Gangguan Penglihatan Ancam Kualitas Hidup, Kemenkes Targetkan 1 Juta Orang Periksa Mata

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Gangguan penglihatan menjadi salah satu masalah kesehatan yang berdampak besar terhadap kualitas hidup masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun mendorong deteksi dini dan pemerataan layanan kesehatan mata untuk mencegah kebutaan serta mengurangi risiko disabilitas.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan sekitar seperlima kasus penyakit penyebab disabilitas di Indonesia berkaitan dengan gangguan penglihatan.

Menurut Dante, meskipun tidak selalu menyebabkan kematian secara langsung, gangguan penglihatan, termasuk katarak, dapat membatasi aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup seseorang.

“Gangguan penglihatan, termasuk katarak, memang tidak memicu kematian secara langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang,” ujar Dante.

Kemenkes Targetkan Deteksi Dini dan Operasi Katarak

Untuk menekan dampak gangguan penglihatan, Kemenkes mendorong percepatan Peta Jalan Kesehatan Penglihatan Nasional melalui penguatan pemeriksaan mata sejak tingkat pelayanan kesehatan primer.

Pemerintah menargetkan sedikitnya satu juta orang yang berisiko mengalami gangguan penglihatan menjalani deteksi dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Selain itu, cakupan operasi ditargetkan mencapai 80 persen penderita katarak tingkat sedang hingga berat. Pemerintah juga menargetkan sedikitnya 80 persen pasien pascaoperasi katarak memperoleh pemulihan ketajaman penglihatan yang baik.

Kemenkes turut menargetkan angka Cataract Surgical Rate (CSR) minimal 3.000 tindakan operasi katarak per satu juta penduduk setiap tahun secara nasional.

Dante mengatakan pemerataan dokter spesialis mata hingga wilayah terpencil juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas akses layanan kesehatan mata dan mengurangi antrean operasi katarak.

Katarak Bukan Satu-satunya Penyebab Gangguan Penglihatan

Selain katarak, masyarakat juga menghadapi risiko gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi, retinopati diabetik, degenerasi makula terkait usia atau age-related macular degeneration (AMD), serta glaukoma.

Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Prof. Budu, mengatakan perubahan pola hidup dan penuaan penduduk turut memengaruhi tren penyakit mata di Indonesia.

Retinopati diabetik, misalnya, merupakan kerusakan pembuluh darah retina akibat komplikasi diabetes. Sementara itu, glaukoma dapat merusak saraf mata dan menyebabkan kehilangan penglihatan.

Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mengenali gangguan mata sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Kemenkes mendorong pemanfaatan funduskopi atau oftalmoskopi di layanan kesehatan primer. Pemeriksaan ini memungkinkan tenaga medis melihat bagian dalam mata, termasuk retina dan pembuluh darah, untuk membantu mendeteksi kelainan tertentu.

Dante menilai pemeriksaan funduskopi oleh dokter umum dan dokter yang menangani pasien diabetes dapat membantu menemukan gangguan mata lebih awal, termasuk retinopati diabetik.

Penguatan deteksi dini, pemerataan tenaga medis, dan peningkatan akses operasi katarak diharapkan dapat menekan risiko kebutaan sekaligus menjaga produktivitas dan kualitas hidup masyarakat. [red]

Share berita ini

dialeksis.com