TIGA

DIALEKSIS.COM | Kolom - Teuku Afifuddin, seorang akademisi seni, aktor, dan sineas asal Aceh akan menampilkan karyanya berjudul "Tiga" pada hari ini, Sabtu (12/9/2026) di Panggung Solo International Performing Art. 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

TIGA

Karya: Teuku Afifuddin

12 September 

Pukul 19:00 di Panggung Solo International Performing Art


TIGA -- investigates the ethics of remaining between two relationships that cannot simply replace one another.

Rooted in the social experience of family life in Indonesia, particularly within Muslim communities, the work begins from the position of an adult man who simultaneously inhabits several relational roles: son, husband, father, and brother.

Its central tension emerges when two fundamental relationships -- the relationship with his mother and the relationship with his wife -- come into conflict.

The work refuses to reduce this situation to a question of who deserves to win.

A mother cannot simply cease to be his mother when he becomes a husband. Yet marriage creates another intimate relationship carrying its own commitments, responsibilities, and expectations.

Caught between these different forms of love, the man faces an impossible demand: to choose.

TIGA -- proposes another possibility.

Rather than choosing one relationship against the other, he attempts to create a third position: a space in which he can remain a son, remain a husband, and at the same time become an adult capable of taking responsibility for the tension between them.

Three male bodies embody this negotiation.

They pull, support, resist, collide, separate, and repeatedly attempt to regain balance. Drawing from embodied memories of Saman, Seudati, Rabbani, and Guel, the performance transforms Acehnese movement principles into a contemporary physical language of relationship and tension.

There is no final victory.

There is no absolute reconciliation.

There is only the continuous labour of remaining connected without allowing one form of love to erase another.

He does not choose one of two.

He chooses to become three.

------------------------------------------------------

TIGA

Bagaimana seorang laki-laki berdiri ketika dua orang yang sama-sama dicintainya menarik hidupnya ke arah yang berbeda?

TIGA adalah pertunjukan teater tubuh kontemporer tentang laki-laki dewasa yang hidup di antara berbagai tanggung jawab keluarga. Dalam pengalaman sosial masyarakat Indonesia, khususnya keluarga Muslim, ia hadir dalam banyak hubungan sekaligus: sebagai anak, suami, ayah, dan saudara.

Pertunjukan memusatkan perhatian pada salah satu ketegangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: ketika konflik terjadi antara ibu dan istri.

Ia tidak ingin kehilangan ibunya.

Ia juga tidak ingin kehilangan istrinya.

Memilih salah satu berarti membiarkan hubungan yang lain terluka. Namun sekadar berdiri di tengah juga tidak menyelesaikan apa pun.

Maka ia mencari posisi lain.

Sebagai anak, ia tetap mencintai dan menjaga ibunya. Sebagai suami, ia tetap memikul tanggung jawab kepada istrinya. Sebagai laki-laki dewasa, ia berusaha menciptakan ruang agar cinta kepada satu orang tidak menjadi alasan untuk kehilangan yang lain.

Ia tidak memilih siapa yang harus menang.

Ia berusaha agar tidak ada yang harus kalah.

Ia memilih menjadi tiga.

Melalui tiga tubuh laki-laki tanpa kata, TIGA menghadirkan tarikan, tekanan, benturan, keseimbangan, kelelahan, dan usaha untuk tetap berdiri. Memori gerak Saman, Seudati, Rabbani, dan Guel hadir bukan sebagai reproduksi tari tradisi, melainkan sebagai sumber energi tubuh, ritme, repetisi, dan hubungan antarmanusia.

TIGA tidak menawarkan penyelesaian yang mutlak.

Ia berbicara tentang upaya menjaga cinta dan tanggung jawab ketika kehidupan terus memaksa manusia untuk memilih. [ta]

Share berita ini

dialeksis.com