Nasionalisme di Tengah Melemahnya Rupiah dan Naiknya Harga Pertamax

DIALEKSIS.COM | Kolom - Beberapa waktu lalu, saya berdiri cukup lama di SPBU sebelum saya mengisi minyak motor, tanpa sadar saya memperhatikan angka pada layar pengisian minyak yang terus bertambah. Nominal yang biasanya cukup untuk beberapa hari ini terasa lebih cepat habis. Saat sedang mengisi minyak motor, saya tanpa sengaja mendengar dua orang di dekat pompa bensin lagi ngomong.

"Naik lagi harganya?"

"Iya, jauh banget naiknya, entah sampai kapan begini terus ."

Percakapan singkat itu mungkin terdengar biasa. Namun, bagi saya, kalimat tersebut menggambarkan kegelisahan yang dirasakan banyak masyarakat Indonesia saat ini.Kenaikan harga Pertamax dan melemahnya nilai rupiah bukan lagi sekadar berita ekonomi yang muncul di televisi atau media sosial. Dampaknya sudah terasa hingga ke kehidupan sehari-hari.

Sebagai mahasiswa, saya mungkin tidak memahami seluruh teori ekonomi yang rumit. Namun saya memahami bagaimana harga kebutuhan semakin terasa berat, biaya transportasi bertambah, dan banyak orang mulai menghitung ulang pengeluaran mereka setiap bulan.

Awalnya saya bertanya-tanya, apa hubungan nasionalisme dengan harga bahan bakar atau nilai tukar rupiah?

Bukankah nasionalisme identik dengan upacara bendera, lagu kebangsaan, atau perjuangan para pahlawan? Ternyata saya salah.

Nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan heroik. Kadang-kadang, nasionalisme justru diuji ketika negara sedang menghadapi tantangan.

Melemahnya rupiah dan naiknya harga Pertamax membuat banyak masyarakat mengeluh. Itu hal yang wajar sih. Saya pun merasakan hal yang sama. Namun di balik keluhan tersebut, saya belajar bahwa mencintai negara bukan berarti menutup mata terhadap masalah yang ada. 

Sebaliknya, nasionalisme mengajarkan kita untuk peduli. Peduli terhadap kondisi bangsa. Peduli terhadap kebijakan pemerintah. Peduli terhadap masyarakat yang terdampak lebih besar dari kita.

Saya menyadari bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak berdiri sendiri. Harga minyak dunia, konflik antarnegara, hingga ketidakpastian ekonomi global ikut memengaruhi keadaan dalam negeri. Ketika nilai dolar menguat, rupiah ikut tertekan. Ketika harga minyak dunia naik, biaya energi pun ikut meningkat. 

Di sinilah saya memahami bahwa menjadi warga negara bukan hanya soal menuntut, tetapi juga berusaha memahami.

Bukan berarti kita harus selalu setuju dengan setiap kebijakan pemerintah. Kritik tetap diperlukan. Namun, kritik yang lahir dari rasa cinta tentu berbeda dengan kritik yang lahir dari kebencian.

Pancasila mengajarkan kita untuk mengedepankan kepentingan bersama. Sila kelima tentang keadilan sosial mengingatkan bahwa setiap kebijakan ekonomi harus memperhatikan kesejahteraan rakyat. Karena itu, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat kecil tidak menjadi pihak yang paling dirugikan.

Sebagai generasi muda, saya percaya nasionalisme hari ini memiliki wajah yang berbeda. Nasionalisme bisa diwujudkan dengan menggunakan produk dalam negeri, mendukung UMKM, menghemat penggunaan bahan bakar, hingga terus belajar agar kelak mampu berkontribusi bagi bangsa.

Harga Pertamax mungkin bisa naik.

Nilai rupiah mungkin bisa turun.

Namun semangat untuk mencintai Indonesia tidak boleh ikut melemah. Justru dalam masa-masa sulit seperti inilah rasa nasionalisme diuji. Apakah kita hanya mencintai negara ini ketika keadaan baik-baik saja, atau tetap berdiri bersama ketika bangsa sedang menghadapi tantangan?

