Menolak Lupa: Habib Teupin Wan dan Memoar Ketakutan Kolonial Belanda

DIALEKSIS.COM | Kolom - Sejarah sering kali menyisakan ruang bagi segelintir nama besar di atas panggung utama. Di balik buku-buku teks sekolah yang seragam, ada narasi kepahlawanan kadang sengaja dihilangkan sehingga ia terkubur zaman. Sebab, ada ungkapan: sejarah ditulis oleh para pemenang.

Bagi generasi muda hari ini, yang hidup di era serba instan, menggali kembali kisah Habib Teupin Wan, yang bernama lengkap Sayid Abdurrahman bin Hasan Assegaf, bukanlah sekadar romantisme masa lalu. Tetapi, langkah ini adalah upaya krusial untuk menemukan kembali kompas integritas dan patriotisme bangsa Aceh.

Bagi sebagian masyarakat, boleh jadi nama Habib Teupin Wan sangat asing dan tak muncul dalam buku sejarah. Makanya, dia disebut the forgotten hero, pahlawan terlupakan dari bumi Serambi Makkah. Namun, di mata spionase dan militer Hindia Belanda abad ke-19, dia adalah sosok nyata yang memicu kengerian mendalam.

Jika ada pihak meragukan seberapa besar pengaruh Habib Teupin Wan, silakan buka lembaran-lembaran arsip rahasia kolonial Belanda. Sejarah mencatat bahwa penasihat ulung urusan pribumi Batavia, Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, pernah mengirim selembar surat rahasia kepada Gubernur Jenderal Carel Herman Aart van der Wijck, tanggal 5 September 1894.

Dalam surat itu, Snouck Hurgronje secara spesifik memperingatkan penguasa Belanda di Batavia mengenai bahaya gerakan sang Habib di wilayah Aceh Rayeuk. Snouck menulis bahwa di antara sekian banyak penggerak perlawanan di pedalaman, Habib Teupin Wan adalah sosok yang paling mengkhawatirkan dan banyak menyusahkan kepentingan Hindia Belanda. 

Sang orientalis kolonial Belanda yang belajar tentang agama Islam di Makkah itu bahkan menggarisbawahi potensi besar sang Habib untuk menjelma menjadi "Teungku Chik di Tiro Kedua". Tentu saja ini sebuah analogi yang sangat ditakuti Belanda karena ingatan mereka akan dahsyatnya gelombang Perang Sabil yang dikobarkan oleh Syeikh Muhammad Saman.

Belanda tidak main-main dengan analisis ini. Mengapa mereka begitu gentar pada sosok ulama yang awalnya hanya seorang guru mengaji Al-Qur'an bagi anak-anak bangsawan di tepi Krueng Aceh? Jawabannya ada pada laporan-laporan militer yang dibukukan kemudian.

Dalam literatur kolonial lama, termasuk catatan Jenderal Gotfried Coenraad Ernst van Daalen dan buku mengenai Jenderal J.B. van Heutsz serta Jenderal Swart (Pacivicator Van Atjeh), ketokohan Habib Teupin Wan digambarkan memiliki tiga karakter utama: Nestor der Geestelijke (Ulama Sepuh/Agung), Verzetsleider (Pemimpin Perlawanan), dan Heilig (Keramat).

Belanda menjulukinya Organisator van de Heilige Oorlog, Sang Organisator Perang Suci. Berbeda dengan banyak pejuang konvensional, Habib Teupin Wan ternyata memiliki jaringan logistik dan pendanaan gerilya yang luar biasa rapi. 

Hebatnya lagi, laporan intelijen Belanda mencatat bahwa sang Habib tetap mampu menggalang dana perjuangan dari para tokoh Aceh yang secara administratif sudah menyatakan tunduk dan menyerah pada Belanda. 

Kharisma Habib Teupin Wan sebagai seorang Sayyid juga membuatnya diakui secara mutlak sebagai pemimpin tertinggi yang menyatukan faksi-faksi gerilyawan.

Julukan lapangan lain terhadap beliau adalah Habib Itam, merujuk pada taktik gerilyanya yang bagaikan bayangan.

Bersama pasukannya, dia membangun benteng-benteng pertahanan dengan memanfaatkan situs-situs religius, seperti makam keramat Tengku Di Leung Keung di Sagoe Mukim XXVI. Ketika blokade Aceh Besar semakin mencekik, Habib Teupin Wan menolak berkompromi. 

Saat banyak bangsawan Kesultanan Aceh menyerah lewat Korte Verklaring (perjanjian pendek), Habib Teupin Wan memilih angkat kaki dan menolak tunduk. Dia lalu berhijrah dan memindahkan basis perlawanan ke pedalaman pegunungan Pidie demi menjaga api jihad tetap menyala.

Keteguhan yang tak kenal kompromi ini pulalah yang membuat marsose (pasukan khusus Belanda) meluncurkan perburuan besar-besaran di pedalaman. Kegigihan gerilya Habib Teupin Wan selama 38 tahun (1873-1911) akhirnya menemui puncaknya akibat pengkhianatan oleh seorang cuak (informan lokal), Teungku Bajee Mirah.

Pada 29 September 1911, dalam sebuah penyergapan tak seimbang di tengah rimbunnya hutan Gunong Halimon di Tangse, Pidie, Habib Teupin Wan syahid setelah terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Marsose pimpinan Letnan Schemidt. Jasadnya kini bersemayam di Gampong Blang Dalam, Tangse.

Refleksi untuk Generasi Muda

Bagi generasi muda hari ini, kisah Habib Teupin Wan bukan dongeng pengantar tidur tentang senapan dan rencong. Ini adalah potret nyata akan sebuah prinsip yang mahal: Integritas.

Di zaman di mana idealisme kerap kali bisa digadaikan demi materi, jabatan, dan kenyamanan, sosok Habib Teupin Wan mencontohkan sebaliknya. Beliau enggan menyerah serta mengorbankan statusnya sebagai guru agama kelas atas bagi anak-anak elite bangsawan demi turun ke lumpur dan rimba untuk memperjuangkan kedaulatan bangsanya.

Membaca dokumen dan catatan Snouck Hurgronje atau ulasan sejarah di Arsip Riset ResearchGate semestinya memicu kesadaran baru bagi generasi muda Aceh. Bahwa pahlawan sejati tak selalu mereka yang namanya diabadikan sebagai nama jalan protokol di ibu kota.

Tugas generasi muda Aceh sekarang adalah menjadi "detektif sejarah". Kita harus menggali kembali rekam jejak emas para pejuang Aceh yang terlupakan, terus merawat ingatannya, dan merelevansikan semangat pantang tunduk mereka dalam menghadapi tantangan zaman modern. Jangan biarkan The Forgotten Hero ini terus terlupakan![**]

Penulis: Nurdin Hasan (Jurnalis)

Share berita ini

dialeksis.com