AMSI Aceh dan Polda Perkuat Kemitraan, Kapolda Ruddi Setiawan Terima Penghargaan

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh memperkuat kemitraan strategis dengan Kepolisian Daerah (Polda) Aceh dalam menghadapi persoalan narkoba sekaligus menjaga keberlangsungan perdamaian di Bumi Serambi Mekkah.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara pengurus AMSI Aceh dan Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H. yang berlangsung di ruang kerja Kapolda Aceh, Selasa (1/9/2026) siang.

Pertemuan berlangsung dalam suasana bersahaja dan penuh keakraban. Dialog antara jajaran Polda Aceh dan AMSI Aceh membahas sejumlah persoalan strategis daerah, terutama ancaman peredaran narkoba yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi merusak masa depan generasi Aceh.

Pada kesempatan tersebut, AMSI Aceh juga menganugerahkan piagam penghargaan kepada Irjen Pol. Ruddi Setiawan sebagai “Tokoh Humanis Pemelihara Kamtibmas dan Mitra Strategis Perusahaan Media”.


Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, kepemimpinan humanis, serta komitmen Kapolda Aceh dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menjaga perdamaian Aceh, sekaligus membangun kemitraan strategis dengan perusahaan media.

AMSI Aceh menilai pendekatan humanis dan keterbukaan komunikasi yang diperlihatkan Ruddi Setiawan menjadi modal penting dalam memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Kemitraan yang sehat antara kepolisian dan media juga dibutuhkan untuk memastikan informasi yang akurat, edukatif dan berimbang dapat diterima masyarakat.

Dalam dialog tersebut, Ruddi Setiawan menegaskan perang melawan narkoba tidak dapat dibebankan hanya kepada kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional (BNN). Persoalan itu membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, keluarga, pelaku usaha hingga media massa.

“Narkoba bukan hanya persoalan penegakan hukum, tetapi juga menyangkut masa depan generasi Aceh. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara bersama-sama, serius, konsisten dan tanpa terkecuali. Saya sendiri siap terlibat dan berjalan bersama seluruh elemen masyarakat,” kata Ruddi.

Menurutnya, penanggulangan narkoba harus dilakukan melalui penegakan hukum yang tegas sekaligus pencegahan yang menyentuh akar persoalan. Aparat penegak hukum harus mempersempit ruang gerak bandar dan jaringan pengedar, sedangkan masyarakat perlu diperkuat agar tidak mudah menjadi korban maupun terlibat dalam peredaran barang terlarang tersebut.

Kapolda Aceh menilai penguatan nilai agama dan ketahanan keluarga menjadi benteng utama dalam melindungi generasi muda. Pendidikan agama tidak cukup hanya disampaikan sebagai pengetahuan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, lingkungan pergaulan dan pengawasan bersama.

“Kesadaran harus tumbuh dari dalam diri, keluarga dan lingkungan. Agama harus menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Jika keluarga kuat, lingkungan peduli dan masyarakat berani menolak narkoba, maka ruang gerak para pengedar akan semakin sempit,” ujarnya.

Selain penguatan nilai agama, Ruddi juga menyoroti pentingnya membuka lapangan kerja dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Kondisi ekonomi yang lemah, pengangguran serta minimnya kesempatan kerja dinilai dapat menjadi celah bagi jaringan narkoba untuk merekrut masyarakat, terutama kalangan muda.

Karena itu, ia mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan kegiatan ekonomi produktif, memperluas pelatihan keterampilan dan menyediakan ruang kreatif bagi generasi muda.

“Penindakan tetap penting, tetapi pencegahan juga harus menyentuh akar persoalan. Anak-anak muda perlu diberikan harapan, kesempatan bekerja dan ruang untuk berkembang. Kemandirian ekonomi merupakan salah satu benteng agar masyarakat tidak mudah tergoda masuk ke dalam jaringan narkoba,” tegasnya.

Selain membahas persoalan narkoba, Kapolda Aceh menekankan pentingnya partisipasi seluruh pihak dalam menjaga perdamaian. Menurutnya, perdamaian yang telah berlangsung lebih dari dua dekade merupakan modal sosial dan politik yang sangat berharga serta tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang selesai dengan sendirinya.

Perdamaian, kata Ruddi, harus terus dirawat melalui komunikasi, dialog dan sikap saling menghormati. Perbedaan pandangan tidak boleh berkembang menjadi sumber perpecahan maupun mengganggu stabilitas daerah.

“Perdamaian Aceh adalah milik seluruh masyarakat. Menjaganya bukan hanya tugas TNI dan Polri, tetapi tanggung jawab kita bersama. Setiap persoalan harus diselesaikan melalui dialog, komunikasi dan cara-cara yang bermartabat,” ungkapnya.



Ia mengingatkan bahwa suasana aman dan damai merupakan prasyarat utama bagi pembangunan, investasi, pendidikan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tanpa stabilitas keamanan, berbagai agenda pembangunan Aceh akan sulit berjalan secara maksimal.

Dalam pertemuan itu, Ruddi turut mengajak AMSI Aceh menjadi mitra Polda Aceh dalam memaksimalkan fungsi dan peran kepolisian. Media siber dinilai memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi yang benar, memberikan edukasi, menangkal disinformasi serta membangun kesadaran publik mengenai bahaya narkoba dan pentingnya menjaga perdamaian.

“Kami membutuhkan dukungan media dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Kritik yang konstruktif juga penting sebagai bahan evaluasi agar pelayanan kepolisian semakin baik. Kemitraan ini harus diarahkan untuk kepentingan masyarakat dan kemajuan Aceh,” katanya.

Delegasi AMSI Aceh yang hadir dalam pertemuan tersebut terdiri atas Ketua AMSI Aceh Aryos Nivada bersama Hendra Vramenia, Muzakir dan Uzair.

Sementara dari jajaran pimpinan Polda Aceh, selain Kapolda, turut hadir Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo; Direktur Intelijen dan Keamanan Kombes Pol. Said Anna Fauza, S.I.K., M.M., M.H.; Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Pol. Wahyudi, S.I.K., M.H.; serta Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Aceh AKBP M. Nuzir.

AMSI Aceh menyambut baik ajakan kemitraan tersebut. Kolaborasi antara kepolisian dan perusahaan media diharapkan dapat memperkuat keterbukaan informasi publik, meningkatkan literasi masyarakat serta menghadirkan pemberitaan yang mendidik tanpa mengabaikan sikap kritis dan independensi pers.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara Polda Aceh dan AMSI Aceh dalam menghadapi berbagai persoalan keamanan, sosial dan kemasyarakatan. Kedua pihak memiliki semangat yang sama bahwa upaya menyelamatkan generasi muda dari narkoba dan menjaga perdamaian harus dilaksanakan secara konsisten, kolaboratif dan berkelanjutan.

Share berita ini

dialeksis.com