DIALEKSIS.COM | Jakarta - Dunia jurnalistik global saat ini tengah menghadapi masa-masa paling kelam dalam sejarah modernnya. Laporan terbaru World Press Freedom Index dari Reporters Without Borders (RSF) menunjukkan bahwa kebebasan pers dunia pada tahun 2026 telah merosot ke titik terendah dalam 25 tahun terakhir. Namun, secara mengejutkan, di tengah keterpurukan global tersebut masyarakat Indonesia justru menunjukkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap institusi media.
Berdasarkan publikasi dari GoodStats yang merujuk pada Edelman Trust Barometer Global Report 2026, Indonesia berhasil menempati peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan tingkat kepercayaan publik tertinggi terhadap media. Skor indeks Indonesia menyentuh angka 76 poin, mengalami peningkatan 1 poin secara tahunan (year-on-year).
Krisis Kebebasan Pers Global
Tingginya kepercayaan di Tanah Air berbanding terbalik dengan situasi pers di ranah global. Laporan RSF pada 2025 memperlihatkan tren kemunduran yang sangat mengkhawatirkan, di mana lebih dari separuh populasi dunia kini hidup di kawasan "zona merah". Status zona merah ini menandakan bahwa jurnalisme beroperasi di lingkungan yang sangat sulit dan penuh dengan tantangan maupun intervensi.
Kondisi tersebut semakin parah pada 2026. Sebanyak 52,2% negara yang dinilai oleh RSF masuk dalam kategori lingkungan yang "sulit" atau "sangat serius" bagi aktivitas jurnalistik. Kemunduran ini dipicu oleh berbagai faktor sistemik, di antaranya adalah perluasan undang-undang pembatasan (seperti dalih keamanan nasional) yang mengkriminalisasi kebebasan pelaporan, represi politik, hingga ancaman siber terhadap para awak media.
Posisi Membanggakan Indonesia di Mata Dunia
Meski dunia dikepung represi informasi, kepercayaan masyarakat Indonesia menonjol sebagai anomali positif. Dengan skor 76%, kepercayaan publik Indonesia jauh berada di atas rata-rata global yang hanya menyentuh angka 54%. Indonesia hanya berada tepat di bawah China yang menempati posisi puncak dunia dengan skor 81 poin.
Selain itu, capaian 76 poin ini juga menempatkan Indonesia lebih unggul dibandingkan:
- Uni Emirat Arab yang berada di peringkat ketiga dengan torehan 74 poin.
- Kenya dan Nigeria yang sama-sama menempati angka 70 poin.
- Negara-negara Asia Tenggara lainnya, di mana Indonesia memimpin jauh di atas Thailand (67 poin), Malaysia (65 poin), dan Singapura (60 poin).
Di sisi ekstrem lain, negara maju seperti Jepang justru mencatat tingkat kepercayaan terendah yang hanya sebesar 33%, disusul oleh Inggris dengan 39%.
Tantangan dan Tanggung Jawab Media
Tingginya angka kepercayaan masyarakat Indonesia ini tidak lepas dari peran media arus utama (mainstream) yang masih dianggap sebagai sumber informasi yang relatif kredibel oleh publik. Peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat juga turut mendorong kemampuan dalam memilah kebenaran di tengah maraknya arus disinformasi platform digital.
Meski patut dibanggakan, tingginya tingkat kepercayaan ini sekaligus menjadi "cambuk" dan tanggung jawab besar bagi industri pers nasional. Kredibilitas harus terus dirawat dengan ketat melalui praktik jurnalistik yang profesional, pemeliharaan transparansi narasumber, serta verifikasi fakta yang mendalam.
Jika integritas ini tidak dijaga, bukan tidak mungkin kepercayaan 76% publik tersebut akan cepat menurun dan tergerus oleh dinamika media sosial yang sangat dinamis. [arn]
Share berita ini