Membangun Ekosistem Akademik Aceh: Sebuah Refleksi

DIALEKSIS.COM | Kolom - Mimpi agar Aceh memiliki ruang akademik yang secara khusus mengkaji Aceh, menerbitkan artikel berkualitas, dan menjadikannya sebagai bahan diskusi publik adalah cita-cita yang sangat baik. Harapan seperti ini tentu patut diapresiasi, karena kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan tradisi intelektual yang dimilikinya.

Namun, jika kita melihat perkembangan akademik Aceh hari ini, sesungguhnya fondasi menuju cita-cita tersebut telah dibangun dan terus berkembang. Salah satu institusi yang secara konsisten mengambil peran dalam membangun ekosistem tersebut selain ICAIOS adalah SCAD Independent. 

Sebagai lembaga pengembangan akademik dan pusat studi yang berdiri secara independen, SCAD Independent yang selama bertahun-tahun secara konsisten bergerak dan tidak hanya berfokus pada penelitian dan penerbitan jurnal ilmiah, tetapi juga membangun budaya riset, publikasi, pelatihan akademik, pendampingan peneliti, pengembangan kapasitas editor dan reviewer, serta memperluas jejaring kolaborasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.

Komitmen tersebut tidak hanya tercermin dari aktivitasnya, tetapi juga dari pengakuan kelembagaan yang diperoleh. SCAD Independent telah terdaftar dalam International Standard Name Identifier (ISNI) sebagai identitas lembaga yang diakui secara internasional, sekaligus tercatat dalam Research Organization Registry (ROR) yang menjadi basis identitas resmi berbagai institusi riset dunia. 

Pengakuan ini menunjukkan bahwa SCAD Independent bukan sekadar organisasi lokal, melainkan telah menjadi bagian dari ekosistem penelitian global yang dapat dikenali dan diakses oleh komunitas ilmiah internasional. Dan pada tahun 2014 SCAD Independent juga tekah diakreditasi oleh IAO. 

Dalam bidang publikasi ilmiah, SCAD Independent juga telah menunjukkan kontribusi yang nyata. Di bawah pengelolaannya lahir Jurnal Ilmiah Peuradeun (JIP), yang saat ini telah menjadi salah satu jurnal ilmu sosial bereputasi internasional dengan indeksasi Scopus Q1, Web of Science, dan berbagai pengindeks internasional lainnya. 

Pencapaian tersebut tidak diperoleh dalam waktu singkat, tetapi melalui proses panjang membangun tata kelola editorial yang profesional, menerapkan proses peer review yang ketat, menjaga etika publikasi, serta mempertahankan kualitas artikel yang dipublikasikan.

Lebih penting lagi, keberadaan Jurnal Ilmiah Peuradeun membuktikan bahwa dari Aceh dapat lahir jurnal yang tidak hanya dibaca di tingkat nasional, tetapi juga menjadi rujukan bagi peneliti dari berbagai negara. Banyak artikel yang diterbitkan mengangkat isu-isu sosial, pendidikan, agama, hukum, budaya, dan pembangunan yang berasal dari Indonesia, termasuk Aceh, namun dibahas dalam perspektif yang relevan bagi komunitas akademik global. 

Dalam beberapa tahun terakhir, SCAD Independent juga terus mengembangkan berbagai jurnal ilmiah baru yang memiliki fokus spesifik pada bidang-bidang strategis, mulai dari pendidikan, tata kelola pemerintahan, dakwah, bahasa dan budaya, psikologi, sains, hingga inovasi teknologi. Langkah ini menunjukkan adanya visi jangka panjang untuk membangun ekosistem publikasi ilmiah yang beragam, profesional, dan berkelanjutan. Kehadiran berbagai jurnal tersebut bukan sekadar menambah jumlah media publikasi, tetapi menjadi ruang bagi berkembangnya gagasan, lahirnya kolaborasi penelitian, dan meningkatnya kualitas karya ilmiah dari para akademisi.

Di sisi lain, SCAD Independent juga tidak memandang jurnal sebagai tujuan akhir. Publikasi hanyalah salah satu bagian dari proses pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, berbagai pelatihan penulisan artikel ilmiah, pendampingan menuju publikasi internasional, workshop pengelolaan jurnal berbasis OJS, seminar, konferensi, hingga forum diskusi akademik secara rutin menjadi bagian dari aktivitas lembaga ini. Tujuannya sederhana, yaitu membangun budaya ilmiah yang tidak berhenti pada penerbitan artikel, tetapi mampu melahirkan dialog akademik yang produktif dan berdampak.

Dalam konteks tersebut, saya melihat bahwa gagasan mengenai perlunya lembaga yang memiliki jurnal tentang Aceh dengan standar akademik tinggi sesungguhnya merupakan cita-cita yang sedang terus diwujudkan. Yang mungkin masih perlu diperkuat bukanlah keberadaan lembaganya, melainkan visibilitasnya di ruang publik, perluasan jejaring kolaborasi, peningkatan partisipasi para peneliti Aceh, serta pemanfaatan hasil-hasil penelitian sebagai dasar penyusunan kebijakan publik dan pembangunan daerah.

Ke depan, Aceh tentu masih membutuhkan lebih banyak pusat kajian, lebih banyak jurnal berkualitas, lebih banyak peneliti produktif, dan lebih banyak ruang diskusi ilmiah. Namun, pembangunan ekosistem akademik tidak harus selalu dimulai dari awal. Akan jauh lebih efektif apabila kita memperkuat dan mengembangkan institusi-institusi yang telah menunjukkan rekam jejak, kredibilitas, dan pengakuan internasional. 

Dalam hal ini, SCAD Independent telah menjadi salah satu contoh bahwa lembaga yang lahir dari Aceh mampu membangun reputasi akademik di tingkat global tanpa kehilangan komitmennya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah ekosistem akademik bukan diukur dari banyaknya lembaga atau jurnal yang berdiri, melainkan dari kualitas kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dan dampaknya bagi masyarakat. SCAD Independent bersama Jurnal Ilmiah Peuradeun dan jurnal-jurnal ilmiah lainnya yang berada di bawah naungannya telah menunjukkan bahwa Aceh memiliki kapasitas untuk menjadi salah satu pusat pengembangan akademik yang diperhitungkan. 

Tantangan berikutnya adalah memperluas kolaborasi, memperkuat budaya riset, dan mengajak lebih banyak akademisi untuk menjadikan Aceh bukan hanya sebagai objek penelitian, tetapi juga sebagai sumber lahirnya pemikiran-pemikiran yang memberi kontribusi bagi Indonesia dan dunia.

Penulis adalah Dr. Tabrani ZA., S.Pd.I., M.S.I., MA. Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus Founder of SCAD Independent

Share berita ini

dialeksis.com