DIALEKSIS.COM | Jakarta - Tekanan yang tengah dihadapi sejumlah negara maju menjadikan tanda-tanda badai resesi dunia semakin jelas. Padahal, ada yang lebih mengerikan daripada resesi. Apa itu? Stagflasi.
Presiden Bank Dunia mengungkapkan pertumbuhan global melambat tajam sehingga lebih banyak negara jatuh ke dalam resesi.
Negara-negara di dunia pun diimbau mendorong kebijakan yang bisa menghasilkan investasi tambahan, meningkatkan produktivitas dan alokasi modal.
Pasalnya Stagflasi membawa dampak cukup besar. Pada pasar finansial, resesi menyebabkan Wall Street sebagai kiblat bursa saham dunia ambrol. Begitu juga dengan mata uang selain dolar Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (10/10/2022), indeks S&P 500 sepanjang tahun ini sudah jeblok lebih dari 25 persen dan berada di level terendah sejak akhir 2022.
Sementara itu, Indeks dolar AS melesat sekitar 17 persen dan berada di level tertinggi dalam 20 terakhir. Meroketnya indeks dolar AS tersebut menjadi indikasi mata uang lainnya rontok. Kemudian, resesi akan berdampak pada tingkat pengangguran yang semakin tinggi tetapi tingkat inflasi rendah.
Sebab, ketika banyak warga yang menganggur, konsumsi rumah tangga akan menurun dan demand pull inflation pun rendah.
Memang, sejauh ini pasar tenaga kerja masih terlihat kuat. Bahkan diketahui beberapa negara seperti Australia justru mengalami kelangkaan tenaga kerja.
Stagflasi lebih sulit disembuhkan ketimbang resesi. Sebab, para pembuat kebijakan harus bisa menyeimbangkan antara inflasi dan pasar tenaga kerja.
Ketika inflasi tinggi, maka suku bunga akan dikerek naik. Namun hal ini membawa risiko yakni pasar tenaga kerja akan melemah dan tingkat pengangguran meningkat.
Sebaliknya, saat tingkat pengangguran tinggi, yang dibutuhkan adalah suku bunga rendah. Tetapi resikonya inflasi akan meningkat.
Ekonom Senior di Peterson Institute For International Economics, David Wilcox mengatakan, bahwa obat Stagflasi paling mujarab adalah resesi.
Ketika resesi terjadi, permintaan pun akan melambat dan perlahan-lahan menurunkan inflasi. Negara-negara barat kini menjadi yang paling beresiko mengalami stagflasi.
Di Indonesia sejauh ini inflasi merangkak naik meski bisa dikatakan terkendali. Namun, hal ini patut menjadi perhatian bagaimana perkembangan inflasi kedepannya, apalagi setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi.
Selain itu, bank sentral AS (The Fed) dan beberapa bank sentral lainnya pada akhir tahun lalu melihat inflasi tinggi hanya bersifat sementara, sehingga menunda pengetatan moneter guna meredam inflasi. (CNBC Indonesia)
Share berita ini