Kisah Wartawan Utama Jalur Akselerasi Pertama di Aceh

DIALEKSIS.COM | Kolom - Ada pesan seorang guru yang terus tinggal dalam ingatan saya. Pesan itu datang dari Bahtiar Gayo, senior sekaligus penanggung jawab dan pemimpin redaksi Dialeksis. Ia bertanya kapan saya akan mengurus kompetensi wartawan jenjang Utama. Dialeksis, katanya, membutuhkan penerus yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan redaksi dan menjaga keberadaannya di Aceh maupun di tingkat nasional.

“Saya sudah semakin berumur,” katanya.

Kalimat itu menyentak hati saya. Ada waktu yang terus berjalan, ada tanggung jawab yang menunggu, dan ada kepercayaan seorang guru yang harus saya jawab dengan kesungguhan. Orang yang selama ini menjadi tempat belajar juga memikirkan siapa yang kelak akan meneruskan pekerjaan dan perjuangannya.

Sejak itulah, keinginan meraih kompetensi wartawan Utama tumbuh menjadi komitmen. Saya ingin mempersiapkan diri untuk menerima amanah itu. Namun, jalan menuju ke sana ternyata menuntut lebih banyak kesabaran dan ketekunan daripada yang semula saya bayangkan.

Informasi tentang jalur akselerasi saya peroleh dari seorang teman, Nazar Ahadi, pemimpin redaksi media siber Bithe.co. Ia bercerita tentang kesempatan bagi wartawan berpengalaman untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) langsung pada jenjang Utama melalui mekanisme akselerasi Dewan Pers, dengan memenuhi persyaratan khusus.

Saya kemudian menelusuri dan mempelajari ketentuannya. Semakin saya membaca, semakin saya memahami besarnya persiapan yang harus dilakukan. Pengalaman panjang di dunia jurnalistik harus dapat ditunjukkan melalui dokumen dan karya yang bisa diperiksa.

Persyaratan yang saya pelajari saat mengajukan akselerasi mencakup kewarganegaraan Indonesia, usia minimal 37 tahun, serta pengalaman bekerja sebagai wartawan secara terus-menerus selama sedikitnya sepuluh tahun terakhir, dengan bukti dari perusahaan atau badan hukum pers. Ada pula persyaratan rekam karya atau prestasi, seperti prestasi jurnalistik tingkat nasional, penerbitan buku melalui penerbit anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), atau tulisan dalam jurnal ilmiah terakreditasi.

Dokumen lainnya meliputi rekomendasi tiga pemimpin redaksi atau penanggung jawab media yang telah memiliki sertifikat UKW Utama, bukti jabatan sebagai redaktur atau produser pada media terverifikasi faktual, serta rekomendasi organisasi wartawan konstituen Dewan Pers. Bukti karya jurnalistik selama sepuluh tahun juga harus saya siapkan.

Di sinilah salah satu bagian tersulit perjalanan itu dimulai: menemukan kembali jejak pekerjaan sendiri.

Saya berusaha mengumpulkan dokumen autentik karya jurnalistik sejak bergelut di Acehkita. Ternyata, menemukan arsip lama jauh dari mudah. Tulisan yang pernah dikerjakan dan diterbitkan bertahun-tahun sebelumnya harus kembali dicari untuk membuktikan perjalanan yang telah saya lalui.

Alhamdulillah, pertolongan datang melalui Risman A. Rachman dan Jauhari Samalanga, yang akrab disapa Joe. Keduanya masih menyimpan dokumen majalah dan koran Acehkita. Arsip yang mereka rawat menjadi pertolongan yang sangat berarti bagi saya.

Dalam hati, saya bersyukur. Ada orang-orang yang menjaga sesuatu yang kelak ternyata sangat saya butuhkan. Lembaran-lembaran lama itu mempertemukan saya kembali dengan perjalanan sebagai wartawan, sekaligus membuka jalan untuk melangkah lebih jauh.

Saya juga menelusuri dokumen Majalah Nanggroe, media yang pernah saya kelola sebagai pemimpin redaksi. Satu demi satu, bukti perjalanan itu saya kumpulkan. Dari proses tersebut, saya belajar menghargai arsip: pekerjaan yang kita anggap telah selesai dapat kembali menjadi bagian penting dari masa depan kita.

