DIALEKSIS.COM | Seoul - Korea Utara kembali menunjukkan ambisinya memperkuat kekuatan militer bawah laut. Negara yang dipimpin Kim Jong Un itu mengumumkan keberhasilan menguji torpedo berkecepatan tinggi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama Zam-2.0.
Uji coba senjata tersebut berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, dan diumumkan media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pyongyang menyebut Zam-2.0 sebagai torpedo berkecepatan sangat tinggi dengan sistem pemandu presisi. Teknologi AI diklaim diterapkan untuk mendeteksi sasaran dan mengarahkan senjata menuju target.
Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya Korea Utara meningkatkan kemampuan angkatan lautnya, di tengah persaingan militer yang semakin tajam di Semenanjung Korea. Namun, rincian teknis dan kemampuan operasional torpedo tersebut belum diungkap secara terbuka.
Pertama, deteksi sasaran berbasis AI. Korea Utara mengklaim kecerdasan buatan digunakan untuk membantu sistem torpedo mengenali sasaran. Dalam penerapannya, teknologi semacam ini berpotensi membantu membedakan target sebenarnya dari objek pengalih atau umpan, meskipun kemampuan tersebut belum terbukti secara independen pada Zam-2.0.
Kedua, sistem pemandu presisi. Teknologi AI disebut diterapkan pada fungsi pengarahan torpedo. Sistem pemandu yang lebih canggih berpotensi meningkatkan kemampuan senjata mempertahankan jalur menuju sasaran. Namun, Pyongyang belum menjelaskan sejauh mana sistem tersebut mampu menyesuaikan arah secara mandiri ketika menghadapi perubahan situasi di bawah air.
Ketiga, kecepatan tinggi. Media pemerintah Korea Utara menggambarkan Zam-2.0 sebagai torpedo supercepat. Kecepatan tinggi dapat mengurangi waktu respons pihak lawan untuk mendeteksi dan menghindari serangan. Sejumlah analis menilai karakteristik yang diklaim itu mungkin berkaitan dengan teknologi torpedo superkavitasi, yakni teknologi yang memanfaatkan rongga gas di sekitar badan senjata untuk mengurangi hambatan air. Meski demikian, belum ada konfirmasi bahwa Zam-2.0 benar-benar menggunakan mekanisme tersebut.
Keempat, peningkatan sistem propulsi. KCNA menyatakan pengujian dilakukan untuk membuktikan peningkatan efisiensi sistem penggerak dan kinerja perangkat propulsi roket. Korea Utara juga mengklaim telah melakukan lebih dari 180 kali pengujian terkait selama lima tahun terakhir.
Rangkaian pengujian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Zam-2.0 bukan proyek yang baru dimulai. Meski begitu, jumlah pengujian tidak otomatis membuktikan bahwa senjata tersebut sudah siap digunakan secara operasional.
Uji coba Zam-2.0 berlangsung ketika Korea Utara meningkatkan demonstrasi kemampuan militernya. Beberapa hari sebelumnya, Pyongyang mengumumkan pengujian dua jenis rudal jelajah strategis yang diluncurkan dari kapal selam.
Langkah tersebut memperlihatkan perhatian Korea Utara terhadap pengembangan kekuatan laut, termasuk platform bawah laut yang dapat digunakan untuk meluncurkan berbagai jenis senjata.
Sejumlah analis menilai torpedo berkecepatan tinggi yang dilengkapi sistem pemandu canggih berpotensi menambah tantangan bagi kapal perang lawan. Namun, kemampuan senjata bawah laut tidak hanya ditentukan oleh kecepatan dan sistem deteksi. Stabilitas kendali, ketepatan pemanduan, serta kemampuan bekerja dalam kondisi bawah laut yang kompleks juga menjadi faktor penting.
Meski diumumkan sebagai kemajuan teknologi pertahanan, klaim Korea Utara mengenai kemampuan AI pada Zam-2.0 masih harus disikapi secara hati-hati.
Associated Press melaporkan bahwa Korea Selatan belum memberikan tanggapan langsung terhadap pengumuman tersebut. Sejumlah pakar juga meragukan apakah teknologi persenjataan Korea Utara telah mencapai tingkat kemampuan digital dan otonomi seperti yang digambarkan dalam pemberitaan resmi pemerintahnya.
Penggunaan AI dalam sistem senjata tidak serta-merta berarti senjata tersebut dapat mengambil seluruh keputusan secara mandiri. Kemampuan mengenali sasaran, membedakan objek, mengoreksi lintasan, dan beroperasi tanpa kendali manusia merupakan fungsi berbeda yang memerlukan pembuktian teknis.
Dengan demikian, pengujian Zam-2.0 menjadi sinyal keseriusan Pyongyang memperluas teknologi militernya ke ranah kecerdasan buatan. Namun, seberapa jauh teknologi itu benar-benar meningkatkan daya tempur Korea Utara masih belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.
Share berita ini