DIALEKSIS.COM | Jakarta - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membuat modus penipuan digital semakin sulit dikenali. Pelaku kejahatan kini dapat meniru suara, memalsukan identitas, hingga membuat instruksi palsu yang tampak meyakinkan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan bahwa ancaman keamanan siber di era AI tidak lagi sebatas pembobolan sistem teknologi, tetapi juga menyasar identitas dan kepercayaan masyarakat.
Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Komdigi, Raden Wijaya Kusumawardhana, mengatakan AI telah mengubah pola serangan digital. Manipulasi terhadap manusia yang menggunakan teknologi kini menjadi salah satu ancaman serius.
Menurut Wijaya, AI memiliki dua sisi dalam keamanan siber. Teknologi ini dapat membantu mendeteksi ancaman dan mempercepat penanganan insiden. Namun, AI juga bisa disalahgunakan untuk membuat konten deepfake, menyamar sebagai orang lain, hingga menjalankan penipuan berbasis manipulasi suara.
Modusnya antara lain panggilan telepon dengan suara menyerupai anggota keluarga atau instruksi palsu yang seolah berasal dari pimpinan.
"Perkembangan AI telah memperluas permukaan serangan hingga pada identitas, informasi dan kepercayaan manusia," ujarnya yang dilansir pada Minggu (1/11/2026).
Karena itu, Komdigi mendorong penguatan literasi keamanan digital agar masyarakat mampu memverifikasi identitas, mengenali informasi mencurigakan, dan melindungi data pribadi.
Selain itu, diperlukan tata kelola AI berbasis risiko, pengujian keamanan, serta kesiapan kelembagaan untuk mengantisipasi ancaman baru.
"Keamanan siber pada era AI membutuhkan pendekatan yang lebih luas yang menggabungkan kemampuan teknologi, tata kelola, kesiapan kelembagaan serta kesadaran masyarakat," pungkasnya. [*]
Share berita ini