Dukungan berikutnya datang dari tokoh-tokoh pers yang membantu menguatkan langkah saya, di antaranya Risman A. Rachman, Otto Syamsuddin Ishak, dan Nezar Patria. Rekomendasi mereka membawa kepercayaan yang harus saya jaga. Saya merasa mempunyai kewajiban untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin agar dukungan itu dapat saya pertanggungjawabkan.

Di sela menunggu proses menuju UKW Utama melalui jalur akselerasi, saya juga mengikuti UKW jenjang Muda yang diselenggarakan PWI Jakarta. Alhamdulillah, saya dinyatakan kompeten. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses belajar sebelum menghadapi tuntutan pada jenjang berikutnya.

Saya kemudian melengkapi rekomendasi perusahaan pers serta dokumen internal perusahaan yang diperlukan. Teman-teman dari Bithe, Dialeksis, dan Masakini turut membantu. Pada setiap tahap, saya semakin menyadari betapa banyak orang yang ikut menyediakan jalan bagi keberhasilan seseorang.

Setelah berkas terkumpul, saya mengajukan pendaftaran melalui Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta (LUKW UMJ). Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UMJ tercantum dalam daftar lembaga uji kompetensi yang ditetapkan Dewan Pers.

Dalam proses ini, Dr. Tria Patrianti, S.Sos., M.I.Kom., bersama Muhammad Iqbal membantu memeriksa kelengkapan dokumen dan mengurus pengajuannya kepada Dewan Pers melalui lembaga tersebut. Bantuan mereka sangat berarti dalam memastikan berkas yang saya siapkan memenuhi kebutuhan pengajuan.

Setelah pengajuan, saya menjalani wawancara dan dinyatakan lolos tahap berkas. Kelegaan itu disertai kesadaran bahwa ujian sesungguhnya masih harus saya hadapi. Persetujuan mengikuti akselerasi memberikan kesempatan untuk diuji; predikat kompeten tetap harus diperjuangkan dalam seluruh rangkaian UKW Utama.

Kesempatan tersebut saya jalani dalam UKW yang diselenggarakan Indoposco.id bekerja sama dengan LUKW UMJ pada 19-20 September 2026.

Menjelang ujian, saya kembali belajar. Saya mendalami materi, menyiapkan dokumen, dan berdiskusi dengan mereka yang telah lebih dahulu meraih kompetensi wartawan Utama: Murdeli, Bahtiar Gayo, Zulkarnain Masry, Nazar Ahadi, dan Adi Warsidi.

Pengalaman mereka membantu saya memahami tuntutan ujian dengan lebih baik. Saya datang dengan kesediaan untuk mendengar, bertanya, dan memperbaiki kekurangan. Setelah sekian lama bekerja di dunia pers, saya tetap perlu membuka ruang untuk belajar.

Selama ujian, fokus dan kesungguhan menjadi pegangan. Setiap mata uji membutuhkan perhatian penuh. Saya berusaha menjaga konsentrasi, memahami tugas yang diberikan, dan menuntaskannya dengan sebaik-baiknya.

Sepuluh mata uji yang saya jalani mencakup berbagai tanggung jawab pada tingkat kepemimpinan redaksi. Di antaranya pengembangan jejaring; penetapan kebijakan dan edukasi tentang Kode Etik Jurnalistik serta peraturan terkait pers; kebijakan mengenai regulasi platform digital; rapat redaksi; perencanaan liputan investigasi; penulisan tajuk; kebijakan rubrikasi dan redaksional; serta evaluasi rencana liputan.

Rangkaian itu membuat saya semakin memahami besarnya tanggung jawab seorang wartawan Utama. Keputusan di meja redaksi dapat memengaruhi kerja wartawan, kehidupan orang yang diberitakan, dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, pengetahuan harus disertai ketelitian, pertimbangan etis, serta keberanian untuk bertanggung jawab.

Dalam mata uji jejaring, saya mendapat dukungan dari Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Teuku Rahmatsyah, S.H., M.H., M.Kn.; Dr. H. M. Nasir Djamil, M.Si.; serta Rektor Universitas Malikussaleh, Prof. Dr. Ir. Herman Fithra, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng. Kepada mereka, saya menyampaikan terima kasih atas kesediaan meluangkan waktu dan membantu kelancaran ujian tersebut.

