DIALEKSIS.COM | Jombang - Perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki fase paling menentukan dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu malam, 29 Agustus 2026.
Hingga pukul 21.15 WIB, muktamar belum menetapkan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Para muktamirin bahkan masih harus melakukan pemungutan suara tertutup untuk memilih dua opsi mekanisme pemilihan yakni mempertahankan pola pemilihan langsung seperti Muktamar Lampung atau menyerahkan penetapan ketua umum kepada Rais Aam bersama sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Perbedaan mekanisme tersebut bukan sekadar persoalan tata tertib. Hasil voting akan sangat menentukan peluang setiap kandidat.
Dalam pemilihan langsung, kekuatan jaringan Pengurus Wilayah NU, Pengurus Cabang NU, dan Pengurus Cabang Istimewa NU menjadi faktor utama. Sebaliknya, jika skema AHWA dipilih, figur yang dapat diterima para kiai sepuh serta Rais Aam terpilih berpotensi lebih diuntungkan.
Penelusuran Dialeksis dari keterangan resmi PBNU, NU Online, ANTARA, serta sejumlah laporan dari arena muktamar menemukan sedikitnya enam nama yang paling diperhitungkan. Mereka adalah petahana KH Yahya Cholil Staquf, KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Hakim Mahfudz, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Muhammad Yusuf Chudlori, dan KH Abdussalam Shohib.
Nama mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi juga masih menyatakan kesiapan maju. Namun, kekuatan dukungan struktural yang dimilikinya belum dipublikasikan secara terukur. Sementara Menteri Agama KH Nasaruddin Umar telah memastikan tidak mengikuti kontestasi karena memilih berkonsentrasi menjalankan tugas di Kementerian Agama.
Gus Yahya Unggul Jika Pemilihan Langsung
Dalam skenario pemilihan langsung, Gus Yahya masih menjadi kandidat dengan peluang paling terbuka. Status petahana memberinya keuntungan berupa jaringan kepengurusan yang telah dibangun selama lima tahun serta penguasaan terhadap mesin organisasi hingga tingkat wilayah dan cabang.
Modal penting lainnya adalah diterimanya laporan pertanggungjawaban PBNU masa khidmah 2021–2026 secara aklamasi dalam Sidang Pleno II. Penerimaan tersebut menunjukkan tidak ada penolakan terbuka dari peserta muktamar terhadap kinerja kepengurusan Gus Yahya.
Gus Yahya juga memiliki pengalaman memenangkan pertarungan langsung. Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung, ia meraih 337 suara, mengalahkan petahana saat itu, KH Said Aqil Siroj, yang memperoleh 210 suara.
Namun, peluang petahana tidak sepenuhnya aman. Konflik internal PBNU pada akhir 2025 masih meninggalkan jejak politik. Gus Yahya sempat diberhentikan dan posisinya digantikan sementara oleh KH Zulfa Mustofa. Ia kemudian dipulihkan sebagai Ketua Umum PBNU pada Januari 2026 setelah proses islah dan rapat pleno mengembalikan komposisi kepengurusan seperti semula.
Selain itu, lima kandidat Kiai Zulfa, Gus Kikin, Gus Rozin, Gus Yusuf, dan Gus Salam telah menyatakan kesepakatan mendukung pemilihan ketua umum melalui AHWA. Kesepakatan itu belum berarti mereka telah bersatu mengusung satu nama, tetapi memperlihatkan adanya arus kuat yang menginginkan mekanisme berbeda dari pola pemilihan langsung yang dinilai lebih menguntungkan petahana.
Dengan demikian, apabila forum menetapkan pemilihan langsung, Gus Yahya berada di barisan terdepan. Akan tetapi, ia berpotensi menghadapi konsolidasi suara penantang apabila bursa mengerucut menjadi dua nama.
Gus Kikin Bermodal Blok Jawa Timur
Kandidat dengan kekuatan struktural paling jelas setelah Gus Yahya adalah Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
PWNU Jawa Timur secara resmi menugaskan Gus Kikin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Sejumlah laporan menyebut pencalonannya didukung 42 dari 45 PCNU di Jawa Timur. Dukungan tersebut menjadi modal besar karena Jawa Timur merupakan salah satu basis utama NU.
Gus Kikin juga memiliki legitimasi pesantren yang kuat. Ia merupakan pengasuh Pesantren Tebuireng dan cicit pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Posisi itu membuatnya berpotensi diterima oleh kalangan struktural sekaligus pesantren.
Tantangannya, suara Jawa Timur tidak sepenuhnya tunggal. Kehadiran Gus Salam dengan jaringan Denanyar, Lirboyo, dan Ploso dapat membagi dukungan pesantren di provinsi tersebut. Gus Kikin juga membutuhkan tambahan suara dari luar Jawa Timur agar dapat menandingi jaringan nasional petahana.
Dalam skema pemilihan langsung, Gus Kikin menjadi salah satu penantang utama Gus Yahya. Sementara dalam skema AHWA, peluangnya bisa semakin besar karena ia memiliki kombinasi dukungan struktural, trah pendiri NU, dan penerimaan di lingkungan pesantren.
Gus Yusuf Membawa 23 Cabang Jawa Tengah
KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf muncul sebagai kandidat dengan dukungan terbuka yang cukup terukur. Sebanyak 23 PCNU se-Jawa Tengah pernah menyampaikan dukungan kepada pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, tersebut.
