DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kemampuan berbicara di depan publik atau public speaking semakin penting dikuasai generasi muda di tengah ketatnya persaingan pendidikan, dunia kerja, organisasi, politik, hingga industri kreatif.
Tokoh muda Aceh, Rahmat Razi Aulia atau dikenal sebagai MC Razi, mengatakan kecerdasan dan penguasaan ilmu saja belum cukup apabila seseorang tidak mampu menyampaikan gagasannya secara jelas, menarik, dan meyakinkan.
“Banyak anak muda memiliki ide besar, tetapi kesulitan menjelaskannya. Akibatnya, gagasan yang sebenarnya bagus kalah oleh gagasan biasa yang disampaikan dengan lebih terstruktur dan percaya diri,” kata MC Razi saat dimintai tanggapan oleh Dialeksis.
Mantan bakal calon anggota DPD RI yang kini menjadi staf ahli anggota DPD RI itu menjelaskan, public speaking bukan sekadar kemampuan menjadi pembawa acara atau berbicara di atas panggung. Keterampilan tersebut juga mencakup kemampuan menyusun pikiran, membaca situasi, membangun argumentasi, mendengarkan orang lain, dan menyampaikan pesan sesuai karakter audiens.
Menurutnya, hampir seluruh bidang kehidupan saat ini membutuhkan kemampuan komunikasi. Seorang mahasiswa harus mampu mempresentasikan hasil pemikirannya, pencari kerja perlu meyakinkan pewawancara, pengusaha muda harus dapat menawarkan produk, sedangkan aktivis dan pemimpin organisasi dituntut sanggup menggerakkan orang melalui gagasan.
“Dunia hari ini tidak hanya mencari orang yang tahu banyak, tetapi juga orang yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi pesan yang mudah dipahami. Kemampuan berbicara adalah jembatan antara isi kepala dan kepercayaan orang lain,” ujarnya.
MC Razi menilai perkembangan media sosial juga membuka ruang yang sangat luas bagi anak muda untuk menunjukkan kemampuan dan memperjuangkan gagasan. Namun, ruang digital tersebut harus digunakan secara cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab.
Ia mengingatkan agar kemampuan berbicara tidak digunakan untuk membangun popularitas semata. Komunikasi yang baik harus disertai pengetahuan, etika, kejujuran, serta kesediaan menghargai perbedaan pandangan.
“Berani berbicara bukan berarti harus mendominasi percakapan. Pembicara yang baik juga harus menjadi pendengar yang baik. Ia memahami kapan harus bersuara, kapan perlu mendengar, dan bagaimana menyampaikan kritik tanpa merendahkan orang lain,” tuturnya.
Menurut MC Razi, rasa gugup merupakan persoalan yang wajar dialami seseorang ketika mulai berbicara di depan publik. Kepercayaan diri tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan mengevaluasi diri.
Anak muda, kata dia, dapat memulainya dari ruang sederhana, seperti aktif berdiskusi di kelas, menyampaikan pendapat dalam organisasi, menjadi moderator, mengikuti forum debat, membuat konten edukatif, maupun menjadi pembawa acara dalam kegiatan sosial.
“Jangan menunggu percaya diri untuk mulai berbicara. Mulailah berbicara, maka kepercayaan diri akan tumbuh. Kesalahan saat belajar bukan sesuatu yang memalukan, tetapi bagian dari proses menemukan karakter dan kekuatan diri,” katanya.
Ia juga mendorong lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan pemerintah daerah agar menyediakan lebih banyak ruang pelatihan komunikasi bagi generasi muda Aceh. Kemampuan tersebut dinilai dapat membantu melahirkan anak-anak muda yang berani membawa potensi daerah ke tingkat nasional maupun internasional.
MC Razi meyakini Aceh memiliki banyak generasi muda cerdas dan berbakat. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu diberi panggung, dilatih, dan diarahkan agar mampu menghasilkan gagasan serta karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Anak muda Aceh jangan hanya menjadi penonton dalam perubahan. Mereka harus berani mengambil peran, menyampaikan gagasan, menawarkan solusi, dan menunjukkan kualitasnya. Suara yang disertai ilmu, etika, dan keberanian dapat menjadi kekuatan untuk menggerakkan perubahan,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda tidak memandang public speaking sebagai bakat bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang. Kemampuan tersebut dapat dipelajari oleh siapa saja selama memiliki keberanian untuk berlatih dan terbuka terhadap kritik.
“Setiap anak muda mempunyai cerita, pengalaman, dan gagasan yang berharga. Jangan biarkan semuanya berhenti di dalam pikiran. Belajarlah menyampaikannya dengan baik, karena boleh jadi satu kalimat yang kita ucapkan mampu menyalakan semangat dan mengubah kehidupan orang lain,” pungkas MC Razi.
Share berita ini