Wakaf Produktif Baiturrahman Mart Lhokseumawe: Dari Aset Masjid Jadi Penggerak UMKM

DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Kementerian Agama (Kemenag) mendorong pengelolaan wakaf produktif agar tidak berhenti sebagai pemanfaatan aset, tetapi berkembang menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi masjid dan masyarakat.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Prof. Waryono Abdul Ghafur, menyampaikan hal itu saat melakukan monitoring, evaluasi, dan pembinaan pengelolaan wakaf produktif Baiturrahman Mart di Kota Lhokseumawe, Jumat (14/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Waryono bertemu dengan Nazhir Masjid Baiturrahman Ustaz Damanhur dan pengelola Baiturrahman Mart. Pembahasan meliputi tata kelola nazhir, keberlanjutan usaha, pemanfaatan hasil usaha, hingga peluang pengembangan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat.

Baiturrahman Mart dikembangkan sebagai unit usaha di lingkungan Masjid Baiturrahman. Selain melayani kebutuhan jamaah dan masyarakat sekitar, mart ini menjadi ruang pemasaran berbagai produk lokal, seperti parfum, kopi, dan makanan ringan produksi masyarakat.

Menurut Waryono, pola tersebut menunjukkan wakaf produktif dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih luas. Aset wakaf yang dikelola secara sehat dapat memberikan manfaat bagi masjid, konsumen, pelaku UMKM, hingga masyarakat penerima manfaat.

“Wakaf harus kita dorong menjadi aset yang bekerja, menghasilkan nilai tambah dan memberikan manfaat yang terus mengalir,” ujar Waryono.

Ia menekankan, keberhasilan wakaf produktif tidak hanya diukur dari omzet usaha. Pengelolaan juga harus memperhatikan perlindungan aset wakaf, transparansi, administrasi, akuntabilitas keuangan, serta besarnya manfaat yang kembali kepada masyarakat.

Kemenag juga mendorong Baiturrahman Mart memperkuat pencatatan keuangan, pemetaan pasar, kualitas layanan, kemitraan dengan UMKM, penyerapan tenaga kerja lokal, dan sistem pelaporan manfaat wakaf.

Waryono berharap Baiturrahman Mart dapat menjadi role model wakaf produktif berbasis masjid di Aceh, sekaligus menunjukkan bahwa aset wakaf dapat dikembangkan secara profesional tanpa kehilangan orientasi sosial.

“Kita ingin semakin banyak wakaf produktif yang tumbuh dari masjid. Baiturrahman Mart dapat menjadi salah satu contoh bahwa aset wakaf yang dikelola dengan baik mampu membuka lapangan kerja, memberi ruang bagi UMKM dan memperkuat ekonomi masjid,” pungkasnya. [*

Share berita ini

dialeksis.com