DIALEKSIS.COM | Semarang - Qaisal Ridha, kafilah Provinsi Aceh, berhasil melaju ke babak final cabang Seni Kaligrafi Al-Qur’an golongan Kaligrafi Digital Putra pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pelaksanaan musabaqah MTQ Nasional XXXI berlangsung pada 13-19 September 2026 di 12 arena di Kota Semarang. Khusus cabang Seni Kaligrafi Al-Qur’an, yang terdiri atas golongan Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, Kontemporer, dan Kaligrafi Digital, dipusatkan di Auditorium Imam Barjo Universitas Diponegoro (UNDIP).
Berdasarkan hasil penilaian yang diumumkan pada Rabu (16/9/2026), Qaisal yang tampil dengan nomor peserta 534 memperoleh nilai 94,25. Hasil tersebut menempatkan wakil Aceh itu pada posisi ketiga sekaligus memastikan langkahnya berlanjut ke babak final Kaligrafi Digital Putra.
Posisi pertama ditempati Defri Dwi Saputra dari Kalimantan Timur dengan nilai 95,17, sedangkan posisi kedua diraih Ari Saputra Ramadhani dari Sumatera Barat dengan nilai 94,58.
Selisih nilai yang cukup tipis antara tiga peserta teratas membuat persaingan menuju babak final semakin ketat. Qaisal pun kembali mempersiapkan diri untuk memberikan penampilan terbaik pada babak penentuan.
Qaisal menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Baginya, keberhasilan masuk tiga besar dan melaju ke final menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas penampilan.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa berada di posisi ketiga dan melaju ke babak final. Hasil ini menjadi motivasi bagi saya untuk tampil lebih baik lagi. Mohon doa dari seluruh masyarakat Aceh agar pada babak final nanti saya bisa memberikan hasil terbaik dan membawa nama Aceh semakin harum di tingkat nasional,” ujar Qaisal.
Selain fokus menghadapi final, Qaisal berharap momentum MTQ Nasional dapat mendorong pembinaan seni kaligrafi Al-Qur’an yang lebih serius dan berkelanjutan di Aceh. Pembinaan tersebut, menurutnya, perlu mencakup seluruh golongan kaligrafi, mulai dari Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, Kontemporer hingga Kaligrafi Digital.
“Ke depan saya berharap ada upaya yang lebih serius untuk menghadirkan pelatihan dan pembinaan seluruh cabang kaligrafi di Aceh, mulai dari Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, Kontemporer hingga Digital. Pembinaan ini idealnya tidak hanya dilakukan di tingkat provinsi, tetapi juga dikembangkan sampai ke setiap kabupaten dan kota,” kata Qaisal.
Menurutnya, Aceh memiliki potensi besar dalam melahirkan generasi baru kaligrafer. Potensi tersebut perlu didukung melalui wadah pelatihan yang terarah, keberadaan pelatih yang kompeten, serta proses pembinaan yang dilakukan secara rutin.
“Potensi anak-anak muda Aceh sangat besar. Kalau pembinaannya dilakukan secara rutin dan merata, saya yakin akan lahir lebih banyak kaligrafer Aceh yang mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional, bahkan internasional,” lanjutnya.
Qaisal juga menilai kehadiran Kaligrafi Digital menjadi peluang baru dalam pengembangan seni Al-Qur’an, khususnya bagi generasi muda yang dekat dengan perkembangan teknologi.
“Kaligrafi Digital bukan hanya berbicara tentang seni, tetapi juga bagaimana generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui karya yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Namun pembinaan cabang lainnya juga harus terus berjalan agar regenerasi kaligrafer Aceh tetap terjaga,” tambah Qaisal.
Sementara itu, pelatih Qaisal, Ustaz Zulfikar, mengatakan capaian tersebut merupakan buah dari proses latihan dan persiapan yang telah dijalani. Meski berhasil berada di posisi tiga besar, menurutnya perjuangan belum selesai karena masih ada babak final yang harus dihadapi.
“Alhamdulillah, hasil sementara ini patut kita syukuri. Qaisal sudah berusaha maksimal dan mampu bersaing dengan peserta terbaik dari berbagai provinsi. Namun perjuangan belum selesai. Kami akan melakukan evaluasi dan mempersiapkan babak final sebaik mungkin,” ujar Ustaz Zulfikar.
Ia berharap Qaisal mampu menjaga konsentrasi dan ketenangan ketika tampil pada babak final sehingga dapat mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.
“Bagi kami, lolos ke final bukan hanya soal mengejar juara, tetapi bagaimana Qaisal mampu menunjukkan karya terbaiknya dan membawa nama Aceh dengan penuh tanggung jawab. Insyaallah, kami akan berjuang sampai akhir,” tutup Ustaz Zulfikar.
Keberhasilan Qaisal Ridha menembus final Kaligrafi Digital Putra menjadi salah satu capaian kafilah Aceh pada MTQ Nasional XXXI Tahun 2026. Dukungan dan doa masyarakat Aceh diharapkan dapat menambah semangat Qaisal untuk memberikan penampilan terbaik pada babak final dan membawa pulang prestasi bagi Tanah Rencong. [*]
Share berita ini