RPA Bangun Community Center untuk Warga Terdampak Banjir di Beutong Ateuh Banggalang

DIALEKSIS.COM | Suka Makmue - Setelah banjir besar menghanyutkan dua desa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, puluhan keluarga harus meninggalkan permukiman lama dan memulai kembali kehidupan di lokasi baru. Di tengah keterbatasan fasilitas dasar, Rumoh Pangan Aceh (RPA) bersama Jan Vink Stichting dari Belanda menginisiasi pembangunan Community Center untuk mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak bencana.

Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Kuta Tengoh. Banjir membuat masyarakat harus mencari lokasi baru untuk membangun kembali tempat tinggal mereka. Salah satu kawasan yang kemudian menjadi tempat bermukim warga merupakan areal perkebunan yang sebelumnya bukan kawasan permukiman.

Di salah satu dusun di kawasan tersebut, sekitar 45 kepala keluarga atau hampir 200 jiwa kini tinggal dan membangun kehidupan baru. Kondisi permukiman masih jauh dari lengkap. Tidak terdapat bangunan permanen yang dapat digunakan sebagai fasilitas bersama masyarakat.

Pada masa tanggap darurat hingga beberapa bulan setelah banjir, masyarakat bahkan masih bertahan di tenda-tenda darurat. Saat dilakukan survei oleh Rumoh Pangan Aceh pada September 2026, sebagian masyarakat telah menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun di kawasan permukiman baru tersebut.

Namun, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal. Mereka juga membutuhkan ruang bersama untuk beraktivitas, berkumpul, melakukan kegiatan sosial, serta membangun kembali kehidupan komunitas setelah kehilangan lingkungan tempat tinggal sebelumnya.

Melihat kondisi tersebut, Rumoh Pangan Aceh menginisiasi pembangunan Community Center sebagai salah satu fasilitas awal bagi masyarakat di kawasan permukiman baru.

Community Center tersebut dirancang sebagai ruang bersama yang dapat digunakan untuk pertemuan warga, kegiatan sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kegiatan anak-anak, serta aktivitas komunitas lainnya. Bangunan ini juga dilengkapi dengan toilet untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Founder dan Executive Director Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi, mengatakan pembangunan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat melewati fase pemulihan pascabencana.

“Bagi kami, pemulihan masyarakat tidak berhenti ketika masa tanggap darurat selesai. Ketika masyarakat sudah mulai membangun rumah kembali, mereka juga membutuhkan ruang untuk berkumpul, berinteraksi dan membangun kembali kehidupan komunitasnya. Karena itu, Community Center ini kami harapkan menjadi salah satu ruang awal bagi masyarakat untuk memulai kehidupan baru setelah kehilangan kampung mereka,” ujar Rivan.

Menurut Rivan, keberadaan toilet juga menjadi bagian penting dari pembangunan karena masyarakat di lokasi baru masih menghadapi keterbatasan fasilitas dasar.

“Kami ingin fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat pertemuan, tetapi juga mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan adanya toilet, masyarakat memiliki fasilitas dasar yang dapat digunakan bersama. Ke depan, kami berharap kebutuhan lain seperti air bersih, sanitasi, fasilitas umum, penghidupan dan ketahanan pangan juga dapat dikembangkan secara bertahap,” katanya.

Pembangunan Community Center ini diinisiasi oleh Rumoh Pangan Aceh dengan dukungan Jan Vink Stichting, sebuah organisasi nonpemerintah dari Belanda yang memberikan dukungan terhadap berbagai inisiatif kemanusiaan dan pembangunan masyarakat.

Dukungan tersebut memungkinkan pembangunan fasilitas komunitas di lokasi yang baru ditempati masyarakat setelah bencana. Bagi RPA, kolaborasi ini menunjukkan pentingnya dukungan jangka menengah dan panjang bagi masyarakat terdampak bencana, bukan hanya bantuan pada saat keadaan darurat.

RPA berharap Community Center dapat menjadi bagian dari fondasi terbentuknya permukiman baru yang lebih kuat dan memiliki ruang bersama bagi masyarakat.

“Harapan kami sederhana, masyarakat di sini tidak hanya memiliki tempat untuk tinggal, tetapi juga memiliki tempat untuk tumbuh sebagai sebuah komunitas. Mereka kehilangan kampung akibat bencana, sehingga sekarang mereka sedang membangun kehidupan dari awal. Community Center ini mudah-mudahan menjadi ruang untuk memperkuat gotong royong, pendidikan, kegiatan sosial dan berbagai inisiatif masyarakat ke depan,” ujar Rivan.

Perjalanan masyarakat Kuta Tengoh menggambarkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan waktu yang panjang. Setelah kehilangan rumah dan lingkungan tempat tinggal, masyarakat harus mencari lokasi baru, membangun kembali tempat tinggal, serta menata kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

Kawasan yang sebelumnya merupakan areal perkebunan kini perlahan berubah menjadi permukiman baru. Dari tenda darurat, masyarakat mulai berpindah ke huntara dan secara bertahap membangun kehidupan mereka kembali.

Rumoh Pangan Aceh berharap pembangunan Community Center dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mendukung proses tersebut. RPA juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung kebutuhan masyarakat di kawasan baru, termasuk pengembangan fasilitas dasar, ketahanan pangan, mata pencaharian dan pemberdayaan masyarakat.

“Yang kami bangun bukan hanya gedungnya. Yang lebih penting adalah ruang bagi masyarakat untuk kembali berkumpul, berkolaborasi dan merencanakan masa depan mereka bersama. Kami berharap Community Center ini bisa menjadi bagian kecil dari proses panjang masyarakat Kuta Tengoh untuk bangkit dan membangun kampung baru mereka,” tutup Rivan. [*]

Share berita ini

dialeksis.com