Indonesia Paling Pagi Bangun Tidur di Asia, Tapi Bagaimana Kualitas Tidurnya?

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Masyarakat Indonesia ternyata termasuk kelompok yang paling awal memulai aktivitas pagi dibandingkan penduduk negara-negara Asia lainnya. Rata-rata orang Indonesia bangun tidur pukul 06.55 waktu setempat, lebih cepat dibandingkan masyarakat Jepang, Thailand, Singapura, hingga Malaysia.

Temuan tersebut tercantum dalam data World Population Review mengenai rata-rata waktu bangun tidur penduduk di berbagai negara. Hingga Oktober 2026, publikasi tersebut masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan rata-rata waktu bangun paling pagi di antara negara-negara Asia yang tercakup dalam daftar.

Di tingkat dunia, Indonesia berada pada urutan keempat. Tiga negara yang memiliki rata-rata waktu bangun lebih awal adalah Afrika Selatan pada pukul 06.24, Kolombia pukul 06.31, dan Kosta Rika pukul 06.38.

Sementara di kawasan Asia, Jepang menempati posisi berikutnya dengan rata-rata waktu bangun pukul 07.09. Disusul Thailand pukul 07.24, Filipina pukul 07.28, Qatar pukul 07.32, India pukul 07.36, Korea Selatan dan Singapura masing-masing pukul 07.38, Malaysia pukul 07.41, serta China pukul 07.42.

Meski masih ditampilkan dalam publikasi World Population Review yang berjudul Average Wake-Up Time by Country 2026, angka tersebut telah beredar dalam publikasi sejak beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, pemeringkatan tersebut perlu dibaca sebagai gambaran kebiasaan tidur berdasarkan data yang tersedia, bukan hasil survei baru yang secara khusus mengukur seluruh penduduk Indonesia pada 2026.

Kebiasaan bangun pagi masyarakat Indonesia dapat berkaitan dengan beragam faktor, mulai dari aktivitas pekerjaan, pendidikan, kondisi geografis, hingga kebiasaan sosial dan keagamaan.

Di sejumlah daerah, aktivitas ekonomi bahkan telah dimulai sebelum matahari terbit. Pedagang pasar tradisional, nelayan, petani, dan pekerja sektor informal merupakan contoh kelompok masyarakat yang memiliki tuntutan memulai kegiatan sejak dini hari.

Kebiasaan menjalankan ibadah Subuh juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi rutinitas pagi sebagian masyarakat Indonesia, meskipun pengaruh masing-masing faktor tersebut tidak dapat disimpulkan hanya dari data rata-rata waktu bangun tidur.

Namun, di balik catatan sebagai masyarakat yang bangun paling pagi di Asia, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah menarik: apakah orang Indonesia juga memperoleh waktu tidur yang cukup?


Survei Ungkap Kebiasaan Tidur Orang Indonesia

Gambaran mengenai durasi tidur masyarakat pernah diungkap Katadata Insight Center melalui survei Kurious yang dilaksanakan pada 26 Juni hingga 7 Juli 2023.

Dari 875 responden yang mengikuti survei tersebut, sebanyak 46,2 persen mengaku tidur selama empat hingga enam jam setiap malam. Sementara 34,9 persen tidur selama enam hingga delapan jam, dan 14,4 persen hanya tidur selama dua hingga empat jam.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sebagian responden memiliki durasi istirahat yang relatif singkat dibandingkan kebutuhan tidur ideal orang dewasa.

Gambaran berbeda muncul melalui IKEA Sleep Report 2025, yang melibatkan 55.221 responden dari 57 negara dan pasar.

Dalam penelitian itu, Indonesia justru memperoleh skor kualitas tidur sebesar 71 dari skala 100, menempati posisi kedua di antara wilayah yang disurvei setelah China daratan dengan skor 74. Rata-rata skor global tercatat sebesar 63.

Perbedaan temuan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan durasi tidur dengan kualitas tidur. Keduanya juga berasal dari survei dengan metode, periode, dan kelompok responden berbeda sehingga tidak dapat diperbandingkan secara langsung.

Secara global, IKEA menemukan rata-rata masyarakat tidur selama enam jam 40 menit setiap malam, sedangkan waktu tidur yang mereka inginkan mendekati delapan jam. Artinya, terdapat kesenjangan sekitar satu jam 20 menit antara waktu istirahat yang diharapkan dan yang benar-benar diperoleh.

Data 2026: Hampir Separuh Responden Ingin Memperbaiki Tidur

Perhatian masyarakat Indonesia terhadap kualitas istirahat juga tercermin dalam survei terbaru Herbalife APAC Wellness Culture Survey 2026.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 10 ribu responden di 11 negara dan wilayah Asia Pasifik, termasuk 1.002 responden Indonesia, menemukan bahwa 49 persen responden Indonesia ingin meningkatkan kualitas tidurnya.

Angka tersebut hanya sedikit di bawah keinginan memperbaiki kualitas nutrisi dan pola makan yang mencapai 50 persen. Sementara 46 persen responden ingin meningkatkan kesehatan mental.

Survei yang dipublikasikan pada Agustus 2026 itu juga mencatat 91 persen responden Indonesia menganggap kesehatan fisik, mental, dan emosional secara menyeluruh sebagai sesuatu yang sangat penting.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap kesehatan kini tidak hanya menyangkut makanan dan aktivitas fisik, tetapi juga kebutuhan istirahat serta keseimbangan mental.


Bangun Pagi Belum Tentu Sehat

Dari perspektif kesehatan, bangun lebih pagi tidak selalu berarti seseorang memiliki pola tidur yang lebih baik.

Kementerian Kesehatan melalui edukasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada Maret 2026 menjelaskan bahwa orang dewasa berusia 18–64 tahun dianjurkan tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Sementara kelompok usia 65 tahun ke atas membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan jam.

Dokter spesialis neurologi dr. Asnelia Devicaesaria, SpN, Subsp. NGD(K), dalam edukasi tersebut menjelaskan pentingnya tidur bagi pemulihan fungsi otak, penguatan daya ingat, pengaturan emosi, dan kemampuan berkonsentrasi.

Tidur yang sehat juga ditentukan oleh kontinuitas istirahat, minimnya gangguan sepanjang malam, serta kondisi tubuh yang kembali segar ketika bangun.

Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat menjaga jadwal tidur yang konsisten, membatasi konsumsi kafein menjelang malam, menciptakan lingkungan kamar yang nyaman, dan mengurangi paparan layar perangkat elektronik sebelum tidur.

Dengan demikian, predikat Indonesia sebagai negara dengan rata-rata waktu bangun paling pagi di Asia tidak otomatis membuktikan bahwa masyarakatnya paling sehat, paling produktif, ataupun memiliki kualitas istirahat terbaik.

Justru tantangan yang semakin penting adalah memastikan aktivitas pagi tidak harus dibayar dengan kekurangan waktu tidur.

Sebab, bangun lebih awal dapat menjadi kebiasaan yang bermanfaat apabila diimbangi waktu istirahat yang memadai. Sebaliknya, kebiasaan tidur terlalu larut dan bangun terlalu pagi secara terus-menerus dapat mengganggu kesehatan serta kemampuan beraktivitas.

Indonesia boleh tercatat sebagai salah satu negara yang paling cepat menyambut pagi. Namun, ukuran kehidupan yang sehat bukan semata-mata seberapa awal seseorang membuka mata, melainkan seberapa baik tubuh dan pikirannya memperoleh kesempatan untuk beristirahat.

Share berita ini

dialeksis.com