Hikayat Sepatu #2: Dikepung Kayu

DIALEKSIS.COM | Kolom - Teuku Afifuddin, seorang akademisi seni, aktor, dan sineas asal Aceh. Ia merupakan dosen di Program Studi Seni Teater Institut Seni Budaya Indonesia Aceh. 

Teuku Afifuddin yang juga merupakan Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) periode 2022-2026 tersebut kembali mempublikasikan "Sinopsis Hikayat Sepatu Chapter 2: Dikepung Kayu" yang merupakan bagian dari "Teater Tutur Peugah Haba"

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sinopsis Hikayat Sepatu

Hikayat Sepatu #2: Dikepung Kayu

-- Sebuah Teater Tutur Peugah Haba --

KARYA TEUKU AFIFUDDIN


Setelah kesaksian panjang tentang banalitas alas kaki dalam Hikayat Sepatu, kini giliran bah besar yang bicara.

Air bah datang tanpa kompromi. Gelondongan kayu dan batu menerjang gudang, 

menyapu bersih seluruh koleksi sepatu milik Tuan. 

Tak tersisa satu pasang pun. 

Bagi Agam, sang penjaga, musnahnya koleksi itu adalah dosa besar -- 

sebuah kegagalan fatal yang membuatnya gemetar ketakutan menunggu kabar dari Tuannya yang sedang berada di luar negeri.


Namun, di tengah puing-puing bencana, ketakutan Agam bertransformasi menjadi amarah dan gugatan tajam. 

Melalui tuturan berirama khas Peugah Haba

Agam menyadari bahwa sepatu dan kayu-kayu gelondongan ini terikat dalam satu garis lurus kekuasaan: 

kayu-kayu yang melumat tempat tinggal mereka adalah hasil dari perintah orang-orang yang memakai sepatu.


Sepatu bukan lagi sekadar barang mewah atau berhala modern yang dipuja 

hingga membuat manusia berhutang dan menolak anak bersekolah. 

Ia adalah warisan kolonial -- simbol kekuasaan, harga diri, dan kekerasan. 

Dulu penjajah memakai sepatu untuk menginjak martabat bumiputra; 

kini para pemilik "sepatu" mengeluarkan perintah untuk menumbangkan hutan demi keserakahan mereka.


Terhimpit di antara ironi bencana dan cermin zaman, 

Agam berdiri meratap di atas puing-puing:

“Dulu saya merasa dikepung sepatu, sekarang saya dikepung kayu.” [ta]

Share berita ini

dialeksis.com