukan tindakan tertentu.
"Jangan Klik Hanya Karena Dikirim Teman"
Muttaqin yang sehari-hari mengajar Jaringan Komputer dan Keamanan Jaringan mengatakan bahwa keamanan digital tidak hanya bergantung pada teknologi.
“Firewall, antivirus, dan sistem keamanan memang penting. Tetapi manusia tetap menjadi bagian penting dalam keamanan jaringan. Satu klik yang salah dapat membuka jalan bagi serangan berikutnya,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat menggunakan prinsip sederhana: berhenti, periksa, baru bertindak.
Pertama, jangan langsung mengeklik tautan.
Kedua, periksa alamat domain dan sumber informasi.
Ketiga, jangan memasukkan password, PIN, nomor kartu, atau OTP ke situs yang belum dipastikan keasliannya.
Keempat, jangan memasang file APK yang dikirim melalui WhatsApp atau sumber yang tidak terpercaya.
Kelima, jika mendapatkan informasi mengenai promo kuota, hadiah, atau layanan operator, lakukan pengecekan melalui aplikasi dan situs resmi operator tersebut.
Komdigi juga berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan data pribadi, informasi perbankan, dan kode OTP melalui tautan atau saluran yang tidak resmi.
Sudah Terlanjur Mengeklik? Jangan Panik
Muttaqin mengatakan masyarakat yang sudah mengeklik tautan tersebut tidak perlu langsung panik. Namun, mereka harus segera melakukan pemeriksaan.
Jika hanya membuka halaman tanpa memasukkan data atau memasang aplikasi, risikonya berbeda dengan kondisi ketika pengguna sudah memberikan password, OTP, atau memasang aplikasi mencurigakan.
“Yang penting jangan dilanjutkan. Tutup halaman tersebut. Kalau sempat mengisi data penting atau memasang aplikasi mencurigakan, segera lakukan langkah pengamanan,” ujarnya.
Pengguna yang sudah memasang aplikasi mencurigakan perlu segera menghapus aplikasi tersebut dan memeriksa izin aplikasi pada perangkat. Untuk akun penting, terutama email dan layanan keuangan, pengguna juga perlu mengganti kredensial dan menghubungi penyedia layanan apabila terdapat aktivitas yang mencurigakan.
Komdigi juga memberikan sejumlah langkah penanganan ketika pengguna terlanjur menjalankan file berbahaya, termasuk memutus koneksi internet, menghapus aplikasi asing, mengganti kata sandi penting, dan melakukan pemulihan perangkat jika diperlukan.
Kuota Gratis Tidak Seharusnya Membuat Kita Lupa Keamanan
Muttaqin menegaskan bahwa masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum meneruskannya.
“Jangan menjadi korban hanya karena ingin mendapatkan sesuatu yang gratis. Di internet, yang gratis belum tentu aman. Periksa sumbernya sebelum percaya,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat yang menerima pesan tersebut untuk tidak meneruskannya ke grup WhatsApp lain.
Sebab, semakin banyak orang yang meneruskan pesan, semakin besar peluang tautan tersebut mencapai calon korban baru.
“Kalau menerima pesan seperti ini, jangan ikut membantu menyebarkan. Cukup hentikan rantainya,” ujar Muttaqin.
Bagi pengguna internet, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman keamanan siber tidak selalu datang dalam bentuk virus atau peretasan yang rumit. Dalam banyak kasus, serangan justru dimulai dari sebuah pesan sederhana dan satu keputusan pengguna untuk mengeklik sebuah tautan.
Pesan kuota gratis 81 GB yang beredar tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai tautan mencurigakan dan tidak diklik sebelum ada verifikasi dari sumber resmi.
Share berita ini