Peringatan Maulid: Antara Tradisi, Spiritualitas, dan Kontroversi

DIALEKSIS.COM | Kolom - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi tradisi yang mengakar di berbagai belahan dunia Islam, termasuk Indonesia. Di Aceh, malah, diperingati selama tiga bulan penuh: Molot Phôn (Rabiul Awal), Molot Teungoh (Rabiul Akhir), dan Molot Akhê (Jumadil Awal)

Namun, di balik kemeriahan perayaan tahunan ini, terdapat sejarah panjang yang sarat dengan dinamika politik, spiritualitas, dan perdebatan teologis yang tak kunjung usai hingga hari ini.

Tradisi memperingati kelahiran Rasulullah SAW tidak muncul pada masa beliau atau generasi sahabat. Bahkan, hingga beberapa generasi berikutnya.

Peringatan ini baru berkembang beberapa abad setelah Rasulullah SAW wafat. Kala itu, umat Islam dirasa.mulai jauh dari ajaran, tuntutan, dan keteladanan beliau.

Sebagian besar catatan sejarah menyebutkan bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali digelar secara resmi pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, sekitar tahun 363 H (972 M) di bawah perintah Khalifah al-Mu'izz li Dinillah.

Sejarawan al-Maqrizi dalam kitab Khitat al-Maqrizi mencatat bahwa perayaan ini menjadi ciri khas keagamaan kaum Syiah Fatimiyah. Perayaannya diisi dengan perjamuan dan pembacaan syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Versi lain menyatakan bahwa perayaan Maulid secara besar-besaran di kalangan Muslim Sunni dipelopori oleh Al-Mudhaffar Abu Sa'id Kukburi alias Muẓaffar ad-Dīn Gökböri. Dia adalah Emir Erbil (sekarang Irak) pada awal abad ke-7 H (sekitar 549-630 H). 

Al-Mudhaffar menggelar perayaan Maulid Nabi SAW secara spektakuler dengan menghabiskan 300.000 dinar untuk sedekah dan menjamu ribuan orang. Ada pula yang mengaitkan kebangkitan tradisi ini dengan Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Keduanya menghidupkan peringatan Maulid untuk memperkuat mentalitas pasukannya dalam Perang Salib. Al-Mudhaffar adalah adik ipar Shalahuddin.

Terlepas dari perbedaan riwayat tersebut, yang jelas bahwa peringatan Maulid Nabi SAW lahir dari kesadaran kolektif untuk mengingat kembali sosok Rasulullah di tengah kondisi umat Islam yang melemah.

Di tengah penerimaan luas terhadap tradisi Maulid, terdapat pandangan kontroversial yang menolaknya sebagai bentuk bid'ah. Pandangan ini secara tegas dipegang oleh otoritas keagamaan di Arab Saudi.

Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Besar dan Khatib Masjidil Haram, dalam khutbahnya memperingatkan umat Islam agar tidak merayakan Maulid Nabi SAW. 

Dia menegaskan bahwa perayaan ini tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan Sunnah, serta tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad, para sahabat, maupun generasi salaf yang saleh. Menurutnya, perayaan Maulid adalah "bid'ah yang harus dijauhi karena setiap bid'ah adalah kesesatan.” 

Dia juga menyoroti praktik perayaan Maulid yang kerap diwarnai dengan pemborosan, campur baur antara laki-laki dan perempuan, serta hiburan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat. 

Syeikh as-Sudais menekankan bahwa cinta sejati kepada Rasulullah SAW tak cukup ditunjukkan dengan perayaan seremonial semata, tetapi harus mengikuti sunnah dan teladan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari perbedaan pendapat, mayoritas ulama dunia Islam, termasuk dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, memandang peringatan Maulid Nabi sebagai tradisi yang memiliki banyak nilai positif. Para ulama menekankan bahwa esensinya adalah menggali hikmah dan meneladani kehidupan Rasulullah SAW.

Maulid harus menjadi momen untuk mengekspresikan rasa cinta dan syukur mendalam atas kelahiran Nabi Muhammad yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Imam Jalaluddin as-Suyuthi, salah seorang ulama besar yang membolehkan perayaan Maulid, menyebutnya sebagai bid'ah hasanah selama tidak dicampuri dengan hal-hal yang dilarang syariat.

Selain itu, kegiatan peringatan Maulid seharusnya menjadi pintu bagi umat Islam untuk kembali kepada akhlak mulia Rasulullah. Sifat-sifat seperti kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial perlu dihadirkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi di tengah kehidupan modern yang semakin tumpul rasa kepedulian sesama. Bukan hanya sesaat, tapi selamanya.

Kemudian, peringatan Maulid juga mengajak umat untuk merefleksikan perjuangan Nabi dalam membangun masyarakat yang berkeadilan dan menjunjung persaudaraan. Di tengah keberagaman, keteladanan Nabi dalam membangun kehidupan bersama menjadi pedoman penting untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan.

Bagi umat Islam masa kini, perdebatan tentang Maulid Nabi harus memberikan pelajaran berharga. Apapun pandangan tentang hukum Maulid, semua sepakat bahwa yang terpenting adalah mengamalkan ajaran dan akhlak Rasulullah dalam kehidupan nyata.

Perbedaan pandangan tentang Maulid telah berlangsung selama berabad-abad dan itu merupakan bagian dari kekayaan khazanah pemikiran Islam. Sikap saling menghormati antarsesama muslim yang berbeda pandangan adalah keniscayaan.

Jika merayakan Maulid, niatkan sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi dan sarana dakwah, bukan sekadar ritual makan-makan tahunan tanpa makna. Jika tidak merayakannya, tetap tunjukkan kecintaan kepada Nabi dengan mengikuti sunnah dan akhlak beliau.

Sebagai penutup, peringatan Maulid harus menjadi jembatan yang menghubungkan umat Islam dengan sejarah agung Nabi Muhammad SAW. Jadi, ini lebih dari sekadar perayaan atau kontroversi, tetapi sebagai panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang beliau bawa dan menjadikannya sebagai panduan dalam setiap langkah kehidupan. 

Perbedaan pandangan tentang bentuk perayaan seharusnya tidak menjadi penghalang bagi umat Islam untuk terus bersatu dalam kecintaan kepada sosok agung Rasulullah dan komitmen mengikuti ajaran beliau. Wallāhu a‘lamu bish-shawāb.[**]

Penulis: Nurdin Hasan (Jurnalis Freelance)

Share berita ini

dialeksis.com