DIALEKSIS.COM | Jakarta - Hotspot karhutla dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Indonesia turun 400 titik menjadi 1.037 titik. Pemerintah terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi darat dan udara.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat hingga Selasa (15/9/2026) pukul 21.05 WIB, enam provinsi prioritas masih menjadi perhatian.
Kalimantan Tengah mencatat 266 hotspot, turun dari 689 titik. Sumatera Selatan justru meningkat menjadi 245 titik dari sebelumnya 116. Sementara itu, Kalimantan Selatan memiliki 72 titik, Jambi 62 titik, Kalimantan Barat 43 titik, dan Riau 15 titik.
Kenaikan hotspot di Sumatera Selatan dan Jambi menjadi perhatian pemerintah untuk menentukan prioritas patroli, pengecekan lapangan (groundcheck), hingga operasi pemadaman. Jumlah hotspot di Sumatera Selatan kini hampir menyamai Kalimantan Tengah.
Kementerian Kehutanan mengingatkan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran. Karena itu, seluruh indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan di lapangan.
Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait terus melakukan patroli, pemadaman, penyekatan api, pembasahan, hingga pendinginan. Pemerintah juga menyiagakan 53 armada udara, terdiri dari 34 armada untuk water bombing dan 19 armada untuk patroli serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dukungan udara turut diperkuat melalui kerja sama Indonesia-Jepang. Tiga helikopter CH-47 Chinook milik JMSDF disiapkan untuk membantu percepatan pemadaman karhutla di Kalimantan Barat. Operasinya akan diintegrasikan dengan penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah Indonesia.
Di sisi lain, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih perlu diwaspadai. Sebagian besar wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi beberapa area tercatat tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Di Pontianak, jarak pandang pada malam 15 September sekitar 2 kilometer akibat asap.
Pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kualitas udara memburuk, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Masyarakat serta pelaku usaha juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran. [*]
Share berita ini