DIALEKSIS.COM | Jakarta - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah diikuti 59,6 juta masyarakat hingga 5 Juli 2026. Capaian tersebut melampaui target mingguan pemerintah dan dinilai masih berada di jalur untuk mencapai target 130 juta peserta pada akhir 2026.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan CKG kini tidak hanya berfokus pada deteksi dini penyakit, tetapi mulai memasuki tahap tatalaksana atau pengobatan bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif," kata Budi.
Karies Gigi Dominasi Temuan pada Anak
Data CKG selama semester pertama 2026 menunjukkan persoalan kesehatan berbeda pada setiap kelompok usia.
Pada bayi baru lahir, skrining menemukan sekitar 20.946 bayi atau 4,3 persen dari lebih 490 ribu bayi yang diperiksa memiliki indikasi penyakit jantung bawaan kritis sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Sementara pada anak usia sekolah hingga remaja, karies gigi menjadi masalah kesehatan terbanyak dengan prevalensi lebih dari 40 persen. Temuan lainnya meliputi anemia (27 persen), peningkatan tekanan darah (21 persen), penumpukan kotoran telinga (7 persen), serta gizi lebih dan obesitas (7 persen).
Pemerintah juga mencatat Indonesia kini menghadapi double burden of malnutrition, yakni gizi kurang dan gizi lebih yang terjadi secara bersamaan.
Pengobatan Hipertensi dan Diabetes Diperluas
Sejak 2026, CKG mulai diperluas ke tahap pengobatan bagi pasien hipertensi dan diabetes melitus yang telah terdiagnosis.
Data sementara menunjukkan 35,4 persen pasien hipertensi yang terdeteksi pada CKG 2025 kembali menjalani pemeriksaan pada 2026. Dari jumlah tersebut, 46,9 persen berhasil mengendalikan tekanan darah.
Sementara itu, sebanyak 33,1 persen pasien diabetes kembali menjalani pemeriksaan, dengan 69,4 persen di antaranya berhasil mengendalikan kadar gula darah.
Pemerintah menargetkan sedikitnya 50 persen penderita menjalani pengobatan rutin pada tahun ini, dengan separuh di antaranya mencapai kondisi penyakit yang terkendali.
Menurut Budi, pengobatan rutin setelah skrining menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke, sebagaimana diterapkan sejumlah negara melalui pendekatan deteksi dini, pengobatan, dan pengendalian penyakit secara berkelanjutan. [in]
Share berita ini