Pada jenjang Utama, mata uji jejaring menuntut kemampuan berkomunikasi untuk kepentingan kebijakan rubrik, kerja sama strategis kelembagaan, penanganan hak jawab atau sengketa pers, hingga negosiasi pada tingkat pimpinan redaksi. Bagi saya, pengalaman ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan profesional perlu dirawat dengan kepercayaan dan tetap berpijak pada independensi redaksi.

Kesan mendalam lainnya adalah kesempatan diuji oleh wartawan senior Hendry Ch. Bangun. Mengikuti seluruh proses di hadapan penguji yang berpengalaman membuat saya semakin bersungguh-sungguh dalam menjalani setiap tahapan.

Alhamdulillah, ikhtiar itu membuahkan hasil. Saya dinyatakan kompeten sebagai wartawan Utama dengan nilai rata-rata 90, tertinggi di antara peserta yang mengikuti ujian tersebut.

Rasa syukur saya tertuju pula kepada semua orang yang membantu perjalanan ini: guru yang mengingatkan, sahabat yang mencarikan arsip, tokoh pers yang memberi rekomendasi, rekan yang menemani belajar, serta narasumber yang menyediakan waktunya serta sahabat dan kolega yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang mendukung kesuksesan pencapaian status wartawan utama, saya ucapkan terimakasih.

Nama saya tercatat dalam hasil ujian, sementara kebaikan mereka melekat dalam proses untuk mencapainya.

Pada acara penutupan, saya mendapat kesempatan mewakili peserta untuk menyampaikan kesan dan pesan. Saya juga memperoleh hadiah undian berupa kupon kunjungan ke Ancol, sebuah kenangan menyenangkan dari rangkaian kegiatan tersebut.

Di balik seluruh kesan itu, pesan Bahtiar Gayo tetap menjadi bagian yang paling dekat dengan hati saya. Pertanyaannya telah menggerakkan langkah yang semula belum saya tuntaskan. Kini, keberhasilan melewati ujian memberi saya tanggung jawab untuk menjawab kepercayaannya melalui pekerjaan sehari-hari.

Saya ingin membawa pulang kemauan yang lebih kuat untuk menjaga Dialeksis, merawat mutu jurnalistiknya, dan meneruskan semangat belajar kepada teman-teman di ruang redaksi. Kompetensi yang telah diuji harus terlihat dalam cara kami bekerja dan melayani pembaca.

Dari perjalanan ini, ada dua hal yang ingin saya bagikan: komitmen dan keberanian mendisiplinkan diri. Komitmen membuat kita tetap mengingat tujuan. Disiplin membantu kita mengerjakan hal-hal yang dibutuhkan untuk mencapainya, termasuk ketika pekerjaan itu terasa sulit atau melelahkan.

Kadang-kadang, kita harus tegas kepada diri sendiri: berhenti menunda, membuka kembali bahan belajar, meminta bantuan, dan bersedia mengakui bahwa masih banyak yang belum kita kuasai. Dengan cara itulah kita menghargai kemampuan yang telah diberikan Tuhan, sekaligus menghormati orang-orang yang percaya kepada kita.

Kepada siapa pun yang masih menyimpan mimpi, mulailah mengerjakannya. Temukan satu langkah yang dapat diselesaikan hari ini, lalu teruskan esok hari. Beri diri sendiri kesempatan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan itu dapat tumbuh ketika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Dan kepada Bang Bahtiar, terima kasih telah mengingatkan saya tentang waktu dan tanggung jawab. Kalimat tentang usia itu akan selalu saya ingat. Semoga saya mampu menjaga kepercayaan yang Abang titipkan, melalui keputusan yang jernih, kerja yang jujur, dan kesediaan untuk terus belajar.

Selagi guru-guru kita masih dapat menyaksikan, mari kita tunjukkan bahwa pelajaran mereka tumbuh menjadi perbuatan. Selagi orang-orang yang percaya kepada kita masih dapat mendengar, sampaikan terima kasih melalui kesungguhan. Saya ingin kelak dapat menatap guru saya dan mengatakan: amanah itu saya terima, Bang. Saya akan menjaganya, lalu meneruskannya kepada mereka yang datang setelah kita. [an]

Share berita ini

dialeksis.com