Bagi saya, nasionalisme adalah tetap percaya bahwa Indonesia mampu bangkit. Tetap memberikan kritik yang membangun. Tetap peduli pada sesama. Dan tetap berharap bahwa negara ini akan menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.

Karena pada akhirnya, Indonesia bukan hanya tentang pemerintah, ekonomi, atau angkat di pasar keuangan. Indonesia adalah kita. Dan masa depannya bergantung pada seberapa besar kepedulian kita terhadapnya.

Lebih jauh lagi, saya merasa bahwa kondisi seperti sekarang seharusnya menjadi momentum bagi generasi muda untuk lebih peka terhadap persoalan bangsa. Selama ini, banyak mahasiswa yang menganggap isu ekonomi hanyalah urusan pemerintah, para ahli ekonomi, atau kalangan tertentu. Padahal dampaknya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Ketika harga bahan bakar naik, biaya transportasi meningkat. Ketika biaya transportasi meningkat, harga barang ikut naik. Pada akhirnya, masyarakat biasa yang harus menyesuaikan pengeluaran mereka agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai mahasiswa yang hidup jauh dari keluarga dan bergantung pada uang kiriman orang tua walaupun saya kerja sampingan, saya juga merasakan bagaimana perubahan kondisi ekonomi dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Kadang saya harus mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting, lebih hemat dalam menggunakan kendaraan, atau memilih membeli kebutuhan yang benar-benar diperlukan. Hal-hal sederhana seperti itu membuat saya semakin memahami bahwa kondisi ekonomi negara memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.

 Masih banyak mahasiswa yang tetap semangat belajar meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Semua itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat yang terus berjuang dalam perannya masing-masing.

Menurut saya, nasionalisme pada era sekarang tidak cukup hanya diucapkan dalam slogan atau ditunjukkan saat peringatan hari kemerdekaan saja. Nasionalisme harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Mahasiswa dapat menunjukkan rasa cinta kepada bangsa dengan belajar sungguh-sungguh, meningkatkan kemampuan diri, aktif memberikan solusi terhadap masalah sosial, dan ikut mengawasi kebijakan publik secara kritis, tapi tetap objektif.

Saya percaya bahwa Indonesia pernah menghadapi berbagai krisis dan tantangan yang jauh lebih berat. Namun bangsa ini mampu bertahan karena adanya rasa persatuan dan keyakinan bahwa setiap masalah pasti dapat dihadapi bersama sama. Oleh karena itu, ketika melihat rupiah melemah atau harga Pertamax naik, saya tidak ingin hanya berhenti pada keluhan semata. Saya ingin menjadikan kondisi tersebut sebagai pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama sebagai bangsa.

Pada akhirnya, nasionalisme bukan sekadar tentang menghafal sejarah perjuangan para pahlawan saja , tetapi juga tentang melanjutkan semangat perjuangan itu dalam kehidupan masa sekarang. Tantangan yang kita hadapi mungkin berbeda dengan masa lalu, tetapi tujuan kita tetap sama, yaitu membangun Indonesia yang lebih kuat, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Sebagai mahasiswa dan bagian dari generasi muda , saya memilih untuk tetap optimis. Saya percaya bahwa di balik berbagai kesulitan yang ada, Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Dan selama masih ada masyarakat yang peduli, masih ada generasi muda yang mau belajar dan berkontribusi, serta masih ada semangat untuk menjaga persatuan, maka harapan untuk masa depan Indonesia akan selalu ada.

Sebab mencintai Indonesia bukan hanya tentang bangga ketika negara sedang baik-baik saja, tetapi juga tentang tetap bertahan, peduli, dan berjuang ketika bangsa sedang menghadapi berbagai ujian. Itulah nasionalisme yang saya pahami hari ini. [**]

Penulis: Ariska (mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)

Share berita ini

dialeksis.com