Illiza Sa'aduddin Djamal Masuk Nominasi Apresiasi Swara Cantika 2026, Ini Jejak Pengabdiannya

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, masuk dalam daftar nominasi penerima Apresiasi Swara Cantika 2026, penghargaan yang diselenggarakan oleh PT Tempo Inti Media Tbk bagi perempuan pemimpin yang dinilai mampu menghadirkan inovasi, menginspirasi masyarakat, serta memberikan dampak nyata bagi pembangunan.

Selain masuk dalam daftar nominasi, Illiza juga dijadwalkan mengikuti sesi wawancara eksklusif bersama sejumlah pemimpin perempuan dari berbagai daerah yang menjadi kandidat penerima penghargaan tersebut.

Informasi itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Banda Aceh, Muhammad Zubir, usai memenuhi undangan PT Tempo Inti Media Tbk di Gedung Tempo, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026).

Menurut Zubir, tim Cantika menilai rekam jejak para kandidat berdasarkan berbagai indikator, mulai dari gagasan, inovasi, kepemimpinan, hingga dampak kebijakan yang dirasakan masyarakat.

"Tim Cantika melihat rekam jejak dan kontribusi Ibu Wali Kota dalam mendorong pembangunan daerah serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat," ujar Zubir.

Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Tempo Inti Media Tbk, Ade Liesnasari, mengatakan Illiza menjadi salah satu figur yang dinilai memiliki berbagai terobosan dalam memimpin daerah.

"Kami melihat dari idenya, kreativitasnya, serta bagaimana perempuan-perempuan saat ini menunjukkan prestasi di bidangnya masing-masing. Salah satunya Ibu Wali Kota Banda Aceh yang memiliki berbagai terobosan dalam membangun daerah," kata Ade.

Apresiasi Swara Cantika merupakan agenda tahunan media Cantika, bagian dari Tempo Media Group, yang memberikan penghargaan kepada perempuan dari berbagai bidang atas kepemimpinan, inovasi, dan kontribusinya bagi masyarakat Indonesia.

Masuknya nama Illiza dalam nominasi tersebut tidak hadir begitu saja. Penghargaan itu menjadi refleksi dari perjalanan panjang pengabdiannya di dunia pemerintahan dan politik, sekaligus konsistensinya membangun Banda Aceh.

Bagi masyarakat yang mengikuti aktivitasnya, ritme kerja Illiza dapat terlihat hampir setiap hari. Ia rutin turun langsung ke lapangan, menghadiri kegiatan masyarakat, meninjau pembangunan, menyapa pelaku UMKM, mengunjungi warga yang sakit, hingga memastikan pelayanan publik berjalan dengan baik.

Di setiap kunjungan, ia tidak sekadar hadir memenuhi agenda seremonial. Ia lebih memilih berdialog dengan masyarakat, mendengar langsung persoalan yang dihadapi, lalu mendorong penyelesaiannya melalui kebijakan pemerintah kota.

Semangat pengabdian itu telah tumbuh sejak muda. Illiza lahir dari keluarga yang dikenal dekat dengan dunia dakwah dan politik. Ayahnya merupakan seorang ulama sekaligus politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Aceh. Lingkungan keluarga tersebut membentuk kepeduliannya terhadap masyarakat dan pelayanan publik.

Perjalanan politiknya dimulai ketika dipercaya menjadi Wakil Wali Kota Banda Aceh pada 2006, mendampingi almarhum Mawardy Nurdin, sosok yang dikenal sebagai arsitek pembangunan Banda Aceh pascatsunami.

Bersama Mawardy Nurdin, Illiza ikut terlibat dalam proses membangun kembali Banda Aceh yang porak-poranda akibat bencana tsunami 2004. Ketika Mawardy wafat pada masa jabatan keduanya, Illiza melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai wali kota dalam situasi yang penuh tantangan.

Perjalanan politiknya kemudian mengalami dinamika. Pada Pilkada 2017, ia belum kembali memperoleh mandat memimpin Banda Aceh. Namun kekalahan itu tidak menghentikan langkah pengabdiannya.

Pada 2019, masyarakat Aceh kembali memberikan kepercayaan dengan mengantarkannya menjadi Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Aceh I melalui Partai Persatuan Pembangunan.

Di Senayan, pengalaman politiknya semakin matang. Ia memperjuangkan berbagai kepentingan masyarakat Aceh di tingkat nasional serta membangun jejaring dengan berbagai kementerian dan lembaga negara.

Pada Pemilu 2024, Illiza kembali maju sebagai calon anggota DPR RI. Meski memperoleh suara yang kompetitif, PPP tidak berhasil melampaui ambang batas parlemen sehingga ia tidak kembali duduk di DPR RI.

Tak lama kemudian, Banda Aceh kembali memanggilnya untuk mengabdi.

Berpasangan dengan Afdhal Khalilullah, Illiza kembali memperoleh mandat rakyat pada Pilkada 2024 untuk memimpin Kota Banda Aceh.

Kota Kolaborasi dan Kebangkitan Ekonomi Lokal

Sejak kembali menjabat, Illiza membawa semangat Kota Kolaborasi. Baginya, membangun Banda Aceh bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kerja bersama seluruh elemen masyarakat.

Pengalaman bangkit dari tsunami mengajarkan bahwa kolaborasi merupakan kekuatan utama Banda Aceh. Karena itu, ia terus mengajak masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga pemerintah untuk bersama-sama menjaga kebersihan kota, meningkatkan pelayanan publik, memperkuat ketertiban, serta merawat fasilitas yang telah dibangun.

Di sisi lain, Illiza juga konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Ini menjadi semangat dalam mendorong masyarakat mencintai dan menggunakan produk-produk lokal.

Perhatian terhadap UMKM menjadi salah satu fokus kepemimpinannya. Ia kerap turun langsung mengunjungi pelaku usaha kecil, membuka ruang promosi produk lokal, dan memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat.

Sesuai ketentuan perundang-undangan, masa jabatan saat ini menjadi kesempatan terakhir Illiza memimpin Banda Aceh sebagai wali kota.

Karena itu, setiap program yang dijalankan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi target pemerintahan lima tahunan, tetapi juga untuk meninggalkan warisan pembangunan yang dapat terus dirasakan generasi mendatang.

Masuknya nama Illiza Sa'aduddin Djamal dalam nominasi Apresiasi Swara Cantika 2026 menjadi pengakuan atas perjalanan panjang tersebut. Lebih dari sekadar penghargaan, nominasi ini merefleksikan kiprah seorang pemimpin perempuan yang terus memilih berada di tengah masyarakat, membangun kolaborasi, memperkuat ekonomi lokal, dan mengabdikan dirinya bagi Banda Aceh.

Di antara deretan tokoh perempuan yang pernah lahir dari Tanah Rencong, nama Illiza Sa'aduddin Djamal kini kembali menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan Aceh tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan pembangunan dan kemajuan daerah.[*]

Share berita ini

dialeksis.com