DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kebutuhan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat dengan mendorong pasokan langsung dari petani dan peternak. Melalui koperasi, hasil produksi yang tersebar dikumpulkan sehingga pasokan lebih besar, rutin, dan mudah diserap untuk kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan, kondisi pangan nasional saat ini cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung tambahan permintaan dari program MBG.
“Bicara beras kita punya, kalau kita bicara carry over stock nantinya, sampai 16 juta ton kita punya,” ujar Ketut di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 Bapanas, stok akhir beras diperkirakan sekitar 16 juta ton. Angka itu berasal dari stok awal sekitar 12,4 juta ton dan proyeksi produksi 34,7 juta ton, dengan konsumsi sekitar 31,1 juta ton.
Selain beras, ketersediaan telur ayam, daging ayam, bawang merah, dan cabai disebut cukup kuat, bahkan surplus. Sementara kebutuhan bawang putih dipenuhi melalui produksi dalam negeri dan impor.
Menurut Ketut, MBG membuka pasar lebih luas bagi petani dan peternak. Melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), produksi skala kecil dapat digabung menjadi pasokan dalam jumlah besar.
“Dengan adanya MBG ini, ini yang diimpikan oleh petani-peternak sebenarnya. Dulu ketika panen, dia bingung mencari pasar. Sekarang pasar tersedia,” katanya.
Penguatan pasokan juga diarahkan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk dengan memanfaatkan pangan lokal. Daerah yang memiliki produksi ikan melimpah, misalnya, dapat menggunakan ikan lokal sebagai bagian dari menu MBG. [in]
Share berita ini