DIALEKSIS.COM | Nasional - Mengganti kopi kafe dengan kopi saset, memilih produk lebih murah, dan menunda belanja menjadi gambaran penyesuaian gaya hidup kelas menengah. Fenomena downgrade lifedata-style ini dinilai sebagai upaya keluarga menghadapi tekanan ekonomi.
Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan strategi koping, yakni cara keluarga beradaptasi agar tetap bertahan.
“Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” ujarnya dalam keterangan di laman IPB University, Jumat (30/10/2026).
Menurut Megawati, pendapatan yang sulit bertambah, kenaikan harga kebutuhan, dan beban cicilan mempersempit keleluasaan belanja keluarga. Kekhawatiran kehilangan pekerjaan juga mendorong masyarakat menyisihkan uang untuk berjaga-jaga.
Meski tampak serupa, penghematan perlu dibaca dari penyebabnya. Jika lahir dari kesadaran mengatur keuangan, langkah itu dapat mengurangi belanja demi gengsi. Namun, jika terpaksa dilakukan karena kemampuan keuangan melemah, kondisinya patut mendapat perhatian.
Pandangan senada disampaikan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho. Dalam keterangan tertulis UGM pada 7 Oktober 2026, ia menjelaskan bahwa rumah tangga berupaya mempertahankan kebutuhan pangan, kesehatan, dan pendidikan dengan memangkas pengeluaran yang lebih fleksibel.
Dalam ekonomi, pola itu dikenal sebagai consumption smoothing, yaitu upaya menjaga konsumsi utama tetap stabil ketika pendapatan tertekan atau tidak pasti.
Pendapatan nominal yang tetap tidak selalu berarti kemampuan belanja terjaga. Menurut Wisnu, kenaikan harga pangan, pendidikan, dan energi dapat menggerus daya beli, sementara kekhawatiran terhadap pekerjaan membuat keluarga semakin berhati-hati menggunakan uang.
“Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” katanya.
Wisnu mengingatkan, penyesuaian konsumsi tidak selalu menandakan kemerosotan kesejahteraan. Kebutuhan dapat berubah saat seseorang pensiun atau anaknya telah mandiri. Yang perlu diwaspadai ialah ketika keluarga usia produktif harus menurunkan kualitas konsumsi karena anggarannya terbatas.
Jika berlangsung lama, pembatasan belanja berisiko menekan perdagangan dan jasa. Pelaku usaha dapat menunda perluasan bisnis maupun perekrutan pekerja. Tekanannya menjadi lebih serius ketika keluarga mulai menjual aset atau berutang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Meski demikian, Megawati menilai peralihan ke produk terjangkau bisa membuka peluang bagi usaha lokal. Pemulihan daya beli dan kesempatan kerja menjadi kunci agar penyederhanaan gaya hidup lahir dari pilihan sadar, bukan karena keterpaksaan
Share berita ini