Gus Yusuf membawa narasi rekonsiliasi dan mengklaim telah mempersiapkan pencalonannya selama enam bulan. Ia menilai sejumlah PCNU mengalami kejenuhan terhadap konflik internal dan membutuhkan figur yang berada di tengah.
Modal lainnya adalah jaringan alumni Tegalrejo, Lirboyo, Ploso, serta pengalaman politik yang membuat Gus Yusuf terbiasa melakukan konsolidasi. Namun, Jawa Tengah juga menjadi basis Gus Rozin dan memiliki jaringan lama Gus Yahya. Karena itu, dukungan di wilayah tersebut berpotensi terpecah.
Peluang Gus Yusuf cukup besar jika mampu mengubah dukungan 23 cabang menjadi gerakan lintas wilayah. Ia dapat menjadi kuda hitam apabila suara penantang mengerucut kepadanya.
Gus Rozin Mendapat Respons dari Aceh
Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memiliki modal berupa pengalaman memimpin struktur wilayah, jaringan pesantren, serta latar belakang organisasi dan akademik.
Dukungan moral terhadap Gus Rozin juga disampaikan mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Di Aceh, Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali menilai kapasitas dan pengalaman Gus Rozin memimpin organisasi telah teruji.
Namun, apresiasi sejumlah tokoh tidak otomatis menggambarkan jumlah suara yang telah terkunci. Belum ada angka terbuka mengenai berapa PWNU dan PCNU yang secara resmi akan memilih Gus Rozin.
Posisi Gus Rozin lebih berpeluang apabila pemilihan menggunakan AHWA. Figur yang relatif muda, berpengalaman di struktur, dekat dengan pesantren, dan tidak berada di pusat konflik membuatnya dapat muncul sebagai calon kompromi.
Gus Salam Mengandalkan Rekonsiliasi dan Pesantren
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menawarkan agenda utama rekonsiliasi organisasi. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, itu maju setelah mendapat dorongan KH Nurul Huda Djazuli dari Pesantren Al-Falah Ploso serta dukungan dari sejumlah tokoh NU.
Gus Salam juga memperoleh restu keluarga besar Denanyar serta memiliki kedekatan dengan jaringan Pesantren Lirboyo dan Ploso. Ia sempat bersilaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-Aceh dalam Musyawarah Kerja Wilayah NU Aceh pada Juni 2026.
Kekuatan Gus Salam terletak pada penerimaan di kalangan pesantren dan citranya sebagai figur rekonsiliator. Kelemahannya, belum terlihat blok suara struktural dalam jumlah besar yang secara terbuka menyatakan dukungan.
Apabila ketua umum diputuskan melalui AHWA, Gus Salam berpeluang muncul sebagai jalan tengah ketika kandidat-kandidat dengan kekuatan besar tidak mencapai kesepakatan.
Kiai Zulfa, Figur Kompromi dari Internal PBNU
KH Zulfa Mustofa memiliki pengalaman panjang di PBNU, mulai dari Ketua Lembaga Bahtsul Masail, Katib Syuriyah, hingga Wakil Ketua Umum. Ia juga pernah menjadi Penjabat Ketua Umum PBNU ketika konflik internal mencapai puncaknya pada Desember 2025.
Pengalaman tersebut membuat Kiai Zulfa memahami peta kekuatan internal PBNU. Ia juga bisa diterima oleh sebagian kelompok yang sebelumnya berbeda posisi dengan Gus Yahya.
Namun, dibandingkan Gus Kikin dan Gus Yusuf, belum terlihat dukungan cabang yang diumumkan secara terbuka dan terukur untuk Kiai Zulfa. Peluangnya lebih besar sebagai figur kompromi dalam skema AHWA daripada melalui pertarungan suara langsung.
Peta Akhir: Mekanisme Menentukan Pemenang
Hasil penelusuran Dialeksis menunjukkan belum ada kandidat yang dapat dipastikan menang sebelum mekanisme pemilihan ditetapkan.
Jika pemilihan dilakukan langsung oleh muktamirin, Gus Yahya memiliki peluang terbesar karena berstatus petahana, memiliki jaringan nasional, dan laporan pertanggungjawabannya diterima secara aklamasi. Gus Kikin dan Gus Yusuf menjadi penantang terdekat karena memiliki dukungan cabang yang lebih terukur.
Sebaliknya, jika pemilihan Ketua Umum PBNU diserahkan kepada Rais Aam dan AHWA, peta persaingan menjadi lebih terbuka. Gus Kikin memiliki modal struktural dan genealogis, sedangkan Gus Salam, Gus Rozin, dan Kiai Zulfa berpeluang muncul sebagai figur kompromi.
Komposisi sembilan anggota AHWA serta sosok Rais Aam terpilih akan menjadi penentu. Dalam skenario tersebut, kandidat dengan suara cabang paling banyak belum tentu otomatis terpilih. Figur yang dinilai mampu menyatukan struktur, pesantren, kiai sepuh, dan berbagai faksi internal justru dapat keluar sebagai pemenang.
Muktamar ke-35 NU akhirnya bukan hanya pertarungan nama. Forum ini menjadi ujian apakah NU akan mempertahankan demokrasi langsung di antara cabang atau kembali memperbesar peran para kiai melalui AHWA dalam menentukan pemimpin organisasi pada awal abad keduanya. [red]
Share berita ini