Lepas Status PNS, Mereka Sukses Jadi Juragan

DIALEKSIS.COM | Nasional - Jumariyanto memilih mengakhiri kariernya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Wonogiri pada 2019. Ia kemudian memusatkan perhatian pada Regarsport, usaha pakaian olahraga yang dirintisnya. Dalam wawancara dengan detikFinance pada 31 Mei 2023, ia menyebut omzet bisnisnya telah mencapai sekitar Rp10 miliar per bulan. 

Perjalanan menuju usaha sebesar itu bermula dari perdagangan perlengkapan olahraga. Menurut laporan Bisnis.com pada 9 Mei 2019, Jumariyanto menjadi penjual kembali atau reseller sejak 2012. Ia melihat peluang dari kebutuhan penggemar voli, termasuk mereka yang bertanding dalam turnamen antarkampung.

Pada 2014, ia mulai menerima pesanan jersey dari ruang kecil di rumahnya. Usaha tersebut berkembang dengan perubahan teknik produksi: dari sablon menuju pencetakan jersey pada 2016. Pasarnya pun meluas melampaui pakaian voli. 

Untuk membeli mesin jahit, Jumariyanto menggadaikan sepeda motor. Ia menjalankan sistem pemesanan di muka, dengan uang muka pelanggan digunakan untuk membiayai produksi. Enam bulan kemudian, sepeda motor itu berhasil ditebus kembali.

“Saya masih ingat dulu untuk membeli mesin jahit, saya cuma menggadaikan sepeda motor Megapro,” tuturnya kepada detikFinance. 

Pertumbuhannya tercermin dalam angka penjualan. Seperti dilansir Antara pada 3 Mei 2019 melaporkan keterangan Jumariyanto bahwa omzet Regarsport meningkat dari sekitar Rp360 juta pada 2014 menjadi Rp1,2 miliar pada 2015, kemudian Rp16 miliar pada 2017 dan Rp36 miliar pada 2018. Saat laporan itu terbit, perusahaan disebut menaungi sekitar 550 karyawan. 

Ketika usaha semakin besar, tanggung jawab mengurus pekerja ikut bertambah. Bisnis.com mencatat alumnus Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri itu resmi mundur sebagai ASN per 1 Februari 2019. Dengan demikian, keputusan meninggalkan birokrasi diambil setelah bisnisnya berjalan beberapa tahun. 

Dalam wawancara 2023 tersebut, Jumariyanto menyebut penjualan sepanjang 2019 mencapai Rp50 miliar dan naik menjadi Rp110 miliar pada 2020. Perusahaan juga dilaporkan mempekerjakan sekitar 1.000 orang, dari bagian manajemen, desain, hingga penjahitan. 

Keberhasilan usahanya turut tercermin dalam kepemilikan kendaraan. Laporan iNews pada 28 Februari 2023 menyebut sejumlah mobil milik Jumariyanto, antara lain BMW 740Li, Toyota Alphard, dan Range Rover. Meski demikian, omzet perusahaan merupakan nilai penjualan, sehingga tidak dapat disamakan dengan laba bersih ataupun jumlah kekayaan pribadi pemiliknya. 

Kisah beralih profesi juga dijalani Hariono. Setelah 12 tahun menjadi PNS di Dinas Pengawasan Pembangunan Kota, Pemerintah DKI Jakarta, ia memilih menekuni dunia usaha. Laporan detikFinance pada 30 Oktober 2015 menggambarkan bisnisnya telah merambah restoran, jasa pijat, salon, bimbingan belajar, hingga konsultan teknik.

Hariono memulai bisnis restoran Jepang setelah melihat peluang di Anyer, Banten. Ia mengaku tidak memiliki kemampuan memasak masakan Jepang ketika memulai usaha tersebut. Namun, peluang pasar mendorongnya belajar membangun bisnis.

Pada 2015, dua jaringan restoran Jepangnya, Midori dan Haikara, dilaporkan memiliki total 15 cabang. Ia juga mengembangkan Griya Pijat Bersih Sehat, bimbingan belajar VISI, serta usaha lainnya. 

“Padahal saya mati-matian bangun bisnis,” kata Hariono dalam acara Tanoto Entrepreneurship Series di Universitas Indonesia, sebagaimana dikutip detikFinance. Ia menanggapi anggapan bahwa keberaniannya keluar dari PNS ditopang latar belakang keluarga kaya.

Hariono saat itu menyebut omzet restoran Jepangnya mencapai Rp5 miliar. Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan apakah angka itu dihitung per bulan atau per tahun. 

Di bidang kuliner, Sonny Arca Adryanto menempuh jalan serupa melalui Martabak Pizza Orins. Menurut laporan iNews pada 12 Februari 2023, ia meninggalkan pekerjaan di Kementerian Keuangan setelah 16 tahun menjadi PNS. Ketika mengajukan pengunduran diri, bisnis martabaknya sudah memiliki 10 gerai.

Sonny sebelumnya pernah mencoba usaha jamur krispi, tetapi bisnis itu tidak bertahan lama. Pengalaman tersebut memberinya pelajaran mengenai keterbatasan usaha yang hanya mengandalkan tren sesaat. 

Perkembangan Orins kemudian dicatat Sekolah Bisnis IPB University. Dalam laporan kegiatan bertanggal 10 Februari 2023, kampus tersebut merangkum paparan Sonny bahwa usahanya telah berkembang menjadi sekitar 113 cabang di Jabodetabek dan sejumlah kota lain.

Layanan pesan antar melalui platform digital membantu Orins mengatasi keterbatasan armada pengiriman sekaligus memperluas penjualan. Dalam forum itu, Sonny menekankan pentingnya efisiensi, penguatan berbagai saluran penjualan, dan pengelolaan arus kas. 

Dari ketiga riwayat tersebut, terlihat pola perpindahan profesi yang bertahap. Mereka lebih dahulu membangun usaha, menghadapi persoalan produksi atau pelayanan, dan menemukan pelanggan sebelum memusatkan pekerjaan di sektor swasta. Keberanian mengambil keputusan berjalan bersama pengalaman mengelola bisnis.

Jumariyanto menemukan peluang pada jersey olahraga, Hariono mengembangkan beragam layanan, sedangkan Sonny memperbesar usaha martabak dengan dukungan teknologi. Riwayat mereka memperlihatkan bagaimana pengalaman bekerja dapat dilanjutkan menjadi perjalanan kewirausahaan yang menghasilkan pendapatan besar dan membuka pekerjaan bagi orang lain.[red]

Share berita ini

dialeksis.com